Saya begitu pesimis dengan jalur audiensi untuk menyelesaikan permasalah. Walaupun terdengar lebih akademis, namun audiensi hanya jalan kecil untuk mencapai esensi yang diharapkan. Seperti: bayangkan saja "September Berdarah" tahun lalu diwarnai dengan diskusi-diskusi klub, sungguh begitu sia-sianya. Sudah ditempuh dengan demo 'berdarah' saja esensi tidak bisa dicapai. Mau bagaimanapun peraturan baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melemahkannya tetap diakui menjadi fiksi hukum.
Terdengar aneh dan berengsek memang, tapi memang dunia bekerja dengan sangat aneh. Jangan kaget, contoh kecil, sejarah mencatat bahwa salahsatu lubang gigi bisa disebabkan oleh makanan manis seperti gulali kapas, ternyata penemu makanan tersebut adalah dokter gigi - William James Morrison namanya.
Sekarang seperti ini, sebagai mahasiswa hukum, saya masih sulit mau mengamini jargon yang diagungkan tersebut. Saya masih belum mau menyebut hukum sebagai nyanyian, tapi hanya sebatas jargon saja. Bagaimana tidak, orang dibalik sahnya peraturan KPK yang tidak menyehatkan tersebut juga orang-orang ahli hukum. Naas memang.
Hal aneh lainnya juga terjadi di universitas saya berkuliah, Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Walaupun demo dijamin di konstitusi sebagai manifestasi kebebasan berpendapat, kampus saya sering kalang kabut jika ada mahasiswanya melangsungkan demo. Dengan berbagai alasan, singkat kata sebenarnya kampus tidak ingin ada demo-demo klub.
Perlu diingat bahwa, lengsernya Orde Baru (Orba) karena masifnya demo yang terjadi, bukan karena audiensi nasional. Sejarah telah mencatat lahirnya reformasi dan perjalanan birokrasi menjadi lebih baik.
Perihal demo, saya pertama mengikuti demo sekitar empat tahun lalu. Saat setelan baju putih, celana hitam, dan muka klimis, saya makan di Koperasi Mahasiswa (Kopma). Siang itu ramai mahasiswa yang mukanya sudah pada klimis membawa poster, berteriak, bernyanyi, berbaris menuju ke Graha Utama UTM. Ini bukan parade karnaval anak TK, tapi mahasiswa mau demo atas isu penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Sesegera saya sudahi makan dan ikut untuk, bukan berdemo, yang penting ikut saja dulu. Namun, kala itu saya lebih tertarik mengambil gambar dengan kamera saya daripada harus masuk barisan. Selain saya yang tidak punya bakat untuk orasi, saya juga minderan orangnya. Setelah mengambil beberapa gambar saya hanya duduk di taman dan merokok tentunya.
Semakin jauh menjadi mahasiswa, saya telah akrab dengan fenomena mahasiswa berunjuk rasa. Walaupun banyak yang mencaci mahasiswa yang demo, bagi saya, semakin kesini saya harus akui bahwa demo lebih manjur daripada harus audiensi.
Kita lihat saja sejarah di UTM, bagaimana manjurnya demo ini. Mantan presiden mahasiswa UTM, Jailani, pernah melangsungkan demo setelah menemukan salinan anggaran UTM yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Indikasi korupsi jelasnya. Waktu itu Jailani memilih presiden mahasiswa sekarang, Khairul Amin, sebagai kordinator lapangan.
Sekarang bayangkan, ketika Jailani setelah menemukan salinan tersebut langsung mengajak audiensi pihak rektorium, kemungkinan kecil masalah tersebut akan tuntas. Namun setelah dicetuskan sedikit cara yang tidak diharapkan kampus (demo), perlahan semua menjadi jelas.
Toh sudah dicetuskan demo saja kadang pihak rektorium masih bisa muser saja tidak karuan. Contoh demo masalah Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) multifungsi yang masih tidak beres. Waktu itu kordinator lapangan, Sultan Fuadi, dijanjikan akan diajak audiensi untuk mengetahui isi dari perjanjian antara UTM dengan pihak bank. Nyatanya, sampai sekarang hal itu tidak terjadi. Dan kendala teknis KTM masih dirasakan banyak mahasiswa sampai harus minjam KTM untuk keperluan kemahasiswaan seperti pinjam buku di perpustakaan.
Syahdan, sebagian dari Anda telah mengetahui bahwa saya adalah dalang dibalik petisi yang ramai diperbincangkan. Saya tidak akan menjadi pengecut. Saya mahasiswa hukum biasa yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Kalau perlu alamat saya hubungi saja nomor saya.
Akhir-akhir saya banyak mengkritisi kampus saya dan juga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UTM. Jadi gini pemirsa yang budiman, saya tahu apa yang saya lakukan. Lahirnya petisi tersebut murni atas dasar karena banyaknya curhatan yang masuk ke saya. Naasnya, setelah petisi itu ramai, malah semakin banyak yang buka suara atas persoalan yang sama.
Sedangkan BEM, malasnya saya lingkaran tersebut alasan pengawalan terus. Tidak elegan sama sekali, bosen saya dengernya. Curiganya saya anak-anak BEM ini bungkam dan nurut saja ke kampus. Seolah yang dilakukan kampus sudah mutlak benar dan tidak bisa dibantah. Eee.. jingan! Padahal dulu saya kenal Presma yang sekarang adalah orang yang kompeten, tapi kok setelah masuk jadi presiden mahasiswa kok banyak loyonya.
Sampai sini, kita bedah dulu kenyataan yang ada. Petisi yang saya buat telah lebih dari seribu tanda tangan, akan terus bertambah dan akan saya sudahi jika keluhan dari banyak mahasiswa telah dibayar tuntas.
Saya mau tanya, jawab dalam hati saja. Apakah isi dari petisi saya salah? Jika iya kok terus bertambah? Apakah seribu mahasiswa yang telah ikut andil dengan tanda tangan juga salah? Kalau tidak kok dari anggota BEM beserta jajarannya kok tidak ada yang ikut meramaikan ya? Katanya pengawalan? Kawal saja terus sampai rektorium menjadi lantai 25.
Walaupun saya sebenarnya tidak ingin memaksakan kehendak orang untuk ikut serta. Sama sekali tidak. Tapi gini, apakah sedikitpun tidak terketuk hati Anda dengan keluhan dari banyak mahasiswa? Aneh. Terus Anda ada itu untuk siapa?
Walaupun saya sadar yang saya lakukan sia-sia, tapi saya diadakan bukan untuk memikirkan kesia-siaan. Namun terus saja disuruh berusaha, beritikad, sekecil apapun itu sebagai upaya romantisme kepada sang pencipta.
Lalu, teruntuk kampus. Saya seperti ini juga bukan tanpa sebab. Jika semua baik-baik saja, tololnya saya jika sampai membuat petisi. Begitupun dengan demo yang sudah-sudah, mereka juga punya alasan karena kampus sedang tidak baik-baik saja.
Terakhir, karena sekarang online-online klub seperti yang diharapkan revolusi industri 4.0 atau apalah itu, yang orientasinya adalah klak-klik, maka petisi tersebut adalah manifestasi dari demo. Lalu, bagaimana nanti jadinya jika ada seribu mahasiswa atau bahkan lebih melangsungkan demo secara offline? Renungkan!

Saya akan bersama anda pak. Patenang bedeh Allah
BalasHapussaya penasaran disisih mana para pimpinan ukm akan bersuara wkwkwkwkk... dan saya tertarik memantaunya.
BalasHapusMohon diperjelas,yg dimaksut BEM yg mana
BalasHapusMohon itu BEM dari krupuk tahu palingan, kok melempem
BalasHapusPara pejabat kampus yg kurang bertanggung jawab,,, is is is
BalasHapusPenerus pejuang bangsa yang tak patut
Semoga yang kami beri amanah selalu amanah 🤣 Ramai kampnye merebutkan jabatan setelah menduduki kursi tertinggi mereka lupa siapa yg menjadikannya seperti itu. #RIP pejabat kamlus UTM (BEM,HMP DAN SELURUH ORMAWA)
BalasHapusPanjang umur !!!
BalasHapusPanjang umur perjuangan!!
BalasHapusMasih saya pantau...
BalasHapus