Minggu, 29 Oktober 2017

Tujuan Kuliah yang Hakiki

Setelah setahun lebih menjamah dan meraba kehidupan kampus yang katanya menjadi idaman siswa jaman now, saya baru meng-amini tujuan kuliah yang sebenarnya. Ya, walapun kata idaman itu akan hilang kalau kita sudah benar-benar masuk ke dunia perkampusan. Seperti yang saya rasakan, paradigma ­ngampus idaman adalah hoax (presepsi pribadi).

Sebenarnya saya juga bingung mau memulai tulisan ini dari mana, mau dikatakan esai bukan, opini ya nggaak, apalagi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang mengharuskan kaidah penulisan runtut dan ala-ala ilmiah. 

Lebih tepat  kalau tulisan ini berisi keluh dan kesah saya setelah melewati semester dua. Saat ini saya semester tiga, tapi memilih cuti, karena berbagai macam faktor ruwetisme waktu menjadi mahasiswa. Toh, dulu saya lebih minat masuk Badan Intelgen Negara (BIN), saya lebih tertarik menjadi seorang agen. Seperti film Joker Game (2016), Kingsaman The Secret Service (2015), Kingsman The Golden Circle (2017), Mission Imposible, dan lain sebagainya. Betapa kerennya kalau saya memakai setelan pakem ala-ala FBI atau CIA, dengan senjata minimal pistol tangan sekelas Raging Bull 454 Casull Revolver atau C. Phyton. Kalau sedang ada misi memakai senjata yang lebih berat, misalnya, P90 buatan Belgia, Sniper Rifle Barrett M82A buatan Amerika. Kalau ekspetasi itu terlalu tinggi setidaknya PT Pindad punya senjata Assault Rifle yang menurut saya kece banget, SS Pindad V5 yang recoilnya lebih kecil dari SC-2010. Juga, Sniper SPR-2 karya PT Pindad yang lebih mantap dari Barrett. Namun, semua itu hanya angan-angan yang jauh dari realita.

Anggap saja saya sedang sedang ngoceh sendiri di paragraf dua. Karena kemungkinan hal itu terjadi hanya 0,30% saat orang tua menyuruh untuk melanjutkan studi di perkuliahan. Akhirnya, sebelum resmi menjadi mahasiswa saya memiliki beberapa pilihan jurusan yang akan saya tekuni. Misalnya, Ekonomi dan Psikologi, kemudian bertambah satu yaitu Hukum (saran dari ibu). Alasan kenapa saya lebih memprioritaskan Ekonomi karena saya rasa mampu dibidang tersebut, bayangkan saja, waktu masih SMA seminggu menuai omset sebesar  1.500.000.00 tanpa modal sepeser pun (sombong fak). Kebetulan kala itu buku yang  saya baca karangan Ippo Santosa seperti, Marketing is Bullshit, 13 Wasiat Terlarang, 10 Jurus Terlarang dan 7 Keajaiban Rezeki. Jadi, setidaknya saya sedikit tahu tentang bisnis-bisnis klub.

Kemudian Psikologi menjadi alternatif kedua. Karena terlalu saya sering menerima berbagai curhatan dari manusia-manusia dengan bermacam karakter. Entah terlalu nyaman atau saya yang solutif. Padahal yang saya kenali dari diri saya sendiri adalah gateli. Ya, setidaknya saya akan belajar jika kelak memilih Psikologi. Setidaknya, sedikit bisa menjadi motivator lambe turah seperti Mario Tangguh yang down pada endingnya.
Namun, semua itu kandas seperti cintaku padanya, saat kelah debat dengan ibu. Ya, mau bagaimana lagi, saya masuk jurusan Hukum.
Singkat cerita saya menjadi mahasiswa yang masih memiliki tujuan kemapanan dihari kelak, seperti derajat yang tinggi, istri yang semlohay, jabatan, uang banyak dan semua itu saya bungkus dengan alibi mencari ilmu.

Saya masih ingat betul setelan baju putih, celana hitam, sepatu pantofel, sweater hitam dan tas coklat waktu masa pengenalan kampus. Baru setelah resmi menjadi mahasiswa Hukum saya lumayan keren (anda boleh tertawa kalau tahu saya sebenarnya).

Singkat cerita part #2 saya menggebu untuk meraih angan-angan awal saya tadi dengan banyak membaca, diskusi, dan lain sebagainya. Mengutarakan pendapat, melempar pertanyaan dan berdebat adalah keseharian dalam kelas. Tidak berhenti didalam kelas, menambah wawasan sebagai penunjang tersegeranya menjadi manusia impian, bisa di warung ataupun waktu sedang berdiam diri di kamar. Intinya, hari-hari sibuk dengan berbagai macam kegiatan.
Sampai akhirnya saya merasakan jenuh. Tidak lagi bersemangat untuk kuliah karena saya rasa kelas tidak memberiku apa-apa, ya ada, tapi tidak sebanyak dari diskusi-diskusi yang saya ikuti diluar kelas, biasanya waktu ngopi. Akhirnya, saya jarang kuliah, sering titip absen, lebih sering main, ngopi dan diskusi.

Pada titik jenuh, saya lebih ngawur dari biasanya. Saya lebih mementingkan kebutuhan sekunder daripada primer, gini kok mau masuk jurusan Ekonomi. Saya juga tidak memikirkan apa yang akan dirasakan orang tua saat melihatku di warung kopi, bukan dikelas. Saya juga mengabaikan bagaimana perasaanya yang percaya tapi saya hianati. Saya juga tidak memperdulikan bagaimana susahnya ia cari uang agar saya bisa kuliah, memberi uang saku, tapi malah saya salah gunakan. Memang, saya sedang kehilangan moral.  

Saya juga tidak/belum tahu sampai mana ruwetisme yang saya alami. Yang jelas saat ini saya tidak kuliah, bukan mengundurkan diri, tapi cuti sementara. Banyak-lah, hal yang tidak bisa saya ceritakan kenapa saya cuti. Bermacam rentetan kejadian yang endingnya saya jatuh karena kemakan ego dan idealisme yang tinggi. Sudah-sudah, ini temanya curhat (curahan hati) bukan curdeo (curahan ideologi).

Biar saya ceritakan masalah cuti. Pertama, terjadi kesepakatan antara saya dan ibu waktu itu, Cuma ibu, bapak sudah jalan sama yang lain. hasil dari kesepakatan saya tetap melanjutkan kuliah, waktu itu saya sudah melewati semester dua mau ke semester tiga. Setelah adu argumentasi, akhirnya saya kalah, ya, saya tidak pernah kalau adu argumen dengannya. Masalahnya, saya memakai logika, sedangkan ibu memakai moral. Mau gimana lagi, toh saya sudah kalah, ya harus mengikuti saran darinya. Yaitu mengurungkan niat untuk berhenti kuliah.

Ya anda pasti tahu kalau saya tidak menjalankan kesepakatan itu, saya lebih memilih minta uang untuk bayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk lan-jalan dengan man-teman. Juga, lebih memilih meminta uang saku untuk ngopi dan main game di warnet.

Waktu itu perekonomian keluarga sedang seret, jadinya butuh silat lidah yang licin untuk tetap bisa main game dan ngopi. Sampai pada suatu hari saya mengirim surat cuti via Whatsapp pada ibu. Hal itu terjadi karena waktu sedang nesu-nesu-an. Karena saya merasa bersalah karena akhirnya ia tahu kalau uang buat bayar UKT, uang saku mingguan, sedang saya gelapkan. Tanpa berpikir dua kali saya memutus komunikasi dengannya, seperti memblokir Whatsapp-nya. Mungkin, kekosongan komunikasi itu berselang selama tiga minggu. Dan saya isi waktu itu dengan suka-suka.
Setelah tiga minggu saya memutuskan kembali saling memberi kabar, saya kangen dengannya. Awalnya masih canggung, ibu juga cuwek. Ya, mau gimana lagi, dia juga perempuan, wajar saja. Terus seperti itu sampai saya minta untuk ditelfon.

Hampir se-jam kita saling tanya jawab dan menceritakan apa saja layaknya anak dengan orang tuanya. Alkisah, dia menceritakan mengikuti kegiatan pengajian rutin dan bedah tafsir tiap minggunya. Hari-harinya diisi dengan belajar, belajar dan belajar. Dia begitu bersemangat ketika menceritakan sedang berkumpul dengan ibu ibu yang semua memegang Al-qur’an, kitab tafsir dan alat tulis. Dia begitu senang ketika satu minggunya sibuk dangan hal itu. Entah kenapa cerita senang seperti itu membuat saya, ya, lumayan sedih. Walaupun saya tidak bisa menangis, tapi sedikit terharu. Mungkin, kalau saya ingat-ingat, dulu dia sangat susah kalau mau sekolah. Padahal dia memiliki keinginan yang besar untuk belajar bersama teman-temannya. Namun, tuhan berkata lain.

Sambil sesekali saya menghisap rokok dengan dalam saya terus mendengarkan ceritanya dan sedikit bernostalgia. Dulu, karena dia tidak bisa bersekolah, pokoknya dia harus bisa menyekolahkan anak-anaknya. Pertama, kaka, belum selesai SMA sudah keluar dan memilih jalannya sendiri. Adik baru lulus SMA sudah nikah. Tinggal saya, ya, seperti yang saya ceritakan tadi. Pasti dia sangat merasakan pahitnya gagal kedua kali.

Setelah panjang-lebar dia bercerita, tiba-tiba saya tersadar, mungkin ini waktunya dia untuk belajar. Walapun sudah tua tapi dia tak lelah ataupun malu, yang penting dia bisa belajar.

Sudahlah, kalau sudah seperti itu. Biarlah ekonomi ruwet dan dia malah sibuk pengajian kesana-kemari. Toh, esensi dia banting tulang agar bisa buat belajar ya tidak masalah. Kalau sekarang dia lagi bersemangat untuk belajar, ya, baguslah. Lagian saya masih cuti kuliah. Saya juga tidak mau menyuruhnya mengimbangi kerja dengan belajar.

Memasuki sepuluh menit terakhir sebelum selesai kita mengutarakan keinginan masing-masing layaknya anak kepada orang tua dan orang tua kepada anak. Kalau seperti malah saya teringat waktu saya rebahkan kepala ke pahanya dan saling bercerita. Memang hal itu jarang sekali terjadi, paling terjadi waktu dia pulang dari perantauan. Walaupun saya orang yang tidak terlalu memiliki hati, tapi kadang saya merindukan hal receh seperti itu.

Butuh delapan menit untuk mengutarakan keinginan masing-masing. Setelah salam menutup perkapan itu saya ingin kembali berkuliah. Namun, kali ini ada yang beda, yaitu saya sudah tau tujuannya. Yaitu, niat untuk membuat hatinya senang, -cukup.


Sampai sini adakah dari cerita saya yang lucu?

0 komentar:

Posting Komentar