“Kalau anak kecil sering sakit-sakitan itu biasanya tidak
kuat membawa namanya”
ucap lelaki paruh baya itu.
Biasanya lelaki paruh baya itu kalau dirumahmu sebutanya
bisa mbah, opah, ataupun kakek. Tapi
ditempat saya biasa disebut grandfa.
Ya, maklum lah kan saya masih ada keturunan Arab. Oke, masalah ucapan grandfa tadi pernah terjadi pada sepupu saya. Alkisah kalau
sepupu saya sering sakit-sakitan, kedua orang tuanya bingung, wayangnya
bingung, apalagi dalangnya, eh kok sampai dalang sama wayang sih? *Ralat, dua
atau tiga kalimat sebelumnya nggak usah
dibaca, kalau terlanjur ya sudahlah. Jadi, orangtua sepupu saya bingung, dibawa anaknya ke Rumah Sakit
memang bisa sembuh, tapi seminggu kemudian kambuh lagi sakitnya. Kejadin yang menemani setengah tahun hidup
sepupu saya itu mendapatkan sedikit cahaya, saat grandfa(baca kakek atau mbah)mengucapkan
kata-kata diatas tadi. Singkat cerita setelah diadakan syukuran mengganti nama
akhirnya sepupu saya bisa sembuh. Dan tidak sakit-sakitan lagi. Eciye, makasih klinik Tongseng, eh grandfa maksudnya.
Kalau mengingat kisah diatas saya malah teringat dengan
Irfa, Irfa siapa? Kepo ah. Dia pernah menulis dan menganalogikan kalau
Indonesia seperti sepupu saya
tadi. Si Irfa berasumsi kalau negara kita tidak kuat membawa namanya,
sehingga sering sakit-sakitan. Kalau saya lebih setuju Indonesia sedang Stroke. Kalau kamu
setuju dengan Irfa nggak? Saya sih
iya, saya juga merasakan kalau negara kita sedang sakit. Iya nggak sih? Iya saja. Kita semua kan bisa
melihatnya dari tatanan negara kita, mulai dari pemerintahanya, masyarakatnya,
sampai hukumnya juga sakit. Mulai dari birokrasinya yang sering terjerat kasus
korupsi, sedangkan yang korupsi juga bagian dari rakyat, dan hukumnya tumpul
keatas untuk si pelaku korupsi tadi. Sehingga yang sering terjadi para oknum
tersebut bisa tertawa diantara keluh-kesah kita. Dari rakyat yang biasa juga
masih banyak terjadi tindak pidana kriminal, padahal hukum sudah sangat mengaturnya,
namun dengan bertambahnya hukum juga semakin bertambahnya tindak pidana
kriminal yang terjadi di masyarakat, sakit ya! Ditambah dengan sakit yang ada
di negara kita, kita? Helo, negara saya Indonesia ya. Ya samalah. Oke, lanjut kalau
sakit dinegara ini diobati satu malah tumbuh seribu. Apa jangan-jangan ini
tafsiran dari lagu Gugur Bunga? Yang katanya mati satu tumbuh seribu. Hmm, bisa
jadi.
Tidak hanya menyalahkan, namun juga memberikan solusi atau sekedar
saran adalah yang diharapkan.
Begitu halnya Irfa juga memberikan solusi kalau Indonesia harus diganti
namanya, biar tidak sakit-sakitan. Kalau saya juga sependapat denganya, namun nama
apa yang cocok sebagai pengganti yang menjadi permasalahanya. Kalau ditinjau
dari sejarahnya memang banyak nama yang pernah dipakai Indonesia. Namun untuk
yang saat ini nama Indonesia kalau ditinjau dari artinya yaitu “kepulan India”. Seandainya diterapkan nama
itu malah seperti masa
kolonial yang menamai daratan kita dengan sebutan Hindia Belanda. Pendapat
seperti ini seperti yang pernah dikuatkan oleh Pram. Bukan Pramono, bukan juga
Pramuka, dan yang terpenting bukan Pram waks wauw ya, tapi Pramoedya Ananta
Toer. Ia berasusmi bahwa nama negara kita kurang mencakup nilai ahistoris. Ia
juga menyarankan kalau nama negara kita diganti dengan nama Nusantara atau
Dipantara. Wih keren juga tuh saran dari Pram, apalagi kalau diterapkan nama
Nusantara seperti masa Majapahit lebih kece
lagi. Bisa kebayang kan seandainya namanya diganti Nusantara, yang memiliki daerah
kekuasaan sampai Filipina atupun Brunai. Tapi kalau untuk saat ini bukan masalah sejauh mana kekuasaan
yang dipikirkan, tapi masalah kejayaan, dan yang terpenting masalah kesehatan
Indonesia sendiri. Pertanyaanya apakah kalau Indonesia diganti namanya bisa
sembuh dan jaya? InsyaAllah.
Dan jangan lupa syukuran.
Berbeda dengan Irfa yang membahas dari segi nama, kalau saya
mau membahas dari faktor orangtua Indonesia. Iya faktor kedua orangtua negara kita. Masalahnya
faktor ini juga sangat berpengaruh. Mulai peran bapak dan ibu untuk anak itu
berbeda dari masalah gen. Sering kali saya mendengarkan petuah dari orang lain,
entah itu kiyai, guru, ataupun dosen dikelas yang berkata kalau Ibu itu
menurunkan tata krama pada anak, sedangkan kalau bapak menurunkan kecerdasan
pada anaknya. Saya
sebagai anak juga merasa demikian. Ya, walaupun orangtua saya masih jauh dari kata baik, namun setidaknya saya menyadari
kalau bapak atau ibu saya menurunkan apa yang seharusnya mereka turunkan.
Seperti yang saya paparkan diatas tadi. Lantas, bagimana dengan ibu dan bapak
Indonesia?
Ibu.
Ibu kita Kartini.
Putri sejati, putri Indonesia, eh eh siapa yang nyuruh nyanyi? Saya kan cuma mau mendeskripsikan karakter
dari Kartini. Ish lah, kalian itu.
Secara umum
negara kita mengakui Kartini sebagai ibu dari bangsa kita. Selain emansipasinya
yang terkenal, sosok ini juga memiliki berbagai macam karakter positif yang
pantut untuk ditiru. Seperti karakter rendah hati, penyabar, penyayang dan
patuh kepada orang tua. Hal itulah yang mendukung diakuinya Kartini di negara
kita selain emansipasinya. Sosok yang saya rasa menganut feminis ini patut di
contoh. Masalahnya disaat sedang berjalanya doktrin tentang rendahnya kaum
perempuan, dia mau menyetarakan antara perempuan dengan lelaki, kalau dilihat
dari aksinya itu dia adalah sosok yang pemberani. Dan tidak salah memang kalau
Indonesia membuatkan lagu nasional untuknya.
Bapak.
Syahdan,
siapa dan bagaimana bapaknya Indonesia? Kalau menurut saya Soekarno adalah
bapak yang tepat. Ya, walaupun bapak-bapak di Negara kita ada banyak, seperti
bapak pembangunan, bapak koperasi, bapak sosiologi, bapak tua juga ada, tapi
jangan bapak-bapak genit ya! Saya lebih memilih Soekarno menjadi bapak
Indonesia karena peranya yang lebih terhadap Negara ini. Selain itu namanya
yang tidak hanya dikenal didalam negeri, tapi diluar negeri seperti Rusia,
Amerika, Arab, dan lain sebagainya membuat kharismatiknya bertambah. Dan tidak
perlu dipungkiri akan kepintaran dari Soekarno, buku-buku yang beliau baca juga
sangat banyak, bahkan ada yang pernah bilang kalau sehari beliau bisa membaca
sehari dua buku. Berbagai karya dan pemikiranya juga masih bertahan sampai saat
ini. Seperti bukunya yang berjudul Islam Sontoloyo ataupun Dibawah Bendera
Revolusi. Pemikiranya juga masih kental sampai saat ini, apalagi dikalangan
mahasiswa yang menganut ideologi Marhenisme, pemikiran sosialis Karl Marx ala
Indonesia. widih, kurang pintar
gimana bapak Indonesia?
Anaknya.
Lantas,
bagaimana dengan anaknya, Indonesia? kalau melihat penjabaran diatas tadi,
sudahkan negara kita mewarisi gen dari bapak dan ibunya yang perlu
dipertanyakan. Mulai dari karakter positif dari ibunya. Penyayang? Saya rasa
tidak. Kalau melihat hutan-hutan yang semakin gundul seperti derajat dari
rakyat biasa. Patuh kepada orang tua? Jangankan patuh, ingat saja sudah
Alhamdulillah. Pemberani? Malah tidak banget, lihat saja Negara kita masih
mengandalkan Negara lain seperti Freeport dari Amerika ataupun yang sedang
baru-baru terjadi yaitu investasi dari king
Salman, ataupun pembangunan yang ditangani oleh Cina. Kalau saya analogikan
Negara kita itu seperti seorang wanita zaman dulu, kuasanya masih ada pada
tangan lelaki (Negara lain).
Mungkin gen
dari Soekarno yang dominan, tapi kok saya ragu mau menguraikanya. Masalahnya
kalau saya sudah capek-capek nulis ternyata tidak ada yang cocok kan saya juga
yang rugi. Baiklah, mari uraikan bersama saja. Singkat cerita tidak ada
kecocokan diantara Soekarno dengan Indonesia.
Lalu,
Indonesia ini anak siapa? Masalahnya orang yang pernah datang ke negara kita
banyak, seperti halnya Belanda, Jepang dan lainya. Tidak menutup
kemungkinan kalau mereka meninggalkan
gen mereka untuk Negara ini. Kalau sudah seperti ini saya malah merasa ada yang
salah dengan Indonesia, banyak. Saya rasa untuk menggambarkan Indonesia yang
saat ini saya teringat akan sinetron yang pernah tayang di layar kaca
Indonesia, yaitu “Putra yang Tertukar”.

0 komentar:
Posting Komentar