Selasa, 23 Juni 2020

Ekasila Bom Waktu Seratus Tahun Kesunyian



Saya tidak terlalu ingin membahas Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang santer dibicarakan. Rancangan Undang-Undang (RUU) yang konon diinisiasi oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut banyak mendapatkan penolakan dan juga nyinyiran di media sosial. Setelah diserang dengan berbagai tuduhan, pihak PDIP memberikan keterangan bahwa mereka bukan dalang dibalik itu semua. Naasnya, pihak oposisi menyimpan rapi semacam bukti penguat bahwa PDIP sebagai dalang RUU tersebut.


Walaupun dalam majalah Tempo (20/06) PDIP gencar melakukan lobi-lobi agar RUU tersebut gol. Bagi orang suka kericuhan seperti saya lebih berharap ada dinamika perdebatan antara pihak yang sepakat dan tidak. Sayangnya, saat tema ini menghiasi Twitter, tidak ada pendengung yang mencoba menetralisir argumentasi penolakan. Padahal jika itu terjadi akan lebih seru, selain suka kerusuhan, siapa tahu ada sudut pandang yang luput dari pemikiran saya.


Terlepas dari sepakat atau tidak, saya menghabiskan sekitar 30 menit beol sambil jongkok di wc duduk dan memikirkan peleburan Pancasila menjadi Ekasila, gotong-royong jelasnya.  Selama itu yang membuat kaki kram dan sulit berdiri, tahu apa yang saya temukan? Jangan kaget kalau saya tidak menemukan apa-apa.


Tapi jujur perkara ini cukup mengganggu pikiran saya. Banyak spekulasi bermunculan terkait haluan yang dimotori oleh PDIP. Seperti jargon Pancasila sudah final dan lain-lain nampaknya akan runtuh. Sedangkan kita tahu bersama bahwa Pancasila adalah fundamental bangsa, jika goyah maka stabilitas bangsa dipertaruhkan.


Perihal fundamental coba kita uraikan layaknya sholat. Ada dua hadits untuk memahaminya; pertama bahwa sholat adalah doa, sedangkan doa adalah otak dari ibadah. Jika dua hadits tersebut dikomparasikan maka akan menjadi sintesis bahwa sholat adalah otak dari ibadah, atau inti dari ibadah. Silogisme sederhananya masih banyak penguatan seperti bahwa sholat adalah tiang bagi orang yang beragama. Lantas, bagaimana jadinya sholat  sekarang dijadikan satu waktu saja? Tentu menyalahi syariat.


Begitupun Pancasila, hemat saya masih tidak bisa dilakukan peleburan menjadi satu hal saja. Walaupun mungkin maksud dari PDIP adalah baik tentang mencari nilai dasar dan murni dari Pancasila. Namun hal itu tidak bisa dipaksakan di bangsa yang multikultural seperti Indonesia. Tentu selain Pancasila pemersatu keberagaman, saya lupa kapan tepatnya bangsa Indonesia pernah berkhianat tentang Trisila ataupun Ekasila. Saya kira tidak pernah.


Sekarang seperti ini, saya tadi mengurutkan implementasi gotong-royong misalnya sampai pada tingkat paling kecil. Dalam orientasi sebuah negara, tentu rakyat paling penting, kan? Begitupun konstitusi mengakui bahwa kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Kemudian dalam rakyat tidak bisa dipungkiri manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari manusia lainnya, di sana ada manifestasi nilai dari gotong-royong. Kemudian saya naikan ke tingkat suami istri, dalam hubungan mereka agar ada penerus pemegang kedaulatan (perngencukan), harus ada gotong royong di sana. Suami istri harus saling andil untuk tercapainya keadilan.


Berangkat dari sana, bahwa manifestasi nilai Pancasila sudah melebur dalam masyarakat, yang tentu tidak perlu dibuatkan pasal-pasal lagi. Kecuali ada maksud lain dari RUU tersebut.


Syahdan, tidak menafikan bahwa gotong-royong bisa menjadi terapan dari setiap pasal dalam Pancasila. Walaupun dalam pasal pertama nanti jatuhnya adalah penerapan nilai dari agama dan menjadikan negara semi sekuler. Jujur, saya sedikit menemukan kesulitan terapan gotong-royong pada pasal pertama, selebihnya hanya perlu penguatan langkah teknis saja. Namun, hemat saya peleburan menjadi gotong-royong belum pas waktunya. Siapa tahu di masa mendatang bisa relevan untuk diterapkan.


Masih terkait gotong-royong, Emha Ainun Najib pernah mengatakan bahwa semut adalah roh dan jati diri bangsa. Saling menyapa satu sama lain dan bergotong-royong adalah tabiat semut. Saya tidak menolak argumentasi dari Emha jika orientasinya adalah kehidupan bernegara. Namun, jika ditarik dalam perspektif individu saya lebih suka hewan lain daripada semut, anjing misalnya. Pasalnya, hanya semut nampaknya yang mengumpulkan makanan untuk hari esok.


Kekhawatiran saya jika ini besok relevan, saya kira sulit rasanya menikmati pencarian bersama. Begini, mencari makan bersama untuk bangsa bisa saja, namun untuk menikmatinya saya masih trauma dengan politikus. Saya lupa kapan mereka dapat dipercaya.


Pada 30 menit saya tadi saya memikirkan lebih jauh. Kebetulan hari lalu adalah peringatan berakhirnya pertempuran Okinawa berakhir sekaligus selesainya perdebatan peran Islam dalam konstitusi Indonesia yang lebih dikenal dengan Piagam Jakarta.


Perhitungan dan spekulasi saya, HIP adalah bom waktu yang kurang lebih puncaknya pada 25 tahun mendatang. Banyak hal akan berubah pada waktu itu, mulai dari sosok, hal dasar, kondisi politik, sosial, budaya, ekonomi, dan cara pandang masyarakat. Bagi anda yang ini aneh, saya kira tidak masalah dan wajar saja. Ini hanya spekulasi saya yang muncul ketika buang air besar.


Lagi, saya kira menjadi sangat mungkin era keemasan Indonesia. Ya walaupun, literatur terkuat yang saya tahu bukan dari ilmiahnya. Namun saya tetap percaya, akan ada reformasi besar-besaran yang dimulai dari hal-hal kecil yang luput dari pandangan.


Terkait percaya hal di luar ilmiah, bagi Anda yang mengutuk saya tidak masalah. Memang benar saya selalu mengandalkan logika, tapi pengalaman empirisme lebih saya tekankan. Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Itu kemerdekaan Anda yang tidak ingin saya rebut. Tapi, boleh kita tunggu bersama fenomena yang digaungkan Immanuel Kant, bagaimana fenomena pada seabad Indonesia nantinya.
Walaupun saya lebih semangat dengan Nusantara, sih. Ini rahasia diantara kita, ya.


Sebelum berakhir kita jargon bersama meniru tuan Krab; ketika saya bilang "hip-hip", kalian sorak "hora" ya.


Hip-hip...


Sebentar, tuan Krab si mata duitan berwarna merah bersorak tentang HIP? Apa ini konspirasi? Dah, ah, males.

0 komentar:

Posting Komentar