Setelah saya dicari banyak orang, keributan dimana-mana. Sampai ada yang main jelek dengan mengirim mantra, saya akan menyatakan sikap dengan niatan untuk menyudahi semuanya.
***
Hari lalu gelombang keributan semakin menjadi-jadi pada populasi mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Kontroversi antara pihak pro-kontra semakin tampak batang hidungnya. Tentu, menurut hukum alam yang ditafsirkan Newton menjadi hukum ketiganya bahwa, aksi dan reaksi tidak bisa dihindarkan.
Masih soal aksi-reaksi, Emha Ainun Najib memiliki pandangan sendiri akan hal tersebut. Yakni, sebab-akibat-akibat-sebab, yang artinya sebab bisa berubah posisi menjadi akibat, begitupun akibat yang bisa berubah menjadi akibat. Bahasa saya, kompleksitas suatu perkara.
Jadi gini kalau masih rumit, contoh kalimat: saya makanan banyak (sebab) akhirnya saya kekenyangan (akibat), karena terlalu kenyang (sebab) saya jadi mengantuk dan malas untuk membaca dan seterusnya.
Kembali. Hari lalu, pikiran dan hati saya sedikit terkoyak. Bohong jika saya tidak kepikiran. Hari lalu emosi saya begitu labil bak kisah-kasih remaja yang masih manggil pasangan dengan panggilan bunda dan ayah. Sungguh menjijikkan memang, tapi mau atau tidak, fakta tetap fakta.
Tentu ada sebab yang mendasari saya sampai perlu membumi. Adalah gelombang pertengkaran yang menurut saya masih tersandung gengsi dan ego masing-masing. Lebih jauh, semua itu terjadi karena konsistensi saya dalam memercikkan api. Begitu gencarnya dalam mengkritik yang wajar dalam dinamika kaum akademisi, ternyata harus diselesaikan dengan cara tidak akademisi.
Seperti hari lalu saat terjadi masifnya keributan di grup yang isinya dua golongan yang beda pandangan. Di grup fakultas hukum 2016 misalnya, malam itu kabarnya panas dan ramai. Orang yang dekat dengan saya memberi tahu keributan apa yang terjadi, karena selain saya tidak di dalam grup, juga tidak mau di grup tersebut.
Setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata keributan merambat kemana-kamana. Komentar postingan, grup angkatan, grup ini, grup itu, yang tidak ternyata hanya di grup kelas keponakan saya. Bercanda sayang.
Sedikit nyesek memang jika keributan harus sampai terjadi. Tapi ketika saya menyampaikan dengan sastra dan gaya yang sopan santun malah dikira nanti sedang pentas. Tentu saya tidak mau hal itu terjadi. Padahal kalau diingat, persoalan pokoknya adalah subsidi untuk mahasiswa. Yang jauh hari sebelum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UTM membuat postingan dengan judul "Menagih Janji", saya telah membuat petisi yang walaupun dituduh tidak ada legalitas dan perlu kajian mendalam.
Sekarang seperti ini, kenapa di postingan BEM UTM yang saya singgung itu ramai nyinyiran atau apa namanya? Hemat saya sebagai mahasiswa hukum yang ingin menjadi nelayan, ya kalian telat. Setelah saya dapat lebih dari seribu tanda tangan, eh kalian baru mau memercikan api dengan menempelkan beberapa quote atau lirik.
Namun, saya tetap dituntut untuk bijak dalam berpikir dan bertindak. Yang sudah ya sudah, kemarahan mahasiswa kepada BEM menjadi tolak ukur dasar bahwa kepercayaan sudah mulai terkikis. Teruntuk BEM, harus dengan profesional mengakui hal tersebut. Bisa dipastikan jika tidak mau mengakui hal tersebut, kalian akan sulit bangkit mendapatkan kepercayaan lagi dari mahasiswa.
Iya, kalian sudah mengirimkan surat yang memiliki legalitas atas isu yang ramai diperbincangkan. Walaupun kalian juga mengatakan bahwa hasilnya nihil. Itu kontradiktif ketika kalian berharap mahasiswa biasa seperti saya kalau ada apa-apa harus lapor ke kalian. Jangan sombong gitu dong, jangan mentang-mentang gitu, ah.
Sekarang saya tanya ya, ketua sama wakil itu tinggi mana stratanya? Ketua kan. Kalau rakyat sama wakil rakyat? Tentu rakyat yang paling berkuasa. Sedangkan wakil mahasiswa dengan mahasiswa? Tentu mahasiswa dong ya. Para wakil mahasiswa tak ubahnya pembantu mahasiswa.
Kendati demikian, anggota perwakilan mahasiswa tidak perlu gumede menjadi orang. Semesta menilai bagaimana sikap kalian, kemudian frekuensi tersebut akan menjadi reaksi dari orang lainnya. Sulit? Jadi gini, jika dalam hati kecil Anda ada sifat congkak yang tertanam, semesta akan tahu dan mengabarkan kepada lainnya bahwa ada congkak dalam diri Anda. Aneh kan ya? Memang.
Masih perihal yang sudah ya sudah. Saya akan berhenti memercikkan api yang biasa saya buat. Saya tidak ingin keributan berlarut-larut. Selain itu, kita semua memiliki visi yang sama, agar apa yang dijanjikan kampus segera dibayar tuntas. Sudah itu saja sebenarnya. Naasnya, karena kita kesandung ego dan gengsi masing-masing, jadinya masalah tersebut merembet kemana-mana.
Terlepas Anda butuh atau tidak subsidi tersebut, jangan sok kaya dengan mengatakan mahasiswa yang menagih haknya terpenuhi dengan mental peminta. Itu akan sangat menyakiti hati, saya juga benci sifat congkak yang begitu mendarah daging tersebut. Toh mau bagaimanapun mahasiswa yang menuntut haknya terpenuhi sudah menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa, baik secara administratif seperti membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Harus diakui itu yang penting, toh kampus tidak akan mencari mahasiswa yang bolos kuliah sampai harus mengulang di semester tua. Kampus kan hanya mau tahu mahasiswa sudah bayar UKT atau belum.
Kendati demikian, saya mengajak semua lapisan mahasiswa untuk satu suara dalam hal ini. Tinggalkan identitas masing-masing. Tidak perduli Anda dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), aktivis kampus, mahasiswa netral, independen, dan lainnya sebagainya.
Jangan sampai perseteruan kita yang menjadi korban adalah mahasiswa banyak. Mari kita perjuangkan bersama dengan satu suara.
Teruntuk teman-teman dari perwakilan mahasiswa, saya punya saran agar kepercayaan itu kembali kepada kalian. Yakni dengan lebih interaktif terhadap semua elemen mahasiswa. Jangan sampai gara-gara satu golongan kita menjadi cerai-berai dan esesnsi yang kita perjuangkan tidak tercapai.
Lebih lanjut, saya meminta mahasiswa yang membuat petisi agar dibubarkan BEM, DPM, dan MKM, untuk segera menyudahi menambah masalah. Tentu ini fatal, pasalnya nanti kita tidak fokus dengan tujuan utama. Walaupun sedari awal menurut perhitungan saya akan kejadian seperti ini, namun bisa saya pastikan tidak akan ikut-ikut dalam gerakan tersebut. Antara pihak yang menginginkan bubar, dan pihak yang ingin dibubarkan, coba negoisasikan kembali. Saya juga siap jika diminta menjadi penengah antara kalian, namun dengan syarat setelah itu kita satu suara untuk memperjuangkan hak mahasiswa. Bagaimanapun cara dan akibatnya, mari kita tanggung bersama.
Namun, ketika semua masih seperti sedia kala. Masih pada ego golongan masing-masing, masih tidak ingin bersatu, masih menunjukan sikap yang selaras dengan menganggap bahwa golongannya yang paling bisa dibenarkan, saya bersumpah demi nyawa saya sendiri akan terus memercikkan api, siapapun Anda saya tidak perduli.


Padahal yang diharapkan adalah balasan berkelas. :(
BalasHapusMungkin sulit, apalagi mereka masih menolak bersatu dan masih KE GOLONGAN!
HapusCok i, mangkel aku :v
Aku sih suka ramai, kalo sepi ntar dikira anak introvert
BalasHapusAnjir keren banget nih. Mantap kakak agitasinya. Saya kira sekelas utm yang ngikut pada dikti/ristek sudah dapat menuntaskan probelmatika mahasiswa eg ternyata sama juga nih dengan PTKIN.
BalasHapus