| Foto diatas tidak ada kaitannya dengan nama-nama yang saya ceritakan. |
Saya mulai dari Ario, begitu saya menyamarkan
namanya. Lelaki ke-Gresik-an yang sedikit nyeleneh dari kebanyakan orang yang
pernah saya temui. Mungkin, basic teater
yang ia miliki membentuk pribadi yang sedikit unik dan banyak rumitnya.
Pasalnya, teman saya dari kota yang identik dengan sego Krawu ini kebanyakan rebel. Se-culun apapun teman yang pernah
saya miliki, Ario adalah simbol penyimpangan.
Mungkin, memang teman saya dulu tidak ada yang
aktif di dunia teater, dominan adalah anak tambakan yang suka mambung sesuka hati, dan ’minum’
tentunya. Selain itu, rata-rata teman saya lahir dan terbentuk dari lingkungan
yang keras, yang menuntut mereka untuk keras pula. Tidak dengan Ario, mahasiswa
semester awal yang telat setahun ini seperti om-om penagih hutang yang pasti
sering gagal. Bagaimana tidak, brewok yang menyelimuti wajah tuanya tidak
seimbang dengan kondisi hati yang melankolis.
Memang, kita kenal dengan istilah karakter
seseorang yang terbentuk dari lingkungannya. Seperti Ario, sepeninggal ayahnya,
yang membuatnya harus terus bertarung dengan kesedihan dan sesal di hatinya.
Tentu, bagi saya yang enggan untuk memakai hati, sedikit risih dengan Ario yang suka mood-mood-an.
Pernah suatu ketika ia mendapatkan tugas membaca buku Bukan Pasar Malam-nya
Pramoedya Ananta Toer – sejujurnya, sedikit tujuan dia haru membaca buku
tesebut agar bisa lebih tabah. Sialnya, setiap membaca buku tersebut Ario
selalu gagal dan terus mengulangi dari awal, karena memang dia sangat terbawa
emosional. Ah, pikirku, jika dibiarkan seperti ini terus dia akan menjadi orang
yang lemah.
Akhirnya, saya paksa anaknya untuk
menyelesaikan buku tersebut dan mengulanginya dari awal dengan kurun waktu dua
jam. Setelah ia selesaikan membacanya sesuai tenggang yang saya tentukan, saya
ajak dia bakar-bakar ayam, sosis, nugget, marsmellow kayu sambil
mendiskusikan buku yang telah dia selesaikan. Sambil pelan-pelan mengajak
bernostalgia akan kesedihannya, ketika hampir diujung kepedihannya, dia harus
patah – bagaimanapun caranya. Heuheu~
Berangkat dari kerumitan yang dialaminya pada
masa lampau, secara tidak sadar mendikte karakternya untuk rumit pula, sial.
Mulai dari cara berpikir, berbicara, menulis, bahkan bertindak, adalah
representasi keruwetan Ario yang sulit untuk dia tinggalkan. Misalnya, ketika
ia mendapatkan tugas menulis esai, sial, rumit. Mungkin, ia ingin terlihat
’wah’ dengan apa yang dituliskannya. Namun, jangankan ’wah’, bisa dipahami saja
alhamdulillah, bahkan dipahami oleh dirinya sendiri. Untungnya, ia memiliki
slogan blajar maneh.
Selanjutnya ada Hilmy, tak ubahnya Ario, ia
memiliki pola kerumitan sendiri – yang lahir dengan dendam dan perlawanan.
Selayang pandang melihat Hilmy, mungkin, kita akan menilai bahwa ia anak yang
biasa di jalanan, rebel, dengan
tampang dan gaya yang khas anak hardcore-an.
Rambut kucel yang selalu ia linting seperti ganja, semakin membuat suram aura
yang terpancar dari wajahnya.
Namun, dibalik semua itu, ia sangat tidak
senang dengan orang yang berterus terang dengan ke-melankolia-nya. Kendati
memang benar ia memiliki hati serapuh tempe mbus,
ia selalu berusaha agar tampak kuat. Ah, bagi saya, ia tak lebih dari bayi yang
cengeng. Muka dan ekspresinya yang garang tak mampu menutupi hatinya yang terus
merengek.
Walaupun seperti itu, ia juga terus
mempertahankan idealisme yang dimilikinya. Mungkin, berangkat dari kisahnya
yang diceritakan kepada saya. Bahwa, ini memiliki dendam yang kuat di masa lalu
– karena keluarganya harus terbunuh gara-gara diduga bagian dari Kontolumnis,
itu, partai yang sering dianggap hantu karena halusinasi kebangkitannya.
Semenjak itu, pemerintah menjadi musuh abadi baginya. Dan melawan, semoga terus
ia tanamkan dalam hatinya.
Sial, saya harus menceritakan pemuda kokoh
tak tertandingi teguh pendirian asal Jember. Meliahtnya, saya teringat
dengan sosok Zaja yang telah lama tinggal di pesantren dalam sebuah film
Captain Fantasic. Oh, tidak, Zaja tidak pernah hidup di pesantren, ia anak
terkecil yang penasaran dengan apa itu seks, dan hapal akan amandemen
undang-undang Amerika dan kisah diktator Pol Pot, walaupun tidak tahu apa itu
Adidas ataupun Nike.
Pemuda yang saya maksud adalah Ajie. Mungkin,
jika Karl Marx masih hidup akan kagum dengan dirinya yang tegus dan kokoh
memegang agamanya. Pasalnya, ketika saya ajak berbicara kebebasan berpikir,
agama, selalu menjadi pembatas pikirannya. Mungkin, nasehat dari gurunya
sebelum berangkat kuliah agar tidak menjadi sesat telah diborgol di hatinya.
Namun, saya tidak mengajak dia untuk sesat. Toh, saya mengalami sendiri
bagaimana harus terpontang-panting sampai tiga kali karena tidak mengakui
adanya Tuhan.
Uniknya, Ajie yang dulu memiliki aura cerah
(tapi menjengkelkan karena sulit diajak diskusi) akhir-akhir kemarin menjadi
kacau. Pancaran sinar dari wajahnya seperti seorang yang sedang dalam pencarian
akan sebuah kebenaran. Sedikit senang melihatnya, apalagi guyonan yang keluar
dari mulutnya sudai mulai berbobot.
Pernah suatu malam yang suram ia bercerita,
bagaimana buku-buku yang ia baca selalu menjadi pasukan Templar yang mengikis
keimanannya. Bahkan, yang awalnya ia rajin menunaikan lima waktu menjadi
sedikit gembosi. Di sela waktu
tersebut lebih banyak ia gunakan untuk berpikir lebih dalam, sedikit mulai
meninggalkan ketaklitan butanya terhadap agama. Semoga saja ia terus berdamai
dengan perjalanannya mencari akan kebenaran itu sendiri.
Anehnya, ada juga sosok lain yang berbanding
terbalik dengan Ajie, panggil saja Taqi. Sebelum masuk ke dunia perkuliahan yang
tak jauh beda dengan peternakan ayam horn , ia habiskan waktunya di
pesantren. Keluarganya, adalah pengkuti paham Sarekat Islam yang mengagumi sosok yang betah di Arab Saudi, yang
kepulangannya masih terhalang dengan berbagai drama.
Perempuan yang dulunya ingin ikut Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) ini ternyata memiliki potensi ’menyimpang’ yang besar
dari keluarganya. Bagaimana tidak, dia lebih memilih mengikuti orang-orang yang
tidak jelas dan baru dikenalnya seperti saya. Padahal ”kami” percaya akan
kehendak seseorang sebagai manusia yang merdeka, menyerahkan sepenuhnya kepada
Taqi sikap apa yang harus ia ambil. Eh, ternyata dia lebih memilih ”kami”, dan
harus sedikit ngeyel dengan orang tuanya.
Taqi, seolah menjadi sosok yang lepas dari
teori behavior bekerja. Masa lalunya yang menanamkan untuk kolot, ternyata
tidak membuatnya demikian. Dia bisa membaur, terus merubah pola pikir, terus
memperbaharui cara pandang, walaupun kadang entah kenapa ada jiwa priyayi yang
terpendam dalam dirinya.
Beranjak dari Taqi – ada Eka yang sulit memahami
suatu hal. Perempuan yang masuk jurusan Psikologi ini karena butuh akan
psikolog. Pihaknya pernah mengaku, bahwa tujuannya masuk jurusan kedukunan
ini tidak muluk-muluk, sebatas ingin memperbaiki kondisi psikolognya yang
sedikit bermasalah.
Sampai saat ini saya belum melihat potensi
membangkang darinya. Nurut saja istilahnya, apapun yang ”kami” kehendaki.
Begitu juga dengan di sesrawungan-nya,
ia lebih suka memasak dan menyisihkan waktu tidurnya agar temannya bisa makan.
Saya sendiri melihatnya tak jauh beda dengan santri dedel zaman dulu, yang
menjadi arif bukan dari kitab yang dipelajari, tapi dari hidupnya yang berusaha
berguna bagi siapapun. Hal itu terpikirkan oleh saya ketika tiap hari
melihatnya masak, sedikit jengkel, saya coba pikirkan lagi untuk tidak
memarahinya. Lalu, sampailah saya dalam sebuah kesimpulan ia akan paham dengan
buku atau materi yang didapat dari jalan berbakti kepada siapapun.
Kemudian, ada juga sosok yang postifis-nya naudzubillah keterlaluannya. Begitu
melekat prasangka baik darinya atas segala peristiwa. Mungkin, ada sedikit
kesal dengan masalalunya dengan keluarga. Sebut saja Amel, nama samarannya.
Saya lupa alasannya dulu masuk Ilmu Komunikasi.
Yang jelas, saya ingat sejak awal bagaimana sudut pandang anak ini ketika
sedang berdiskusi. Walaupun, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit
”kami” mampu untuk merombak sedikit pikirannya agar lebih berprasangka buruk. Eits,
seringnya, prasangkan buruk juga diperlukan untuk tidak mudah percaya dengan
apa saja yang berseliweran di era post
truts ini.
Masih dengan Amel, di sesrawungan-nya ia mendapatkan julukan mblayer. Pasalnya, perempuan yang pernah memiliki cita-cita menjadi kucing anggora ini crewet bak kocheng oren. Walaupun begitu, kadang
orang seperti dia perlu, satu untuk pelengkap, dan kadang jadi bahan tertawaan
ketika sedang santai.
Tidak terlalu berbeda dengan Amel, ada Talita
sebagai pelengkap ke-mblayer-an Amel.
Dia adalah sosok ngegas-nya.
Perempuan kelahiran kota kemunculan Dajjal ini tidak cocok menjadi Hubungan
Masyarakat (humas). Kita tahu sendiri bagaimana kinerja humas, yang harus
selalu ramah, baik, dan penyabar. Dilain sisi, Talita begitu saya menyamarkan
namanya, sedikit memiliki bakat kehumasan, kemendel
(masih saudara dengan lebay). Masih ingat dengan sosok perempuan viral di
Instagram karena prosotan? Ya, Talita tak ubahnya prosotan-prosotan klub
tersebut.
Kendati demikian, gaya bicara yang apa adanya
dan ceplas-ceplos itu baik. Tidak ada yang perlu ditutupi karena dalih takut
menyakiti hati. Andai saja, kita bisa berdamai dengan fakta yang ada, saya rasa
kita tidak mudah untuk sakit hati.
Seharusnya, Lina yang berasal dari calon mantan
ibu kota sana yang seperti Talita. Lebih tepatnya, dekat dengan calon mantan
ibu kota Indonesia.
Sebentar, Surya datang sambil membawa telor dan
mie instan, dan pemecah kesepian tentunya.
Saya lanjut dengan Lina, tidak banyak ngeluh
dan banyak gigihnya. Oh, iya, kemarin ia sempat bersedih dengan keluarganya
yang sedikit bermasalah. Saya ingat bagaimana awal-awal dulu dia memilih ”kami”
– di suatu pagi yang hangat dan sesat, nampaknya dia perempuan baik-baik
saja yang sempat jatuh hati dengan ketua osisnya atau ketua satpam sekolahnya
dulu, saya lupa. Jelasnya, dia pernah menjalani semi kisah putih abu-abu.
Masih dengan Lina, saya pernah dibuat kaget
olehnya. Suatu ketika saat sedang membaca buku dan ditelfon orangtuanya, anda
tahu apa yang diucapkannya? ”Sementara jangan telfon (ganggu) saya dulu,”
ketusnya sambil membalik lembar buku dengan air ludahnya. Oh, begitu mengerikan
dan banyak lucunya. Hehehe,-
Sial. Saya beneran tertawa, sampai tidak sadar
gelas kopi saya sudah banyak latu rokoknya.
Hal ini membuat saya teringat dengan anak
jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) yang seperti kena sindrom dan selalu
ingin tampil sempurna. Faricha, begitu saya menyamarkannya. Perempuan yang
kecanduan argumen dari google dan Wikipedia. Seolah, sebelum ia berbicara harus
ada refrensi kuat dari website semacam kopet.news – agar berbicaranya berbobot.
Padahal, tidak. Sebenarnya, ada potensi besar darinya jika mau mengurangi
keyakinannya yang berlebihan. Satu sisi, baik dia merasa besar, satu sisi jadi
bola bekel yang dipantulkannya ke lantai dan mengenai mukanya sendiri.
Kendati demikian, baiknya dia adalah mau dan
banyak menerima. Termasuk menerima penilain saya kepadanya.
Ah, ada Ajdi. Lelaki yang sering memakai kaos
bertuliskan wani untuk menutupi ketidak-wani-annya. Awal pertemuannya dengan
”kami” saat dia numpang merokok di stand yang ”kami” dirikan. Tepatnya, waktu
masa pengenalan mahasiswa baru, walaupun Adji mahasiswa baru, tapi tidak dengan
mukanya.
Walaupun dia tidak pernah di pesantren,
mungkin, dia menganggap rumah ”kami” adalah pesantren. Pasalnya, bawang merah
dan putih, beras, dan lain-lain milik ibunya selalu dibawakan kepada ”kami”.
Ingatan saya kabur mencari alasan dia masuk ke Fakultas Hukum, yang jelas
adalah dia banyak kalah bermain catur dengan saya. Maklum, junior.
Akhir-akhir ini dia diterpa banyak masalah,
yang memaksanya harus riwa-riwi ke berbagai tempat. Semoga, baik-baik saja.
Baik-baik saja seperti Juan. Lelaki rapi yang
PNS-able. Memakai kaos tanpa kerah adalah sebuah penghianatan, kaos dengan
kerah adalah keterpaksaan, kemeja berkancing sampai mencekik leher adalah Juan.
Heuheuheu,-
Juan yang baik dan sudah senang membaur, celana
kain dengan kemeja kotak-kotak ala Jokowi dan bapak-bapak pos ronda
tidak match dengan muka bulatmu yang
berhias kaca mata. Namun, ini penilaian cetek saya yang stylish beud. Kehendak
dan keputusan, balik kepadamu. Walaupun, Juan sedikit mewarisi ke-keren-an
saya, bisa masak. Walaupun, kamu harus cerewet apabila resepmu mendapatkan
masukan dari yang lain.
Saya masih ingat betul, bagaimana dulu Juan
menenteng tongkat kelompok ospek. Saya melihatnya waktu teringat dengan Biksu
Tong Sancong yang gagal diet pada serial televisi kera sakti. Rapi, formal,
membosankan, tapi banyak lucunya. Namun, akhir-akhir ini jiwanya lebih
sumringah, bahwa dia menyadari telah memiliki keluarga baru di perantauan.
Perihal bisa masak, yang sekaligus katanya
cocok menjadi tukang nasi goreng naik haji dan penyetan. Wahyu, nama
yang bisa saya samarkan menjadi penyu sebenarnya. Ah, tapi tidak saya lakukan,
UU ITE menghantuiku.
Wahyu, jebolan dari pemuda pencak silat ini
pernah bimbang, tepatnya saat harus memilih prodinya yang laknat atau ”kami”
yang disayangi Tuhan semesta alam. Walaupun, akhirnya dia memilih kami sampai
sekarang.
Bagaimana, ya, saya sedikit bingung kok ada
orang seperti dia. Oh, daripada saya terus bingung, biarkan saya cerita saja.
Alkisah, dia memiliki semacam paguyuban atau apa namanya, yang isinya adalah
dari perguruan yang pernah dia ikuti. Wahyu, menanyakan pada saya perlu atau tidaknya
ia keluar dari perguruannya. Jelas, saya menjawab dengan lantang dan matang
sambil meminjam mikrofon masjid sebentar – ”ya,terserah kamu”.
Memang, saya sendiri memutuskan untuk tidak
berkarate dan mengikuti perguruan silat karena banyaknya oknum yang menyalahkan
bakat mereka, yang sukanya ribut saja. Tentu, saya tidak ingin sikap saya ini
menjadi pembenaran bagi Wahyu yang gigih dan giat. Semoga, kegigihannya bisa
sampai tahap sudah tidak butuh dilihat oleh siapapun.
Jika anda masih dengan saya, artinya saya telah
bangun tidur. Hal ini saya lakukan untuk mengahayati karakter Cimeng, begitu
saya menyamarkannya. Ia adalah sosok putra tidur di kalangan ”kami” – bukan karena
cacingan atau panuan ia suka tidur, sebatas suka saja. Banyangkan saja, saat ”kami”
bernostalgia masa kecil dengan main hujan-hujan-an, bisa-bisanya ia tidur bak
Caplin yang lelah karena terlalu lama nangis ketika hujan datang.
Saya ingat pertama bertemu dengan Cimeng, oh
tidak, kedua lebih tepatnya. Saya bertanya kepadanya kapan terakhir nonton film
blue, yang sekaligus pertanyaan itu
membuatnya gagap seketika dan berkeringat basah. Padahal, itu pertanyaan
sederhana.
Baru-baru kemarin, Cimeng sedikit down karena tebalnya buku yang ia baca. Bahkan,
sampai minta di-sambang (istilah yang
akrab di kawasan pesantren, untuk mendeskripsikan seorang santri yang dijenguk
orang tuanya) orang tuanya, dan minta diizinkan pulang. Sesampainya orang tua
Cimeng di sesrawungannya, ketepatan
waktu itu saya mencoba mengobrol. Ternyata, ibunya keren, mulai dari gaya
pikiran dan bicaranya. Lebih lanjut, bukan kamu yang dimarahi, malah ia yang
kena marah orang tuanya. Hal ini membuktikan, bahwa tidak membuktikan apa-apa
sebenarnya.
Syahdan, mereka yang saya ceritakan di atas,
suatu pagi hendak pergi ke rumah masing-masing. Kepulangan mereka yang
dirayakan di warung makan jalanan menuju kampus sekaligus menyudahi sementara
kebersamaan dengan ”kami”, yang kemudian diikuti dengan sepi dan bosan. Ah,
sial, perasaan seperti ini bisa mengakibatkan tindak kriminal, waspadalah. Hehehe,-
Telang, dengan rokok
yang menipis – Desember 2019.
0 komentar:
Posting Komentar