Senin, 23 Maret 2020

Kecongkakan Pemerintah dan Teror Media Terhadap Corona

Ilustrasi. Foto: Bii

Sebelum Covid-19 atau yang akrab disapa corona masuk ke Indonesia, pemerintah kita melalui beberapa pejabat penting menunjukan sikap yang teramat congkak. Mungkin, sikap tersebut diambil untuk tidak menciptakan kepanikan bagi warga negara Indonesia. Begitupun dengan media yang alih-alih membuka kenyataan yang ada, pemberitaan yang mereka terbitkan dengan gencar malah meningkatkan ketakutan dan semacam teror. Padahal perihal penanggulangan dan mekanisme wabah ini sudah jelas. Teror ini saya melihatnya seperti fenomena pasca pemilihan presiden 2019 lalu, hingga media sosial banyak di lockdown oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Sekarang kita simak bersama bagaimana sikap dari pejabat-pejabat yang akan saya sebutkan; Ketua Komisi IX DPR RI 2009-2014, Ribka Tjiptaning, mengatakan bahwa Korona adalah ’Komunitas Rondo Mempesona’ ketika sedang rapat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi mengatakan, ”kita kebal corona karena doyan nasi kuning” – kebal ndasnya. Memang yang sudah meninggal karena wabah ini tidak doyan nasi kuning?

Naasnya, Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, malah menantang Harvard buktikan corona di Indonesia. Selanjutnya, masih dengan Terawan, mengatakan bahwa doa yang membuat Indonesia terbebas dari corona. Begitupun dengan Mahfud MD, mengatakan bahwa Indonesia satu-satunya negara besar di Asia yang terbebas dari corona. Sampai ke presiden kita yang wah, Jokowi, memastikan virus ini tidak terdeteksi di Indonesia.

Logika dan retorika cacat di atas didasari kesombongan dan kecongkakan saat virus corona belum terdeteksi. Saya sendiri sebagai warga negara yang lumayan baik menyikapi sikap pemerintah tersebut sedikit geram, banyak ngakaknya.

Toh sebenarnya, virus-virus lain yang memiliki potensi kematian bagi siapa saja. Selain itu, banyak film yang pernah saya tonton mengenai virus dan penyebarannya, semua memiliki potensi terjangkit, kecuali orang gila. Faktanya, saya belum pernah mendengar orang gila kena tifus, atau corona sekalipun.

Saya tidak akan berbicara mengenai virus yang katanya dalam perspektif konsiprasi adalah perampingan penduduk bumi.

Kembali pada pembahasan corona, secara medis cara mengantisipasinya sudah jelas, edukasi-edukasi di media sosial (termasuk broadcast di grup WhatsApp keluarga) banyak berseliweran langkah mencegah corona. Slogan yang terkenal, sedia payung sebelum hujan, mencegah lebih baik daripada mengobati, sudah banyak, banyak sekali. Lalu, langkah selanjutnya tinggal mengikuti saja kiat-kiatnya.

Lalu, kenapa penyebaran virus ini terus saja bertambah?

Begini, mudah saja. Saya meyakini bahwa apa yang terjadi hari ini adalah buah dari kemarin. Jika daya upaya baik di kemarin, kejadian hari ini akan setimpal baiknya pula. Lalu, terkait wabah virus ini sedari awal sikap pemerintah pembantu rakyat kita sudah tidak tepat. Jika sekarang terjadi kalang kabut, ya tidak perlu kaget dan risau.

Bayangkan saja, ketika corona mewabah di luar Indonesia dan terjadi kelangkaan stok masker, eh, masih sempat-sempatnya mikir perut dan keuntungan dengan mengekspor masker. Andaikata ketika wabah ini mulai keluar dari Cina, pembantu rakyat Indonesia langsung melakukan kiat-kiat yang seharusnya, maka wabah ini bisa diminimalisasi sedini mungkin. Semua bisa senang, pemerintah bisa siap, warganya bisa merasa aman dengan tindakan pemerintah, semua bahagia dan tidak akan ada kekagetan yang tidak diperlukan. Ah, sial, sedari awal sudah sesumbar, ya beda cerita.

Pemerintah yang suka guyon, sementara waktu prioritaskan saja tentang keamanan warga negara. Ekonomi belakangan. Pasalnya, perihal makan, warga negara bisa melakukan daya upaya sendiri. Ciptakan saja rasa aman yang nyata. Fakta penguatnya adalah, ketika nilai rupiah sedang turun di hadapan dolar, tidak terlalu ramai diperbincangkan, tidak terlalu membuat risau masyarakat.

Saya tahu, bahwa pemerintah yang terhormat melalui Pakde, lebih tahu bagaimana menimbulkan rasa aman bagi warga negaranya. Misalnya yang sekarang lagi ramai masalah corona, banyak orang-orang pintar yang tahu bagaimana penangan negara yang berhasil menghadapi wabah ini, saya yakin dengan sepenuhnya pemerintah lebih tahu. Jangan jadi dzolim, tahu tapi tidak dilakukan. Jangan menjadi dajjal-dajjal terbarukan lah, ya.

Begitupun dengan pemberitaan media, alih-alih memberitakan yang faktual, tapi kenyataannya kan memburu pembaca. Terlebih saat ini sedang berlangsung Work From Home (WFH) – begitu jengkelnya ketika yang berseliweran hanya soal corona. Kayak masalah dan kejadian di dunia, Indonesia khususnya, hanya soal wabah ini saja.

Iya, saya tahu, anda memiliki fungsi menginformasikan, tapi kalau informasinya itu-itu mulu gimana? Bosen, bangs*at! Lantas bagaimana dengan fungsi menghibur? hiburan taik.

Sekarang seperti ini, misalnya pemberitaan terkait update jumlah korban atau setidaknya yang positif corona, kalau sudah tahu lalu apa? Jangan malah menjadi seperti teror propaganda teroris yang menyebarkan ketakutan. Dan tentu, ketakutan itu bukan main-main imbasnya.

Lebih jauh, kalian-kalian yang di media memiliki kekuatan dalam menggiring opini pembaca. Kalian memiliki fungsi edukasi, mbok ya ada menyebarkan konten bagaimana cara mengatisipasi ketakutan, atau bagaimana caranya agar tidak panik. Dasar setan! Hehehe,-

Pantas saja orang yang aktif di media sekarang tidak bisa seperti dulu, banyak orang hebat yang lahir dari jurnalis, sebuah jalan kenabian. Naasnya sekarang lebih mencetak manusia-manusia ’karnopen’ yang di dalam kepalanya hampir tidak terpikirkan tentang arti kemanusiaan.

Sampai sini, bukan maksud hati mencela keberadaan media. Tapi, alangkah baiknya bagaimana media mampu menciptakan komposisi yang pas. Ya membicarakan fakta (permasalahan), ya memberikan solusi. Saya sangat mengamini, bahwa keberadaan kalian penting, sangat penting malah. Namun, untuk masalah di atas, saya pribadi yang bukan siapa-siapa, muak.

Syahdan, pernah tidak kalian memikirkan emak-emak di desa saya atau di desa lainnya, yang menonton Televisi kemudian takut karena terus dijejali corona. Lalu, mereka mulai membicarakan ke emak-emak lain yang belum mengetahui, yang akhirnya takut juga. Mereka, lalu mulai rasan-rasan siapa yang bisa disalahkan, dan seterusnya. Lalu, secara syariat mereka berbuat dosa siapa yang memicu? Iblis.

Syahdan, sebagai pengingat untuk kita semua. Bahwa, virus yang sekarang ramai diperbincangkan dan membuat kalang kabut wujudnya kecil sekali. Tidak akan nampak dengan mata telanjang saja. Namun, perkara yang kecil tersebut mampu membuat kocar-kacir sebuah negara, ya, karena memang jumlahnya banyak.

Begitu naasnya jika kita masih saja congkak dan merasa sok paling sempurna, tapi kalah dengan perkara yang lebih kecil dari upil kita sendiri. Naas, sekali. 



0 komentar:

Posting Komentar