Menjadi mahasiswa biasa dan kemudian menjadi 'sampah' adalah hal yang sudah lumrah.
Namun, menjadi mahasiswa berkualitas adalah tantangan tersendiri buat setiap mahasiswa. Tidak lain agar nantinya mudah diterima di masyarakat dan berguna bagi nusa bangsa.
Jika anda mahasiswa dan ingin berguna nantinya, maka tidak salah mengikuti kiat-kiat berikut. Dan tidak ada salahnya anda tidak menggunakannya, itu pilihan.
1. Kepo
Sering kita dengar bahwa kepo diidentikan kurang baik. Padahal banyak penemuan baik dalam dunia sains ataupun sosial yang mutakhir berawal dari kepo. Seperti keponya Thomas Alfa Edison terhadap suatu alat yang dapat menerangi ruangan. Akhirnya, ditemukanlah lampu. Contoh lain Alexander Graham Bell ataupun Honda.
Nah, hal sederhana yang bisa kita terapkan dalam dunia perkuliahan adalah kepo terhadap kampus yang kalian gunakan sebagai jalan menuntut ilmu, dosen, mata kuliah, teman sekelas, organisasi dan masih banyak yang lain.
Setelah kita tahu tentang hal diatas, kita akan semakin yakin dan tidakgagap dalam menjalani dunia perkuliahan di suatu universitas.
2. Tidak Mudah Percaya
Stereotip tidak mudah percaya itu perlu sesekali kita bongkar, karena ada kalanya itu perlu dan baik. Bahwa, tidak mudah percaya sering melahirkan suatu yang lebih revolusioner.
Ambil contoh sederhana. Dulu, semakin pahit kopi maka semakin berkualitas kopi tersebut. Dogma tersebut cukup bertahan lama di Eropa, sampai lahirnya orang-orang yang tidak percaya dengan dogma tersebut.
Akhirnya, ada gula sebagai pemanis agar rasa dari kopi semakin seimbang.
Perjalanan terus berlanjut sampai ada susu, cream dan lain-lain yang membuat olahan kopi semakin bervariasi.
Contoh lain, dalam konstruksi berpikir. Madilog, karya Tan Malaka yang menjadi salah satu dari seratus buku berpengaruh untuk perkembangan Indonesia versi Tempo, bermula ketika Tan Malaka tidak mudah percaya.
Alkisah, sebelum materialisme dialektika logika sudah ada materialisme dialektika histori. Namun, atas ketidakpercayaan Tan Malaka pada Historis, akhirnya muncullah logika.
Nah, hal sederhana yang bisa kita terapkan misalnya ketika sedang proses belajar mengajar dalam kelas. Ketika dosen sedang menerangkan mata kuliah, bisa kita tidak mudah percaya dengan membantahnya dengan teori atau literasi lain. Pastinya kita tidak kosong soal materi yang disampaikan oleh dosen. Bahkan, 1+1 tidak harus 2, tergantung teori apa yang digunakannya.
Bahkan, hal sederhana seperti ini bisa kita terapkan ketika sedang diskusi ringan dengan teman sekelas atau se-organisasi. Toh apa yang disampaikan teman kita dalam diskusi atau kajian tidak pasti benarnya. Bisa salah dan kemungkinan belum tentu benar.
3. Gemar Lapar
Karl Marx dengan maha karyanya yang mendunia tercipta ketika dia sedang lapar. Karena jelas, kajian secara kesehatan, perut lapar membuat kinerja semakin maksimal. Ya, toh?
Jadi, untuk anda-anda anak kosan yang terbiasa makan Uye Jelly Drink dan Kontramagh, anda tidak perlu bersedih. Salah besar jika malah bersedih saat kita sering merasakan kesulitan dalam finansial, justru kita harus bahagia.
Bahwa Tuhan masih memberikan kita banyak peluang untuk menjadi lebih berkualitas.
Namun, bersedihlah anda jika selalu diberi Tuhan kondisi perut yang selalu kenyang. Ujungnya, pasti anda suka tidur dan malas malasan.
Kiat ini tidak hanya berlaku bagi yang belum berkecukupan, dan tidak ada salahnya kita semua terbiasa dengan kondisi lapar.
4. Gemar dengan Masalah
"Ombak yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang hebat," profesor Bobeye.
Tidak ada salahnya mengamini quote darinya. Bahkan sekelas Aladeen juga sangat kagum dengan sosok Bobeye. Pastinya anda tahu dengan Aladeen, aktor utama dari kisah The Dictator.
Di kisahkan bahwa Bobeye adalah pelaut dengan lengan yang kekar dan suka makan bayam. Dan Bobeye terkenal karena kisahnya yang sering melawan masalah.
Ya, masalah tidak selamanya buruk. Malah masalah itu secara tidak langsung mengajak kita untuk berpikir lebih kreatif dan kritis lagi. Seperti ada istilah The Power of Kepepet. Sederhananya, ya seperti itu, lah.
Malah yang lebih ekstrem seperti ini, di luar negeri ada musim dingin sebagai musim seleksi untuk menentukan siapa yang layak bertahan lebih lama di dunia. Jadi, siapapun yang kurang memiliki kemampuan berpikir yang tajam, pasti akan mati pada musim tersebut. Jadi siapun yang masih hidup setelah musim dingin adalah pribadi pribadi yang sedikit lebih berkualitas.
Nah, sampai sini kiranya ada bisa menjabarkan lebih jauh lagi. Jadi, jangan ragu-ragu untuk akrab dengan masalah. Kalau perlu buatlah masalah. Yang penting tanggung jawab, ya.
5. Rajin ke Warkop dan Perjalanan.
Mulailah membaur dengan siapapun yang anda temui di warung kopi. Karena selain sebagai tempat membuang penat anda, organisatoris ataupun aktivis juga melakukan hal yang sama. Malah lebih untung jika anda bersifat independen. Jadi, anda bebas berbaur ke golongan manapun. Misalnya, anda bisa membaur dengan PMII, HMI, GMNI, aktivis pers, anak-anak sastra dan masih banyak lainnya. Menarik, bukan?
Apalagi jika ada diskusi ketika anda sedang membaur, pastinya lebih nyaman. Karena diskusi di warkop tidak tersendat dengan hal-hal teknis dalam menyampaikan pendapat.
Jadi, ngopi kemana kita?
Soal perjalanan. Yakinlah, bahwa di jalanan bertabur doa-doa. Setidaknya, kita tidak perlu takut menjadi orang yang suka perjalanan. Kalaupun kita hanya kecipratan sedikit doa pejalan, tapi yakinlah di jalan masih banyak orang baik.
Selain itu, banyak pesan Tuhan yang dititipkan pada siapapun yang ada di jalanan untuk kita pahami.
6. Ikhlas
Tibalah kita pada kiat pamungkas, yaitu ikhlas. Hal yang terdengar sederhana, tapi sebenarnya tidak.
Setelah kita bisa melewati lima kiat diatas, tidak ada artinya jika kita gagal dalam fase ini. Tidak ada artinya jika kita bisa menerapkan kepo tapi tujuannya bukan untuk kebaikan. Tidak ada artinya juga dalam konstruksi berpikir kita tidak mudah percaya tapi tujuannya untuk menjatuhkan yang lain. Buat apa juga kita gemar lapar tapi masih minum minuman alkohol. Ha?
Tidak ada bedanya juga kita dengan preman pasar yang tidak memiliki tujuan membuat onar selain keuntungan belaka. Buat apa kita membaur ke banyak golongan mahasiswa tapi niatnya untuk menjilat?
Andai kata Ikhlas hadiahnya adalah mobil atau kulkas, saya yakin tidak akan sulit. Sayang, ikhlas hadiahnya bukan sekedar mobil atau kulkas, tapi lebih daripada itu semua dan bisa jadi lebih Indah daripada dunia dan seisinya. Cieee.
Anda jangan berharap ibadah kepada Tuhan masuk dalam daftar kiat. Ibadah kepada Tuhan itu sudah kewajiban mutlak anda kepada sang pencipta. Seperti halnya bakti seorang anak kepada orang tuanya. Ih, gitu aja pusing, dasar.
Haus literasi, organisatoris, aktif didalam atau diluar kelas, dan bla bla lainya yang biasa kita jumpai dalam kiat kiat, adalah cara kuno, basi dan joke receh yang biasa kita dengar. Seiring berjalannya kiat kiat basi tersebut, belum diimbangi dengan individu individu yang memang berkompeten.
Akhir kata, kiat-kiat yang kita tawarkan adalah dengan menempuh jalan yang banyak dikira orang itu receh, biasa, bahkan dianggap tidak baik.
Namun, menjadi mahasiswa berkualitas adalah tantangan tersendiri buat setiap mahasiswa. Tidak lain agar nantinya mudah diterima di masyarakat dan berguna bagi nusa bangsa.
Jika anda mahasiswa dan ingin berguna nantinya, maka tidak salah mengikuti kiat-kiat berikut. Dan tidak ada salahnya anda tidak menggunakannya, itu pilihan.
1. Kepo
Sering kita dengar bahwa kepo diidentikan kurang baik. Padahal banyak penemuan baik dalam dunia sains ataupun sosial yang mutakhir berawal dari kepo. Seperti keponya Thomas Alfa Edison terhadap suatu alat yang dapat menerangi ruangan. Akhirnya, ditemukanlah lampu. Contoh lain Alexander Graham Bell ataupun Honda.
Nah, hal sederhana yang bisa kita terapkan dalam dunia perkuliahan adalah kepo terhadap kampus yang kalian gunakan sebagai jalan menuntut ilmu, dosen, mata kuliah, teman sekelas, organisasi dan masih banyak yang lain.
Setelah kita tahu tentang hal diatas, kita akan semakin yakin dan tidakgagap dalam menjalani dunia perkuliahan di suatu universitas.
2. Tidak Mudah Percaya
Stereotip tidak mudah percaya itu perlu sesekali kita bongkar, karena ada kalanya itu perlu dan baik. Bahwa, tidak mudah percaya sering melahirkan suatu yang lebih revolusioner.
Ambil contoh sederhana. Dulu, semakin pahit kopi maka semakin berkualitas kopi tersebut. Dogma tersebut cukup bertahan lama di Eropa, sampai lahirnya orang-orang yang tidak percaya dengan dogma tersebut.
Akhirnya, ada gula sebagai pemanis agar rasa dari kopi semakin seimbang.
Perjalanan terus berlanjut sampai ada susu, cream dan lain-lain yang membuat olahan kopi semakin bervariasi.
Contoh lain, dalam konstruksi berpikir. Madilog, karya Tan Malaka yang menjadi salah satu dari seratus buku berpengaruh untuk perkembangan Indonesia versi Tempo, bermula ketika Tan Malaka tidak mudah percaya.
Alkisah, sebelum materialisme dialektika logika sudah ada materialisme dialektika histori. Namun, atas ketidakpercayaan Tan Malaka pada Historis, akhirnya muncullah logika.
Nah, hal sederhana yang bisa kita terapkan misalnya ketika sedang proses belajar mengajar dalam kelas. Ketika dosen sedang menerangkan mata kuliah, bisa kita tidak mudah percaya dengan membantahnya dengan teori atau literasi lain. Pastinya kita tidak kosong soal materi yang disampaikan oleh dosen. Bahkan, 1+1 tidak harus 2, tergantung teori apa yang digunakannya.
Bahkan, hal sederhana seperti ini bisa kita terapkan ketika sedang diskusi ringan dengan teman sekelas atau se-organisasi. Toh apa yang disampaikan teman kita dalam diskusi atau kajian tidak pasti benarnya. Bisa salah dan kemungkinan belum tentu benar.
3. Gemar Lapar
Karl Marx dengan maha karyanya yang mendunia tercipta ketika dia sedang lapar. Karena jelas, kajian secara kesehatan, perut lapar membuat kinerja semakin maksimal. Ya, toh?
Jadi, untuk anda-anda anak kosan yang terbiasa makan Uye Jelly Drink dan Kontramagh, anda tidak perlu bersedih. Salah besar jika malah bersedih saat kita sering merasakan kesulitan dalam finansial, justru kita harus bahagia.
Bahwa Tuhan masih memberikan kita banyak peluang untuk menjadi lebih berkualitas.
Namun, bersedihlah anda jika selalu diberi Tuhan kondisi perut yang selalu kenyang. Ujungnya, pasti anda suka tidur dan malas malasan.
Kiat ini tidak hanya berlaku bagi yang belum berkecukupan, dan tidak ada salahnya kita semua terbiasa dengan kondisi lapar.
4. Gemar dengan Masalah
"Ombak yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang hebat," profesor Bobeye.
Tidak ada salahnya mengamini quote darinya. Bahkan sekelas Aladeen juga sangat kagum dengan sosok Bobeye. Pastinya anda tahu dengan Aladeen, aktor utama dari kisah The Dictator.
Di kisahkan bahwa Bobeye adalah pelaut dengan lengan yang kekar dan suka makan bayam. Dan Bobeye terkenal karena kisahnya yang sering melawan masalah.
Ya, masalah tidak selamanya buruk. Malah masalah itu secara tidak langsung mengajak kita untuk berpikir lebih kreatif dan kritis lagi. Seperti ada istilah The Power of Kepepet. Sederhananya, ya seperti itu, lah.
Malah yang lebih ekstrem seperti ini, di luar negeri ada musim dingin sebagai musim seleksi untuk menentukan siapa yang layak bertahan lebih lama di dunia. Jadi, siapapun yang kurang memiliki kemampuan berpikir yang tajam, pasti akan mati pada musim tersebut. Jadi siapun yang masih hidup setelah musim dingin adalah pribadi pribadi yang sedikit lebih berkualitas.
Nah, sampai sini kiranya ada bisa menjabarkan lebih jauh lagi. Jadi, jangan ragu-ragu untuk akrab dengan masalah. Kalau perlu buatlah masalah. Yang penting tanggung jawab, ya.
5. Rajin ke Warkop dan Perjalanan.
Mulailah membaur dengan siapapun yang anda temui di warung kopi. Karena selain sebagai tempat membuang penat anda, organisatoris ataupun aktivis juga melakukan hal yang sama. Malah lebih untung jika anda bersifat independen. Jadi, anda bebas berbaur ke golongan manapun. Misalnya, anda bisa membaur dengan PMII, HMI, GMNI, aktivis pers, anak-anak sastra dan masih banyak lainnya. Menarik, bukan?
Apalagi jika ada diskusi ketika anda sedang membaur, pastinya lebih nyaman. Karena diskusi di warkop tidak tersendat dengan hal-hal teknis dalam menyampaikan pendapat.
Jadi, ngopi kemana kita?
Soal perjalanan. Yakinlah, bahwa di jalanan bertabur doa-doa. Setidaknya, kita tidak perlu takut menjadi orang yang suka perjalanan. Kalaupun kita hanya kecipratan sedikit doa pejalan, tapi yakinlah di jalan masih banyak orang baik.
Selain itu, banyak pesan Tuhan yang dititipkan pada siapapun yang ada di jalanan untuk kita pahami.
6. Ikhlas
Tibalah kita pada kiat pamungkas, yaitu ikhlas. Hal yang terdengar sederhana, tapi sebenarnya tidak.
Setelah kita bisa melewati lima kiat diatas, tidak ada artinya jika kita gagal dalam fase ini. Tidak ada artinya jika kita bisa menerapkan kepo tapi tujuannya bukan untuk kebaikan. Tidak ada artinya juga dalam konstruksi berpikir kita tidak mudah percaya tapi tujuannya untuk menjatuhkan yang lain. Buat apa juga kita gemar lapar tapi masih minum minuman alkohol. Ha?
Tidak ada bedanya juga kita dengan preman pasar yang tidak memiliki tujuan membuat onar selain keuntungan belaka. Buat apa kita membaur ke banyak golongan mahasiswa tapi niatnya untuk menjilat?
Andai kata Ikhlas hadiahnya adalah mobil atau kulkas, saya yakin tidak akan sulit. Sayang, ikhlas hadiahnya bukan sekedar mobil atau kulkas, tapi lebih daripada itu semua dan bisa jadi lebih Indah daripada dunia dan seisinya. Cieee.
Anda jangan berharap ibadah kepada Tuhan masuk dalam daftar kiat. Ibadah kepada Tuhan itu sudah kewajiban mutlak anda kepada sang pencipta. Seperti halnya bakti seorang anak kepada orang tuanya. Ih, gitu aja pusing, dasar.
Haus literasi, organisatoris, aktif didalam atau diluar kelas, dan bla bla lainya yang biasa kita jumpai dalam kiat kiat, adalah cara kuno, basi dan joke receh yang biasa kita dengar. Seiring berjalannya kiat kiat basi tersebut, belum diimbangi dengan individu individu yang memang berkompeten.
Akhir kata, kiat-kiat yang kita tawarkan adalah dengan menempuh jalan yang banyak dikira orang itu receh, biasa, bahkan dianggap tidak baik.
0 komentar:
Posting Komentar