Senin, 20 Maret 2017

Indonesia Putera yang Tertukar

“Kalau anak kecil sering sakit-sakitan itu biasanya tidak kuat membawa namanya” ucap lelaki paruh baya itu.

Biasanya lelaki paruh baya itu kalau dirumahmu sebutanya bisa mbah, opah, ataupun kakek. Tapi ditempat saya biasa disebut grandfa. Ya, maklum lah kan saya masih ada keturunan Arab. Oke, masalah ucapan grandfa tadi pernah terjadi pada sepupu saya. Alkisah kalau sepupu saya sering sakit-sakitan, kedua orang tuanya bingung, wayangnya bingung, apalagi dalangnya, eh kok sampai dalang sama wayang sih? *Ralat, dua atau tiga kalimat sebelumnya nggak usah dibaca, kalau terlanjur ya sudahlah. Jadi, orangtua sepupu saya bingung, dibawa anaknya ke Rumah Sakit memang bisa sembuh, tapi seminggu kemudian kambuh lagi sakitnya. Kejadin yang menemani setengah tahun hidup sepupu saya itu mendapatkan sedikit cahaya, saat grandfa(baca kakek atau mbah)mengucapkan kata-kata diatas tadi. Singkat cerita setelah diadakan syukuran mengganti nama akhirnya sepupu saya bisa sembuh. Dan tidak sakit-sakitan lagi. Eciye, makasih klinik Tongseng, eh grandfa maksudnya.

Kalau mengingat kisah diatas saya malah teringat dengan Irfa, Irfa siapa? Kepo ah. Dia pernah menulis dan menganalogikan kalau Indonesia seperti sepupu saya tadi. Si Irfa berasumsi kalau negara kita tidak kuat membawa namanya, sehingga sering sakit-sakitan. Kalau saya lebih setuju Indonesia sedang Stroke. Kalau kamu setuju dengan Irfa nggak? Saya sih iya, saya juga merasakan kalau negara kita sedang sakit. Iya nggak sih? Iya saja. Kita semua kan bisa melihatnya dari tatanan negara kita, mulai dari pemerintahanya, masyarakatnya, sampai hukumnya juga sakit. Mulai dari birokrasinya yang sering terjerat kasus korupsi, sedangkan yang korupsi juga bagian dari rakyat, dan hukumnya tumpul keatas untuk si pelaku korupsi tadi. Sehingga yang sering terjadi para oknum tersebut bisa tertawa diantara keluh-kesah kita. Dari rakyat yang biasa juga masih banyak terjadi tindak pidana kriminal, padahal hukum sudah sangat mengaturnya, namun dengan bertambahnya hukum juga semakin bertambahnya tindak pidana kriminal yang terjadi di masyarakat, sakit ya! Ditambah dengan sakit yang ada di negara kita, kita? Helo, negara saya Indonesia ya. Ya samalah. Oke, lanjut kalau sakit dinegara ini diobati satu malah tumbuh seribu. Apa jangan-jangan ini tafsiran dari lagu Gugur Bunga? Yang katanya mati satu tumbuh seribu. Hmm, bisa jadi.

Tidak hanya menyalahkan, namun juga memberikan solusi atau sekedar saran adalah yang diharapkan. Begitu halnya Irfa juga memberikan solusi kalau Indonesia harus diganti namanya, biar tidak sakit-sakitan. Kalau saya juga sependapat denganya, namun nama apa yang cocok sebagai pengganti yang menjadi permasalahanya. Kalau ditinjau dari sejarahnya memang banyak nama yang pernah dipakai Indonesia. Namun untuk yang saat ini nama Indonesia kalau ditinjau dari artinya yaitu “kepulan India”. Seandainya diterapkan nama itu malah seperti masa kolonial yang menamai daratan kita dengan sebutan Hindia Belanda. Pendapat seperti ini seperti yang pernah dikuatkan oleh Pram. Bukan Pramono, bukan juga Pramuka, dan yang terpenting bukan Pram waks wauw ya, tapi Pramoedya Ananta Toer. Ia berasusmi bahwa nama negara kita kurang mencakup nilai ahistoris. Ia juga menyarankan kalau nama negara kita diganti dengan nama Nusantara atau Dipantara. Wih keren juga tuh saran dari Pram, apalagi kalau diterapkan nama Nusantara seperti masa Majapahit lebih kece lagi. Bisa kebayang kan seandainya namanya diganti Nusantara, yang memiliki daerah kekuasaan sampai Filipina atupun Brunai. Tapi kalau untuk saat ini bukan masalah sejauh mana kekuasaan yang dipikirkan, tapi masalah kejayaan, dan yang terpenting masalah kesehatan Indonesia sendiri. Pertanyaanya apakah kalau Indonesia diganti namanya bisa sembuh dan jaya? InsyaAllah. Dan jangan lupa syukuran.

Berbeda dengan Irfa yang membahas dari segi nama, kalau saya mau membahas dari faktor orangtua Indonesia. Iya faktor kedua orangtua negara kita. Masalahnya faktor ini juga sangat berpengaruh. Mulai peran bapak dan ibu untuk anak itu berbeda dari masalah gen. Sering kali saya mendengarkan petuah dari orang lain, entah itu kiyai, guru, ataupun dosen dikelas yang berkata kalau Ibu itu menurunkan tata krama pada anak, sedangkan kalau bapak menurunkan kecerdasan pada anaknya. Saya sebagai anak juga merasa demikian. Ya, walaupun orangtua saya masih jauh dari kata baik, namun setidaknya saya menyadari kalau bapak atau ibu saya menurunkan apa yang seharusnya mereka turunkan. Seperti yang saya paparkan diatas tadi. Lantas, bagimana dengan ibu dan bapak Indonesia?

Ibu.
Ibu kita Kartini. Putri sejati, putri Indonesia, eh eh siapa yang nyuruh nyanyi?  Saya kan cuma mau mendeskripsikan karakter dari Kartini. Ish lah, kalian itu.
Secara umum negara kita mengakui Kartini sebagai ibu dari bangsa kita. Selain emansipasinya yang terkenal, sosok ini juga memiliki berbagai macam karakter positif yang pantut untuk ditiru. Seperti karakter rendah hati, penyabar, penyayang dan patuh kepada orang tua. Hal itulah yang mendukung diakuinya Kartini di negara kita selain emansipasinya. Sosok yang saya rasa menganut feminis ini patut di contoh. Masalahnya disaat sedang berjalanya doktrin tentang rendahnya kaum perempuan, dia mau menyetarakan antara perempuan dengan lelaki, kalau dilihat dari aksinya itu dia adalah sosok yang pemberani. Dan tidak salah memang kalau Indonesia membuatkan lagu nasional untuknya.

Bapak.
Syahdan, siapa dan bagaimana bapaknya Indonesia? Kalau menurut saya Soekarno adalah bapak yang tepat. Ya, walaupun bapak-bapak di Negara kita ada banyak, seperti bapak pembangunan, bapak koperasi, bapak sosiologi, bapak tua juga ada, tapi jangan bapak-bapak genit ya! Saya lebih memilih Soekarno menjadi bapak Indonesia karena peranya yang lebih terhadap Negara ini. Selain itu namanya yang tidak hanya dikenal didalam negeri, tapi diluar negeri seperti Rusia, Amerika, Arab, dan lain sebagainya membuat kharismatiknya bertambah. Dan tidak perlu dipungkiri akan kepintaran dari Soekarno, buku-buku yang beliau baca juga sangat banyak, bahkan ada yang pernah bilang kalau sehari beliau bisa membaca sehari dua buku. Berbagai karya dan pemikiranya juga masih bertahan sampai saat ini. Seperti bukunya yang berjudul Islam Sontoloyo ataupun Dibawah Bendera Revolusi. Pemikiranya juga masih kental sampai saat ini, apalagi dikalangan mahasiswa yang menganut ideologi Marhenisme, pemikiran sosialis Karl Marx ala Indonesia. widih, kurang pintar gimana bapak Indonesia?

Anaknya.
Lantas, bagaimana dengan anaknya, Indonesia? kalau melihat penjabaran diatas tadi, sudahkan negara kita mewarisi gen dari bapak dan ibunya yang perlu dipertanyakan. Mulai dari karakter positif dari ibunya. Penyayang? Saya rasa tidak. Kalau melihat hutan-hutan yang semakin gundul seperti derajat dari rakyat biasa. Patuh kepada orang tua? Jangankan patuh, ingat saja sudah Alhamdulillah. Pemberani? Malah tidak banget, lihat saja Negara kita masih mengandalkan Negara lain seperti Freeport dari Amerika ataupun yang sedang baru-baru terjadi yaitu investasi dari king Salman, ataupun pembangunan yang ditangani oleh Cina. Kalau saya analogikan Negara kita itu seperti seorang wanita zaman dulu, kuasanya masih ada pada tangan lelaki (Negara lain).
Mungkin gen dari Soekarno yang dominan, tapi kok saya ragu mau menguraikanya. Masalahnya kalau saya sudah capek-capek nulis ternyata tidak ada yang cocok kan saya juga yang rugi. Baiklah, mari uraikan bersama saja. Singkat cerita tidak ada kecocokan diantara Soekarno dengan Indonesia.
Lalu, Indonesia ini anak siapa? Masalahnya orang yang pernah datang ke negara kita banyak, seperti halnya Belanda, Jepang dan lainya. Tidak menutup kemungkinan  kalau mereka meninggalkan gen mereka untuk Negara ini. Kalau sudah seperti ini saya malah merasa ada yang salah dengan Indonesia, banyak. Saya rasa untuk menggambarkan Indonesia yang saat ini saya teringat akan sinetron yang pernah tayang di layar kaca Indonesia, yaitu “Putra yang Tertukar”.


0 komentar:

Posting Komentar