Setelah setahun lebih menjamah dan meraba kehidupan kampus
yang katanya menjadi idaman siswa jaman now,
saya baru meng-amini tujuan kuliah yang sebenarnya. Ya, walapun kata idaman itu
akan hilang kalau kita sudah benar-benar masuk ke dunia perkampusan. Seperti
yang saya rasakan, paradigma ngampus
idaman adalah hoax (presepsi pribadi).
Sebenarnya saya juga bingung mau memulai tulisan ini dari
mana, mau dikatakan esai bukan, opini ya nggaak,
apalagi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang mengharuskan kaidah penulisan runtut
dan ala-ala ilmiah.
Lebih tepat kalau
tulisan ini berisi keluh dan kesah saya setelah melewati semester dua. Saat ini
saya semester tiga, tapi memilih cuti, karena berbagai macam faktor ruwetisme waktu menjadi mahasiswa. Toh,
dulu saya lebih minat masuk Badan Intelgen Negara (BIN), saya lebih tertarik
menjadi seorang agen. Seperti film Joker Game (2016), Kingsaman The Secret
Service (2015), Kingsman The Golden Circle (2017), Mission Imposible, dan lain
sebagainya. Betapa kerennya kalau saya memakai setelan pakem ala-ala FBI atau
CIA, dengan senjata minimal pistol tangan sekelas Raging Bull 454 Casull
Revolver atau C. Phyton. Kalau sedang ada misi memakai senjata yang lebih
berat, misalnya, P90 buatan Belgia, Sniper Rifle Barrett M82A buatan Amerika.
Kalau ekspetasi itu terlalu tinggi setidaknya PT Pindad punya senjata Assault
Rifle yang menurut saya kece banget, SS Pindad V5 yang recoilnya lebih kecil
dari SC-2010. Juga, Sniper SPR-2 karya PT Pindad yang lebih mantap dari
Barrett. Namun, semua itu hanya angan-angan yang jauh dari realita.
Anggap saja saya sedang sedang ngoceh sendiri di paragraf
dua. Karena kemungkinan hal itu terjadi hanya 0,30% saat orang tua menyuruh
untuk melanjutkan studi di perkuliahan. Akhirnya, sebelum resmi menjadi
mahasiswa saya memiliki beberapa pilihan jurusan yang akan saya tekuni.
Misalnya, Ekonomi dan Psikologi, kemudian bertambah satu yaitu Hukum (saran
dari ibu). Alasan kenapa saya lebih memprioritaskan Ekonomi karena saya rasa
mampu dibidang tersebut, bayangkan saja, waktu masih SMA seminggu menuai omset
sebesar 1.500.000.00 tanpa modal sepeser
pun (sombong fak). Kebetulan kala itu buku yang saya baca karangan Ippo Santosa seperti,
Marketing is Bullshit, 13 Wasiat Terlarang, 10 Jurus Terlarang dan 7 Keajaiban
Rezeki. Jadi, setidaknya saya sedikit tahu tentang bisnis-bisnis klub.
Kemudian Psikologi menjadi alternatif kedua. Karena terlalu
saya sering menerima berbagai curhatan dari manusia-manusia dengan bermacam
karakter. Entah terlalu nyaman atau saya yang solutif. Padahal yang saya kenali
dari diri saya sendiri adalah gateli.
Ya, setidaknya saya akan belajar jika kelak memilih Psikologi. Setidaknya, sedikit bisa menjadi motivator lambe
turah seperti Mario Tangguh yang down
pada endingnya.
Namun, semua itu kandas
seperti cintaku padanya, saat kelah debat dengan ibu. Ya, mau bagaimana
lagi, saya masuk jurusan Hukum.
Singkat cerita saya menjadi mahasiswa yang masih memiliki
tujuan kemapanan dihari kelak, seperti derajat yang tinggi, istri yang semlohay, jabatan, uang banyak dan semua
itu saya bungkus dengan alibi mencari ilmu.
Saya masih ingat betul setelan baju putih, celana hitam,
sepatu pantofel, sweater hitam dan tas coklat waktu masa pengenalan kampus.
Baru setelah resmi menjadi mahasiswa Hukum saya lumayan keren (anda boleh
tertawa kalau tahu saya sebenarnya).
Singkat cerita part #2 saya menggebu untuk meraih angan-angan
awal saya tadi dengan banyak membaca, diskusi, dan lain sebagainya.
Mengutarakan pendapat, melempar pertanyaan dan berdebat adalah keseharian dalam kelas. Tidak berhenti didalam kelas, menambah wawasan sebagai penunjang
tersegeranya menjadi manusia impian, bisa di warung ataupun waktu sedang
berdiam diri di kamar. Intinya, hari-hari sibuk dengan berbagai macam kegiatan.
Sampai akhirnya saya merasakan jenuh. Tidak lagi bersemangat
untuk kuliah karena saya rasa kelas tidak memberiku apa-apa, ya ada, tapi tidak
sebanyak dari diskusi-diskusi yang saya ikuti diluar kelas, biasanya waktu ngopi. Akhirnya, saya jarang kuliah,
sering titip absen, lebih sering main, ngopi dan diskusi.
Pada titik jenuh, saya lebih ngawur dari biasanya. Saya lebih
mementingkan kebutuhan sekunder daripada primer, gini kok mau masuk jurusan
Ekonomi. Saya juga tidak memikirkan apa yang akan dirasakan orang tua saat
melihatku di warung kopi, bukan dikelas. Saya juga mengabaikan bagaimana
perasaanya yang percaya tapi saya hianati. Saya juga tidak memperdulikan
bagaimana susahnya ia cari uang agar saya bisa kuliah, memberi uang saku, tapi
malah saya salah gunakan. Memang, saya sedang kehilangan moral.
Saya juga tidak/belum tahu sampai mana ruwetisme yang saya alami. Yang jelas saat ini saya tidak kuliah,
bukan mengundurkan diri, tapi cuti sementara. Banyak-lah, hal yang tidak bisa
saya ceritakan kenapa saya cuti. Bermacam rentetan kejadian yang endingnya saya
jatuh karena kemakan ego dan idealisme yang tinggi. Sudah-sudah, ini temanya curhat
(curahan hati) bukan curdeo (curahan ideologi).
Biar saya ceritakan masalah cuti. Pertama, terjadi
kesepakatan antara saya dan ibu waktu itu, Cuma ibu, bapak sudah jalan sama
yang lain. hasil dari kesepakatan saya tetap melanjutkan kuliah, waktu itu saya
sudah melewati semester dua mau ke semester tiga. Setelah adu argumentasi,
akhirnya saya kalah, ya, saya tidak pernah kalau adu argumen dengannya.
Masalahnya, saya memakai logika, sedangkan ibu memakai moral. Mau gimana lagi, toh saya sudah kalah, ya harus mengikuti
saran darinya. Yaitu mengurungkan niat untuk berhenti kuliah.
Ya anda pasti tahu kalau saya tidak menjalankan kesepakatan
itu, saya lebih memilih minta uang untuk bayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk
lan-jalan dengan man-teman. Juga, lebih memilih meminta uang saku untuk ngopi dan main game di warnet.
Waktu itu perekonomian keluarga sedang seret, jadinya butuh
silat lidah yang licin untuk tetap bisa main game dan ngopi. Sampai pada suatu hari saya mengirim surat cuti via Whatsapp pada ibu. Hal itu terjadi
karena waktu sedang nesu-nesu-an. Karena
saya merasa bersalah karena akhirnya ia tahu kalau uang buat bayar UKT, uang
saku mingguan, sedang saya gelapkan. Tanpa berpikir dua kali saya memutus
komunikasi dengannya, seperti memblokir Whatsapp-nya.
Mungkin, kekosongan komunikasi itu berselang selama tiga minggu. Dan saya isi
waktu itu dengan suka-suka.
Setelah tiga minggu saya memutuskan kembali saling memberi
kabar, saya kangen dengannya. Awalnya masih canggung, ibu juga cuwek. Ya, mau
gimana lagi, dia juga perempuan, wajar saja. Terus seperti itu sampai saya
minta untuk ditelfon.
Hampir se-jam kita saling tanya jawab dan menceritakan apa
saja layaknya anak dengan orang tuanya. Alkisah, dia menceritakan mengikuti
kegiatan pengajian rutin dan bedah tafsir tiap minggunya. Hari-harinya diisi
dengan belajar, belajar dan belajar. Dia begitu bersemangat ketika menceritakan
sedang berkumpul dengan ibu ibu yang semua memegang Al-qur’an, kitab tafsir dan
alat tulis. Dia begitu senang ketika satu minggunya sibuk dangan hal itu. Entah
kenapa cerita senang seperti itu membuat saya, ya, lumayan sedih. Walaupun saya
tidak bisa menangis, tapi sedikit terharu. Mungkin, kalau saya ingat-ingat,
dulu dia sangat susah kalau mau sekolah. Padahal dia memiliki keinginan yang
besar untuk belajar bersama teman-temannya. Namun, tuhan berkata lain.
Sambil sesekali saya menghisap rokok dengan dalam saya terus
mendengarkan ceritanya dan sedikit bernostalgia. Dulu, karena dia tidak bisa
bersekolah, pokoknya dia harus bisa menyekolahkan anak-anaknya. Pertama, kaka,
belum selesai SMA sudah keluar dan memilih jalannya sendiri. Adik baru lulus
SMA sudah nikah. Tinggal saya, ya, seperti yang saya ceritakan tadi. Pasti dia
sangat merasakan pahitnya gagal kedua kali.
Setelah panjang-lebar dia bercerita, tiba-tiba saya
tersadar, mungkin ini waktunya dia untuk belajar. Walapun sudah tua tapi dia
tak lelah ataupun malu, yang penting dia bisa belajar.
Sudahlah, kalau sudah seperti itu. Biarlah ekonomi ruwet dan
dia malah sibuk pengajian kesana-kemari. Toh, esensi dia banting tulang agar
bisa buat belajar ya tidak masalah. Kalau sekarang dia lagi bersemangat untuk
belajar, ya, baguslah. Lagian saya masih cuti kuliah. Saya juga tidak mau
menyuruhnya mengimbangi kerja dengan belajar.
Memasuki sepuluh menit terakhir sebelum selesai kita
mengutarakan keinginan masing-masing layaknya anak kepada orang tua dan orang
tua kepada anak. Kalau seperti malah saya teringat waktu saya rebahkan kepala
ke pahanya dan saling bercerita. Memang hal itu jarang sekali terjadi, paling
terjadi waktu dia pulang dari perantauan. Walaupun saya orang yang tidak
terlalu memiliki hati, tapi kadang saya merindukan hal receh seperti itu.
Butuh delapan menit untuk mengutarakan keinginan masing-masing.
Setelah salam menutup perkapan itu saya ingin kembali berkuliah. Namun, kali
ini ada yang beda, yaitu saya sudah tau tujuannya. Yaitu, niat untuk membuat
hatinya senang, -cukup.
Sampai sini adakah dari cerita saya yang lucu?
0 komentar:
Posting Komentar