Jumat, 08 Mei 2020

Teruntuk Teman Saya Yang Banyak Tirakat dan Sedang Risau Akan Akhir Zaman



Akhir-akhir ini teman saya semakin khawatir perihal akhir zaman. Tema pembicaraan yang ia kirimkan pada saya, semakin susah dimengerti. Sudah barang tentu, jika tema itu saya beberkan kepada banyak orang juga  akan mengalami kesulitan mencerna. Karena selain bukan untuk sembarang orang, juga ada fase panjang untuk mencapai makom tersebut.


Hal serupa yang menimpa teman saya ini juga pernah saya alami. Saat telah bangun dari tidur panjang di malam yang teramat gelap. Hanya siluet cahaya mendadak datang yang membangunkan. Setelah kurang lebih empat puluh hari menempuh ritual upgrade diri, pesimisme akan akhir zaman semakin menjadi-jadi.


Kembali pada teman saya yang sudah sejak lama ingin pulang dan mengajak saya untuk bersamanya. Bagi saya, secara definitif, kepulangan yang sejati telah final - kembali ke Yang sejati nan pemilik alam semesta. Dan jalan menuju rumah serta rumah itu sendiri, bagi saya memiliki strata. Walaupun kebanyakan saya selalu bias mengartikannya. Mau bagaimanapun, umpatan dan riuh jalanan adalah sosok yang menjadikan saya sampai sekarang.


Masih begitu saya ingat bagaimana fase pada teman saya ini yang banyak tirakatan. Mulai dari menyalahkan semua orang dan me-sumpah serapahi segala yang tidak bermuara pada Islam - dan hanya percaya pada segelintir orang saja. Saya termasuk orang yang beruntung bisa menjadi orang yang menjadi tempat pembuangannya, apapun itu masalahnya sedikit-banyak akan dibagikan kepada saya.


Bagi jalan ninja saya bukan berdebat mana yang benar dan salah. Untuk itu, bagaimanapun pendapat dari teman saya ini pasti saya terima. Bukan perkara dia teman, tapi setiap orang memiliki penafsiran tersendiri atas persoalan apapun. Malah saya suka jika ada orang yang memiliki pandangan yang tidak diamini oleh kebanyakan orang. Walaupun kami sering berdebat, namun disitulah sisi hangatnya. Toh mau bagaimanapun, manusia hanya bisa menafsirkan saja.


Terkait benar dan salah, adalah mutlak pemilik pembuat segala masalah, adalah dzat pemilik mutlak segalanya baik di langit dan bumi. Sedang manusia yang fana, hanya memiliki peran bagaimana ia melihat, mengamati, menafsirkan, dan membagikan kepada yang lain - sebagai itikad membawa sesama mendekati ke yang lebih benar.


Teruntuk teman saya yang gemar mendapati kebingungan dalam hidupnya. Jadi gini, bukan berarti yang saya pernah tidak bertuhan tidak mempercayai Islam. Saya yakin, bahwa Islam, adalah revisi agama samawi yang pernah diturunkan Tuhan kepada rasul-nya. Berdasarkan kebenaran menurut waktu, agama sebelum Islam pernah menjadi agama paling relevan untuk dijadikan acuan manusia kembali ke Tuhannya.


Kendati demikian, keabsahan agama samawi yang menemui final di titik Islam, saat ini dan untuk akhir zaman adalah yang paling masuk akal. Bagaimanapun kondisinya Islam dengan dua pedoman utama dapat menjawabnya, sedang manusia hanya bisa menafsirkan kembali apa yang pernah dituliskan. Seperti: pembahasan di beberapa kalangan terkait budis menjadi agama masa depan, bahwa Islam, dapat menjawabnya. Mulai dari tujuan Muhammad turun ke bumi untuk memperbaiki tata Krama, sedang maksud dari budis (bukan Budha yang sekarang kita kenal) orientasi utamanya adalah bagaimana tata laku manusia.


Sejujurnya saya tidak memperdulikan di masa datang, karena ketakutan saya adalah yang akan datang. Kembali, pedoman sederhana saya adalah nilai Islam, yang sudah pada taraf minyak pada kelapa, bukan pada sebatas kulit saja. Juga; saya tidak ingin terkungkung atas golongan yang jika saya baik dikatakan kader, sedang ketika tidak saya dikatakan penghianat dan seterusnya.


Teruntuk teman saya yang banyak puasanya. Tentu sampai sini Anda berhak mengecap saya manusia yang buruk atau perusak berdasarkan ayat yang Anda kirim kepada saya. Walaupun tidak Anda lakukan, namun saya tidak akan sakit hati ataupun merasa sebal atas penghinaan tersebut. Saya tegaskan, kepercayaan saya akan Sariat Islam yang berlapis dan final. Contoh kecil, bagaimana cara surga dapat menerima orang yang tidak sombong dan pelit? Adalah puasa yang sebagai syariat dasar manusia.


Selain itu, tentu saya bodoh jika ingin mengimbangi kaliber teman saya. Ibarat strata, saya hanya kawula yang boleh untuk ditendang atau disiksa dengan gaya lainnya. Mulai dari sholat saja saya tidak penuh dan banyak labilnya, sedang teman saya mampu untuk berbulan-bulan menjalani puasa. Saya hanya apa, tukang sapu pinggir jalan yang kena cipratan air hujan ketika ada kendaraan lewat.


Kendati demikian, betapa hinanya saya jika berharap akan surga sebagai salahsatu jalan bertemu dengan Tuhan.  Saya menyebut Tuhan bukan dengan Allah bukan berarti saya tidak mengamini Allah. Hanya saja selain Tuhan tidak pernah mengenalkan diri kepada manusia dan Tuhan selalu menggunakan kata ganti dalam Al-Qur'an seperti ana, juga bahwa Allah, adalah penafsiran manusia untuk menyebut dzat semesta alam.


Walaupun saya boleh memiliki harapan, tapi saya tidak berharap apapun baik di dunia dan langit. Mau bagaimanapun saya bergerak atas izin pemilik hidup. Entah nanti saya dipilih menjadi orang beruntung atau celaka, sepenuh hati saya meridhoi apa yang diberikan Tuhan kepada saya. Sedikitpun keimanan saya tidak akan pernah mencoba menolaknya.


Teruntuk teman saya yang alim. Jadi seperti ini Gus, Anda tahu hidup saya bermasalah sejak dari akarnya. Tentu sebagai temanmu ini turut senang jika Anda terus semakin baik dari kemarin hari. Selain itu, perihal saya berdebat akan Islam dan ketuhanan, sedikitpun tidak ada niatan dalam hati saya menjadikan lawan bicaranya saya untuk tidak bertuhan. Tidak sama sekali.


Hanya saja seperti ini. Misalnya saya mengajak A untuk berdebat apa yang ia yakini sampai runtuh dan pudar, itu akan membuatnya berpikir lebih panjang guna mengamini yang diamini. Misalnya akan Islam, saya benturkan dengan berbagai dalil dan pola pikir, agar seorang keimanannya berdasar tidak hanya pada taklid buta semata.


Saya meyakini, keimanan dan kualitas seorang harus runtuh untuk menjadikan dirinya dan keimanannya semakin lebih baik. Nilai ini harus terjadi pada Muhammad sebagai suri tauladan, bahwa dirinya harus hancur ditinggal istri dan pamannya tercinta meninggal dunia untuk melakukan suatu perjalanan hebat di malam hari, dan mendapatkan satu-satunya perintah yang langsung dari Tuhan, sholat tepatnya.


Tidak menutup kemungkinan bahwa keyakinan kecil saya ini bisa salah. Namun bagi orang seperti saya yang tidak pantas menjadi seorang alim, hanya bisa memikirkan langkah tersebut paling masuk akal. Saya tetap ingin yang baik untuk siapapun, bagaimanapun jalan teknisnya.


Syahdan, teruntuk teman saya yang diridhoi Tuhan. Saya meyakini eksistensi bisa terwujud jika esensi ada. Jelasnya seperti ini, saya meyakini bahwa Anda memiliki banyak pengertian baru yang dapat bermanfaat bagi kebanyakan orang atas yang akan datang. Hanya saja bagi orang bodoh seperti saya kurang bisa mencerna apa yang Anda katakan. Andai saja Anda bisa lebih menyederhanakan pengertian tersebut kepada banyak orang, begitu mulianya Anda.


Pasalnya, dengan tema yang bisa diterima oleh banyak orang juga seperti susunan kalimat dalam Al-Qur'an dan hadist Rasulullah. Walaupun sederhana, tapi pemaknaan dapat berlapis-lapis. Selain tidak semua orang memiliki kapasitas sama untuk memahami sesuatu, sayang saja jika ada pesan menarik dan bermanfaat tapi tidak bisa dicerna banyak orang.


Terakhir saya tidak mungkin mendikte atau menasehati Anda yang lebih paham daripada saya. Namun, yang saya sayangkan adalah sikap yang mudah menyalahkan, walau tidak masalah. Hanya saja ada cara lebih baik dengan saling menasihati. Atau yang biasa saya lakukan dengan mengajak berdiskusi untuk memaksimalkan pola berpikir. Toh orang hebat seperti orang Jawa tempo dulu yang Anda agungkan, terus memeras otaknya untuk menemukan segala hal. Titi kanti tinemu, jelasnya.


Teruntuk teman saya yang merdeka, ini bukan permulaan. Tapi akhir dari semua yang belum dimulai.

0 komentar:

Posting Komentar