Minggu, 29 Desember 2019

Sebuah AKhir dari Awalan

Foto diatas tidak ada kaitannya dengan nama-nama yang saya ceritakan.





Saya mulai dari Ario, begitu saya menyamarkan namanya. Lelaki ke-Gresik-an yang sedikit nyeleneh dari kebanyakan orang yang pernah saya temui. Mungkin, basic teater yang ia miliki membentuk pribadi yang sedikit unik dan banyak rumitnya. Pasalnya, teman saya dari kota yang identik dengan sego Krawu ini kebanyakan rebel. Se-culun apapun teman yang pernah saya miliki, Ario adalah simbol penyimpangan.  

Mungkin, memang teman saya dulu tidak ada yang aktif di dunia teater, dominan adalah anak tambakan yang suka mambung sesuka hati, dan ’minum’ tentunya. Selain itu, rata-rata teman saya lahir dan terbentuk dari lingkungan yang keras, yang menuntut mereka untuk keras pula. Tidak dengan Ario, mahasiswa semester awal yang telat setahun ini seperti om-om penagih hutang yang pasti sering gagal. Bagaimana tidak, brewok yang menyelimuti wajah tuanya tidak seimbang dengan kondisi hati yang melankolis.

Memang, kita kenal dengan istilah karakter seseorang yang terbentuk dari lingkungannya. Seperti Ario, sepeninggal ayahnya, yang membuatnya harus terus bertarung dengan kesedihan dan sesal di hatinya. Tentu, bagi saya yang enggan untuk memakai hati, sedikit risih dengan Ario yang suka mood-mood-an. Pernah suatu ketika ia mendapatkan tugas membaca buku Bukan Pasar Malam-nya Pramoedya Ananta Toer – sejujurnya, sedikit tujuan dia haru membaca buku tesebut agar bisa lebih tabah. Sialnya, setiap membaca buku tersebut Ario selalu gagal dan terus mengulangi dari awal, karena memang dia sangat terbawa emosional. Ah, pikirku, jika dibiarkan seperti ini terus dia akan menjadi orang yang lemah.

Akhirnya, saya paksa anaknya untuk menyelesaikan buku tersebut dan mengulanginya dari awal dengan kurun waktu dua jam. Setelah ia selesaikan membacanya sesuai tenggang yang saya tentukan, saya ajak dia bakar-bakar ayam, sosis, nugget, marsmellow kayu sambil mendiskusikan buku yang telah dia selesaikan. Sambil pelan-pelan mengajak bernostalgia akan kesedihannya, ketika hampir diujung kepedihannya, dia harus patah – bagaimanapun caranya. Heuheu~

Berangkat dari kerumitan yang dialaminya pada masa lampau, secara tidak sadar mendikte karakternya untuk rumit pula, sial. Mulai dari cara berpikir, berbicara, menulis, bahkan bertindak, adalah representasi keruwetan Ario yang sulit untuk dia tinggalkan. Misalnya, ketika ia mendapatkan tugas menulis esai, sial, rumit. Mungkin, ia ingin terlihat ’wah’ dengan apa yang dituliskannya. Namun, jangankan ’wah’, bisa dipahami saja alhamdulillah, bahkan dipahami oleh dirinya sendiri. Untungnya, ia memiliki slogan blajar maneh.

Selanjutnya ada Hilmy, tak ubahnya Ario, ia memiliki pola kerumitan sendiri – yang lahir dengan dendam dan perlawanan. Selayang pandang melihat Hilmy, mungkin, kita akan menilai bahwa ia anak yang biasa di jalanan, rebel, dengan tampang dan gaya yang khas anak hardcore-an. Rambut kucel yang selalu ia linting seperti ganja, semakin membuat suram aura yang terpancar dari wajahnya.

Namun, dibalik semua itu, ia sangat tidak senang dengan orang yang berterus terang dengan ke-melankolia-nya. Kendati memang benar ia memiliki hati serapuh tempe mbus, ia selalu berusaha agar tampak kuat. Ah, bagi saya, ia tak lebih dari bayi yang cengeng. Muka dan ekspresinya yang garang tak mampu menutupi hatinya yang terus merengek.

Walaupun seperti itu, ia juga terus mempertahankan idealisme yang dimilikinya. Mungkin, berangkat dari kisahnya yang diceritakan kepada saya. Bahwa, ini memiliki dendam yang kuat di masa lalu – karena keluarganya harus terbunuh gara-gara diduga bagian dari Kontolumnis, itu, partai yang sering dianggap hantu karena halusinasi kebangkitannya. Semenjak itu, pemerintah menjadi musuh abadi baginya. Dan melawan, semoga terus ia tanamkan dalam hatinya.

Sial, saya harus menceritakan pemuda kokoh tak tertandingi teguh pendirian asal Jember. Meliahtnya, saya teringat dengan sosok Zaja yang telah lama tinggal di pesantren dalam sebuah film Captain Fantasic. Oh, tidak, Zaja tidak pernah hidup di pesantren, ia anak terkecil yang penasaran dengan apa itu seks, dan hapal akan amandemen undang-undang Amerika dan kisah diktator Pol Pot, walaupun tidak tahu apa itu Adidas ataupun Nike.

Pemuda yang saya maksud adalah Ajie. Mungkin, jika Karl Marx masih hidup akan kagum dengan dirinya yang tegus dan kokoh memegang agamanya. Pasalnya, ketika saya ajak berbicara kebebasan berpikir, agama, selalu menjadi pembatas pikirannya. Mungkin, nasehat dari gurunya sebelum berangkat kuliah agar tidak menjadi sesat telah diborgol di hatinya. Namun, saya tidak mengajak dia untuk sesat. Toh, saya mengalami sendiri bagaimana harus terpontang-panting sampai tiga kali karena tidak mengakui adanya Tuhan.

Uniknya, Ajie yang dulu memiliki aura cerah (tapi menjengkelkan karena sulit diajak diskusi) akhir-akhir kemarin menjadi kacau. Pancaran sinar dari wajahnya seperti seorang yang sedang dalam pencarian akan sebuah kebenaran. Sedikit senang melihatnya, apalagi guyonan yang keluar dari mulutnya sudai mulai berbobot.

Pernah suatu malam yang suram ia bercerita, bagaimana buku-buku yang ia baca selalu menjadi pasukan Templar yang mengikis keimanannya. Bahkan, yang awalnya ia rajin menunaikan lima waktu menjadi sedikit gembosi. Di sela waktu tersebut lebih banyak ia gunakan untuk berpikir lebih dalam, sedikit mulai meninggalkan ketaklitan butanya terhadap agama. Semoga saja ia terus berdamai dengan perjalanannya mencari akan kebenaran itu sendiri.

Anehnya, ada juga sosok lain yang berbanding terbalik dengan Ajie, panggil saja Taqi. Sebelum masuk ke dunia perkuliahan yang tak jauh beda dengan peternakan ayam horn , ia habiskan waktunya di pesantren. Keluarganya, adalah pengkuti paham Sarekat Islam yang  mengagumi sosok yang betah di Arab Saudi, yang kepulangannya masih terhalang dengan berbagai drama.

Perempuan yang dulunya ingin ikut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini ternyata memiliki potensi ’menyimpang’ yang besar dari keluarganya. Bagaimana tidak, dia lebih memilih mengikuti orang-orang yang tidak jelas dan baru dikenalnya seperti saya. Padahal ”kami” percaya akan kehendak seseorang sebagai manusia yang merdeka, menyerahkan sepenuhnya kepada Taqi sikap apa yang harus ia ambil. Eh, ternyata dia lebih memilih ”kami”, dan harus sedikit ngeyel dengan orang tuanya.

Taqi, seolah menjadi sosok yang lepas dari teori behavior bekerja. Masa lalunya yang menanamkan untuk kolot, ternyata tidak membuatnya demikian. Dia bisa membaur, terus merubah pola pikir, terus memperbaharui cara pandang, walaupun kadang entah kenapa ada jiwa priyayi yang terpendam dalam dirinya.

Beranjak dari Taqi – ada Eka yang sulit memahami suatu hal. Perempuan yang masuk jurusan Psikologi ini karena butuh akan psikolog. Pihaknya pernah mengaku, bahwa tujuannya masuk jurusan kedukunan ini tidak muluk-muluk, sebatas ingin memperbaiki kondisi psikolognya yang sedikit bermasalah.

Sampai saat ini saya belum melihat potensi membangkang darinya. Nurut saja istilahnya, apapun yang ”kami” kehendaki. Begitu juga dengan di sesrawungan-nya, ia lebih suka memasak dan menyisihkan waktu tidurnya agar temannya bisa makan. Saya sendiri melihatnya tak jauh beda dengan santri dedel  zaman dulu, yang menjadi arif bukan dari kitab yang dipelajari, tapi dari hidupnya yang berusaha berguna bagi siapapun. Hal itu terpikirkan oleh saya ketika tiap hari melihatnya masak, sedikit jengkel, saya coba pikirkan lagi untuk tidak memarahinya. Lalu, sampailah saya dalam sebuah kesimpulan ia akan paham dengan buku atau materi yang didapat dari jalan berbakti kepada siapapun.

Kemudian, ada juga sosok yang postifis-nya naudzubillah keterlaluannya. Begitu melekat prasangka baik darinya atas segala peristiwa. Mungkin, ada sedikit kesal dengan masalalunya dengan keluarga. Sebut saja Amel, nama samarannya.
Saya lupa alasannya dulu masuk Ilmu Komunikasi. Yang jelas, saya ingat sejak awal bagaimana sudut pandang anak ini ketika sedang berdiskusi. Walaupun, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit ”kami” mampu untuk merombak sedikit pikirannya agar lebih berprasangka buruk. Eits, seringnya, prasangkan buruk juga diperlukan untuk tidak mudah percaya dengan apa saja yang berseliweran di era post truts ini.

Masih dengan Amel, di sesrawungan-nya ia mendapatkan julukan mblayer. Pasalnya, perempuan yang pernah memiliki cita-cita  menjadi kucing anggora ini crewet bak kocheng oren. Walaupun begitu, kadang orang seperti dia perlu, satu untuk pelengkap, dan kadang jadi bahan tertawaan ketika sedang santai.

Tidak terlalu berbeda dengan Amel, ada Talita sebagai pelengkap ke-mblayer-an Amel. Dia adalah sosok ngegas-nya. Perempuan kelahiran kota kemunculan Dajjal ini tidak cocok menjadi Hubungan Masyarakat (humas). Kita tahu sendiri bagaimana kinerja humas, yang harus selalu ramah, baik, dan penyabar. Dilain sisi, Talita begitu saya menyamarkan namanya, sedikit memiliki bakat kehumasan, kemendel (masih saudara dengan lebay). Masih ingat dengan sosok perempuan viral di Instagram karena prosotan? Ya, Talita tak ubahnya prosotan-prosotan klub tersebut.

Kendati demikian, gaya bicara yang apa adanya dan ceplas-ceplos itu baik. Tidak ada yang perlu ditutupi karena dalih takut menyakiti hati. Andai saja, kita bisa berdamai dengan fakta yang ada, saya rasa kita tidak mudah untuk sakit hati.

Seharusnya, Lina yang berasal dari calon mantan ibu kota sana yang seperti Talita. Lebih tepatnya, dekat dengan calon mantan ibu kota Indonesia.

Sebentar, Surya datang sambil membawa telor dan mie instan, dan pemecah kesepian tentunya.

Saya lanjut dengan Lina, tidak banyak ngeluh dan banyak gigihnya. Oh, iya, kemarin ia sempat bersedih dengan keluarganya yang sedikit bermasalah. Saya ingat bagaimana awal-awal dulu dia memilih ”kami” – di suatu pagi yang hangat dan sesat, nampaknya dia perempuan baik-baik saja yang sempat jatuh hati dengan ketua osisnya atau ketua satpam sekolahnya dulu, saya lupa. Jelasnya, dia pernah menjalani semi kisah putih abu-abu.

Masih dengan Lina, saya pernah dibuat kaget olehnya. Suatu ketika saat sedang membaca buku dan ditelfon orangtuanya, anda tahu apa yang diucapkannya? ”Sementara jangan telfon (ganggu) saya dulu,” ketusnya sambil membalik lembar buku dengan air ludahnya. Oh, begitu mengerikan dan banyak lucunya. Hehehe,-

Sial. Saya beneran tertawa, sampai tidak sadar gelas kopi saya sudah banyak latu rokoknya.

Hal ini membuat saya teringat dengan anak jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) yang seperti kena sindrom dan selalu ingin tampil sempurna. Faricha, begitu saya menyamarkannya. Perempuan yang kecanduan argumen dari google dan Wikipedia. Seolah, sebelum ia berbicara harus ada refrensi kuat dari website semacam kopet.news – agar berbicaranya berbobot. Padahal, tidak. Sebenarnya, ada potensi besar darinya jika mau mengurangi keyakinannya yang berlebihan. Satu sisi, baik dia merasa besar, satu sisi jadi bola bekel yang dipantulkannya ke lantai dan mengenai mukanya sendiri.

Kendati demikian, baiknya dia adalah mau dan banyak menerima. Termasuk menerima penilain saya kepadanya.

Ah, ada Ajdi. Lelaki yang sering memakai kaos bertuliskan wani untuk menutupi ketidak-wani-annya. Awal pertemuannya dengan ”kami” saat dia numpang merokok di stand yang ”kami” dirikan. Tepatnya, waktu masa pengenalan mahasiswa baru, walaupun Adji mahasiswa baru, tapi tidak dengan mukanya.

Walaupun dia tidak pernah di pesantren, mungkin, dia menganggap rumah ”kami” adalah pesantren. Pasalnya, bawang merah dan putih, beras, dan lain-lain milik ibunya selalu dibawakan kepada ”kami”. Ingatan saya kabur mencari alasan dia masuk ke Fakultas Hukum, yang jelas adalah dia banyak kalah bermain catur dengan saya. Maklum, junior.

Akhir-akhir ini dia diterpa banyak masalah, yang memaksanya harus riwa-riwi ke berbagai tempat. Semoga, baik-baik saja.

Baik-baik saja seperti Juan. Lelaki rapi yang PNS-able. Memakai kaos tanpa kerah adalah sebuah penghianatan, kaos dengan kerah adalah keterpaksaan, kemeja berkancing sampai mencekik leher adalah Juan. Heuheuheu,-

Juan yang baik dan sudah senang membaur, celana kain dengan kemeja kotak-kotak ala Jokowi dan bapak-bapak pos ronda tidak match dengan muka bulatmu yang berhias kaca mata. Namun, ini penilaian cetek saya yang stylish beud. Kehendak dan keputusan, balik kepadamu. Walaupun, Juan sedikit mewarisi ke-keren-an saya, bisa masak. Walaupun, kamu harus cerewet apabila resepmu mendapatkan masukan dari yang lain.

Saya masih ingat betul, bagaimana dulu Juan menenteng tongkat kelompok ospek. Saya melihatnya waktu teringat dengan Biksu Tong Sancong yang gagal diet pada serial televisi kera sakti. Rapi, formal, membosankan, tapi banyak lucunya. Namun, akhir-akhir ini jiwanya lebih sumringah, bahwa dia menyadari telah memiliki keluarga baru di perantauan.

Perihal bisa masak, yang sekaligus katanya cocok menjadi tukang nasi goreng naik haji dan penyetan. Wahyu, nama yang bisa saya samarkan menjadi penyu sebenarnya. Ah, tapi tidak saya lakukan, UU ITE menghantuiku.

Wahyu, jebolan dari pemuda pencak silat ini pernah bimbang, tepatnya saat harus memilih prodinya yang laknat atau ”kami” yang disayangi Tuhan semesta alam. Walaupun, akhirnya dia memilih kami sampai sekarang.

Bagaimana, ya, saya sedikit bingung kok ada orang seperti dia. Oh, daripada saya terus bingung, biarkan saya cerita saja. Alkisah, dia memiliki semacam paguyuban atau apa namanya, yang isinya adalah dari perguruan yang pernah dia ikuti. Wahyu, menanyakan pada saya perlu atau tidaknya ia keluar dari perguruannya. Jelas, saya menjawab dengan lantang dan matang sambil meminjam mikrofon masjid sebentar – ”ya,terserah kamu”.

Memang, saya sendiri memutuskan untuk tidak berkarate dan mengikuti perguruan silat karena banyaknya oknum yang menyalahkan bakat mereka, yang sukanya ribut saja. Tentu, saya tidak ingin sikap saya ini menjadi pembenaran bagi Wahyu yang gigih dan giat. Semoga, kegigihannya bisa sampai tahap sudah tidak butuh dilihat oleh siapapun.

Jika anda masih dengan saya, artinya saya telah bangun tidur. Hal ini saya lakukan untuk mengahayati karakter Cimeng, begitu saya menyamarkannya. Ia adalah sosok putra tidur di kalangan ”kami” – bukan karena cacingan atau panuan ia suka tidur, sebatas suka saja. Banyangkan saja, saat ”kami” bernostalgia masa kecil dengan main hujan-hujan-an, bisa-bisanya ia tidur bak Caplin yang lelah karena terlalu lama nangis ketika hujan datang.

Saya ingat pertama bertemu dengan Cimeng, oh tidak, kedua lebih tepatnya. Saya bertanya kepadanya kapan terakhir nonton film blue, yang sekaligus pertanyaan itu membuatnya gagap seketika dan berkeringat basah. Padahal, itu pertanyaan sederhana.


Baru-baru kemarin, Cimeng sedikit down karena tebalnya buku yang ia baca. Bahkan, sampai minta di-sambang (istilah yang akrab di kawasan pesantren, untuk mendeskripsikan seorang santri yang dijenguk orang tuanya) orang tuanya, dan minta diizinkan pulang. Sesampainya orang tua Cimeng di sesrawungannya, ketepatan waktu itu saya mencoba mengobrol. Ternyata, ibunya keren, mulai dari gaya pikiran dan bicaranya. Lebih lanjut, bukan kamu yang dimarahi, malah ia yang kena marah orang tuanya. Hal ini membuktikan, bahwa tidak membuktikan apa-apa sebenarnya.

Syahdan, mereka yang saya ceritakan di atas, suatu pagi hendak pergi ke rumah masing-masing. Kepulangan mereka yang dirayakan di warung makan jalanan menuju kampus sekaligus menyudahi sementara kebersamaan dengan ”kami”, yang kemudian diikuti dengan sepi dan bosan. Ah, sial, perasaan seperti ini bisa mengakibatkan tindak kriminal, waspadalah. Hehehe,-


Telang, dengan rokok yang menipis – Desember 2019.







0 komentar:

Posting Komentar