Minggu, 13 November 2016

manusia atau hidung sapi


Ketika manusia lahir ke dunia, membawa berbagai hal. Diantaranya sebuah masalah, harapan, ataupun sebuah tujuan. Manusia yang telah lahir ke bumi menunjukan sifat dasar mereka yang tergambar dari tubuhnya.

Tangan manusia yang baru lahir menggenggam erat, seakan ia ingin menguasai apa saja yang ada dibumi ini, kepalan tangan yang berambisi. Kaki yang menendang nendang seakan dialah yang berkuasa, yang paling atas, dan yang paling bebas.

Dia juga datang dengan membawa dua hal yang tidak dapat diganggu gugat, yang petama ialah, manusia sebagai makhluk individu, dan manusia sebagai makhluk social. Dia bebas dalam menentukan apa yang akan dijalaninya, yang ia anggap baik buat dirinya, dalam hal apapun mengenai dia sebagai makhluk individu. Kedua, mengenai salah satu sifat manusia yang selalu ingin bergaul dengan manusia lain, manusia yang membutuhkan manusia lain.

Hanya manusia yang sadar akan keterbatasan pada dirinya sendiri, sehingga membutuhkan orang lain, bukan manusia yang manganggap dirinya sebagai dewa, sehingga semua ada pada kehendaknya, sehingga tidak membutuhkan orang lain.

Tidak bisa dipungkiri makhluk yang menyandang gelar manusia di bumi, memiliki sifat dan karakter ketika baru pertama kalinya menghirup udara bumi. Feodalisme, ambisi yang menggebu, keserakahan, saling gigit, kebebasan tiada tara dalam hidupnya. Yang penting dia senang dan menang.

Namun apakah seperti itu manusia yang katanya pilihan tuhan, memiliki tugas untuk mengelola bumi.  Kenapa  manusia yang tercipta dari tanah, sari tanah yang menjadi seperma, dan segumpal darah. Tercipta  dari bahan yang hina.  kenapa bukan Malaikat saja yang memiliki sayap, atau Syaiton yang tegas karna dia dari api. Dan apakah manusia tidak memiliki tugas, ataupun tidak memiliki tujuan yang telah ditentukan oleh tuhan.
Tapi apakah orang yang menebangi hutan atas dasar kebebasan, pantas disebut sebagai manusia, apakah orang yang memperkosa hak orang lain pantas dikatakan manusia, apakah orang yang menjadikan dirinya menjadi Syaitan pantas dikatakan manusia, dan apakah orang yang ingin menjadi tuhan pantas dikatakan manusia. Dan masih banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban.

Walaupun penuh dengan kesalahan, tapi memang itulah mengapa manusia turun ke bumi, ketika manusia tidak melakukan kesalahan maka akan selamanya di syurga. Sehingga orang paling hebat nomor 1 didunia berkata, bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Makhluk yang lebih unggul dari malaikat ataupun syaitan bukan karna wujud wisiknya, dari mana dia diciptakan, namun siapakah yang lebih siap dan mampu untuk menjadi pengelola bumi. Hanya unggul dalam satu bidang manusia bisa menjadi malaikat ataupun syaitan. Yaitu dengan pikiran mereka, bukan hanya akal ataupun nafsu yang dia punya, melainkan memperpadukan dua hal yang saling bertentangan namun berjalan beriringan.
sehingga memiliki tanggungan lebih, tapi tuhan berbaik hati dengan menjadikan malaikat dan syaitan sebagai budak dari manusia. Ketika manusia bisa melaksanakan tugas itu maka dia akan mendapatkan syurga (keberhasilan), namun jika gagal maka akan mendapatkan neraka (kegagalan). Dan tugasnya hanya satu, hanya untuk beribadah kepada yang maha kuasa.

Bisa disimpulkan bahwa, manusia yang melakukan apapun berbagai hal atas dasar kebebasan berarti belum paham akan tugasnya. Belum paham akan diri dan kodratnya. Dan dapat dipastikan kelak ketika telah menghembuskan nafas terahirnya, kepalan tanganya akan memudar, membuka lebar, tidak seperti ketika dia lahir ke dunia. Jangan menendang, bergerak saja tidak akan mungkin terjadi.
Penyesalan yang begitu dalam dirinya, membuat dirinya dilingkupi dalam keheningan, kesunyian, sampai apa kata tuhan pada dirinya. Tapi sempat saja dia berkata kepada tuhan untuk menghidupkan dirinya lagi kebumi, dan berjanji akan lebih baik dari sebelumnya.

Hidup itu seperti bendera perang, kadang berdiri tegak menantang, kadang juga terjatuh, kadang juga kotor dan hampir jatuh ke tangan lawan. Namun harus tetap dipertahankan sampai ke tangan tuhan.



1 komentar: