![]() |
| Ilustrasi. Foto: Bii |
Sebelum Covid-19 atau yang akrab disapa corona
masuk ke Indonesia, pemerintah kita melalui beberapa pejabat penting menunjukan
sikap yang teramat congkak. Mungkin, sikap tersebut diambil untuk tidak menciptakan
kepanikan bagi warga negara Indonesia. Begitupun dengan media yang alih-alih
membuka kenyataan yang ada, pemberitaan yang mereka terbitkan dengan gencar
malah meningkatkan ketakutan dan semacam teror. Padahal perihal penanggulangan
dan mekanisme wabah ini sudah jelas. Teror ini saya melihatnya seperti fenomena
pasca pemilihan presiden 2019 lalu, hingga media sosial banyak di lockdown oleh Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kominfo).
Sekarang kita simak bersama bagaimana sikap
dari pejabat-pejabat yang akan saya sebutkan; Ketua Komisi IX DPR RI 2009-2014,
Ribka Tjiptaning, mengatakan bahwa Korona adalah ’Komunitas Rondo Mempesona’
ketika sedang rapat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menteri Perhubungan
Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi mengatakan, ”kita kebal corona karena
doyan nasi kuning” – kebal ndasnya.
Memang yang sudah meninggal karena wabah ini tidak doyan nasi kuning?
Naasnya, Menteri Kesehatan, Terawan Agus
Putranto, malah menantang Harvard buktikan corona di Indonesia. Selanjutnya,
masih dengan Terawan, mengatakan bahwa doa yang membuat Indonesia terbebas dari
corona. Begitupun dengan Mahfud MD, mengatakan bahwa Indonesia satu-satunya
negara besar di Asia yang terbebas dari corona. Sampai ke presiden kita yang
wah, Jokowi, memastikan virus ini tidak terdeteksi di Indonesia.
Logika dan retorika cacat di atas didasari
kesombongan dan kecongkakan saat virus corona belum terdeteksi. Saya sendiri
sebagai warga negara yang lumayan baik menyikapi sikap pemerintah tersebut
sedikit geram, banyak ngakaknya.
Toh sebenarnya, virus-virus lain yang memiliki
potensi kematian bagi siapa saja. Selain itu, banyak film yang pernah saya
tonton mengenai virus dan penyebarannya, semua memiliki potensi terjangkit,
kecuali orang gila. Faktanya, saya belum pernah mendengar orang gila kena
tifus, atau corona sekalipun.
Saya tidak akan berbicara mengenai virus yang
katanya dalam perspektif konsiprasi adalah perampingan penduduk bumi.
Kembali pada pembahasan corona, secara medis
cara mengantisipasinya sudah jelas, edukasi-edukasi di media sosial (termasuk broadcast di grup WhatsApp keluarga)
banyak berseliweran langkah mencegah corona. Slogan yang terkenal, sedia payung
sebelum hujan, mencegah lebih baik daripada mengobati, sudah banyak, banyak
sekali. Lalu, langkah selanjutnya tinggal mengikuti saja kiat-kiatnya.
Lalu, kenapa penyebaran virus ini terus saja
bertambah?
Begini, mudah saja. Saya meyakini bahwa apa
yang terjadi hari ini adalah buah dari kemarin. Jika daya upaya baik di
kemarin, kejadian hari ini akan setimpal baiknya pula. Lalu, terkait wabah
virus ini sedari awal sikap pemerintah pembantu rakyat kita sudah tidak
tepat. Jika sekarang terjadi kalang kabut, ya tidak perlu kaget dan risau.
Bayangkan saja, ketika corona mewabah di luar
Indonesia dan terjadi kelangkaan stok masker, eh, masih sempat-sempatnya mikir
perut dan keuntungan dengan mengekspor masker. Andaikata ketika wabah ini mulai
keluar dari Cina, pembantu rakyat Indonesia langsung melakukan kiat-kiat yang
seharusnya, maka wabah ini bisa diminimalisasi sedini mungkin. Semua bisa
senang, pemerintah bisa siap, warganya bisa merasa aman dengan tindakan
pemerintah, semua bahagia dan tidak akan ada kekagetan yang tidak diperlukan.
Ah, sial, sedari awal sudah sesumbar, ya beda cerita.
Pemerintah yang suka guyon, sementara waktu
prioritaskan saja tentang keamanan warga negara. Ekonomi belakangan. Pasalnya,
perihal makan, warga negara bisa melakukan daya upaya sendiri. Ciptakan saja
rasa aman yang nyata. Fakta penguatnya adalah, ketika nilai rupiah sedang turun
di hadapan dolar, tidak terlalu ramai diperbincangkan, tidak terlalu membuat
risau masyarakat.
Saya tahu, bahwa pemerintah yang terhormat
melalui Pakde, lebih tahu bagaimana menimbulkan rasa aman bagi warga negaranya.
Misalnya yang sekarang lagi ramai masalah corona, banyak orang-orang pintar
yang tahu bagaimana penangan negara yang berhasil menghadapi wabah ini, saya
yakin dengan sepenuhnya pemerintah lebih tahu. Jangan jadi dzolim, tahu tapi
tidak dilakukan. Jangan menjadi dajjal-dajjal terbarukan lah, ya.
Begitupun dengan pemberitaan media, alih-alih
memberitakan yang faktual, tapi kenyataannya kan memburu pembaca. Terlebih saat
ini sedang berlangsung Work From Home
(WFH) – begitu jengkelnya ketika yang berseliweran hanya soal corona. Kayak
masalah dan kejadian di dunia, Indonesia khususnya, hanya soal wabah ini saja.
Iya, saya tahu, anda memiliki fungsi
menginformasikan, tapi kalau informasinya itu-itu mulu gimana? Bosen, bangs*at!
Lantas bagaimana dengan fungsi menghibur? hiburan taik.
Sekarang seperti ini, misalnya pemberitaan
terkait update jumlah korban atau setidaknya yang positif corona, kalau
sudah tahu lalu apa? Jangan malah menjadi seperti teror propaganda teroris yang
menyebarkan ketakutan. Dan tentu, ketakutan itu bukan main-main imbasnya.
Lebih jauh, kalian-kalian yang di media
memiliki kekuatan dalam menggiring opini pembaca. Kalian memiliki fungsi
edukasi, mbok ya ada menyebarkan
konten bagaimana cara mengatisipasi ketakutan, atau bagaimana caranya agar
tidak panik. Dasar setan! Hehehe,-
Pantas saja orang yang aktif di media sekarang
tidak bisa seperti dulu, banyak orang hebat yang lahir dari jurnalis, sebuah
jalan kenabian. Naasnya sekarang lebih mencetak manusia-manusia ’karnopen’ yang
di dalam kepalanya hampir tidak terpikirkan tentang arti kemanusiaan.
Sampai sini, bukan maksud hati mencela
keberadaan media. Tapi, alangkah baiknya bagaimana media mampu menciptakan
komposisi yang pas. Ya membicarakan fakta (permasalahan), ya memberikan solusi.
Saya sangat mengamini, bahwa keberadaan kalian penting, sangat penting malah.
Namun, untuk masalah di atas, saya pribadi yang bukan siapa-siapa, muak.
Syahdan, pernah tidak kalian memikirkan
emak-emak di desa saya atau di desa lainnya, yang menonton Televisi kemudian
takut karena terus dijejali corona. Lalu, mereka mulai membicarakan ke
emak-emak lain yang belum mengetahui, yang akhirnya takut juga. Mereka, lalu
mulai rasan-rasan siapa yang bisa disalahkan, dan seterusnya. Lalu,
secara syariat mereka berbuat dosa siapa yang memicu? Iblis.
Syahdan, sebagai pengingat untuk kita semua.
Bahwa, virus yang sekarang ramai diperbincangkan dan membuat kalang kabut
wujudnya kecil sekali. Tidak akan nampak dengan mata telanjang saja. Namun,
perkara yang kecil tersebut mampu membuat kocar-kacir sebuah negara, ya, karena
memang jumlahnya banyak.
Begitu naasnya jika kita masih saja congkak dan
merasa sok paling sempurna, tapi kalah dengan perkara yang lebih kecil dari
upil kita sendiri. Naas, sekali.

0 komentar:
Posting Komentar