Minggu, 27 November 2016

Madura is Dead

Tidaklah asing ditelinga ataupun diingatan kita, mengenai salah satu pulau di jawa timur yang gagal berdiri sendiri sebagai provinsi sendiri. Pasti yang terpikir oleh kita saat disebutkan nama madura, pasti kita mikirnya sate, karapan sapi, sakera, batik tulisnya, kepatuhanya terhadap kyai, dan tidak lupa dengan carok dan begalnya.

Itulah segala identitas madura dan orang orangnya, segala tradisi dan budaya yang tidak dapat dipisahkan dari setiap insan yang ada dimadura. Sate madura yang begitu mendunia, motif batiknya yang begitu istimewa, karapan sapinya yang begitu menegangkan, dan begal serta carok juga tidak kalah menegangkanya.

Saat kita pertama kalinya menginjakkan kaki dipulau madura, pasti yang terasa dibenak kita, panas, kampugan, dan lain lain tentang keburukan orang madura. Ya maklum saja yang menilai juga manusia biasa. Seperti caroknya orang madura yang terkenal, banyak yang menamai itu adalah budaya, namun sebenarnya bukan, yang namanya budaya pasti tidak ada yang buruk, beda kalau tradisi, yaitu sebuah kebiasaan yang dilakukan secara berulang ulang dan diteruskan pada generasi generasi berikutnya, walaupun itu sebuah kebiasaan yang buruk seperti halnya carok. Hanya ada miss saat itu sehingga caroklah yang dijadikan titik tumpu dalam menyelsaikan masalah.

Sistem premanisme yang turut serta mempermanis kepulauan madura, begal seperti apapun dilakukan, seperti mengambil tanpa sepengetahuan, sampai mengambil dengan cara paksaan. Acap kali tindakan seperti ini meresahkan para perantau dari luar pulau yang mau berkuliah dimadura. Sering mereka kehilangan motor mereka, karna terlalu seringnya jika kamu melapor kepada polisi perihal motor yang hilang pasti polisinya biasa aja, tidak kaget atau apalah, karna saking terbiasanya motor hilang.

Tapi menurut pengamatanku madura akan sedikit demi sedikit akan mati, mati dalam karakter mereka, dikarenakan akan terjadinya akulturasi budaya secara tidak langsung. Terjadinya yaitu ketika perantau membawa berbagai macam adat, istiadat bahkan budaya mereka ke madura, sehingga lambat laut orang madura akan mengikutinya walaupun mereka tidak sengaja melepas ideologi mereka. Dan begitupun dengan orang perantauan yang berkuliah dimadura dan terkadang mengalami kecocokan budaya dan merenarpkanya juga.

Contoh riil, dimadura khususnya didaerah bangkalan banyak terjadi racing atau balap, dan mau diakui atau tidak, ketika sebuah kota mau menjadi kota yang lebih maju pasti akan dimulai fase, yaitu adanya anak - anak racing. Dan itulah yang terjadi, banyak bengkel - bengkel, banyak anak yang masih seumuran SMP yang ingin menyerupai pemain utama anak jalanan.

Ketika virus racing sudah masuk, maka selanjutnya ialah, distribution store, atau biasa disapa dengan distro. Yang melatih dan pembentukan karakter menjadi orang yang suka akan kemewahan. Dan ini juga sudah riil terjadi, dan lagi lagi dibangkalan menjadi sorotan utama para produsen kaos untuk menaruh brand mereka disalah satu distro yang ada. Sehingga sekarang akan terlihat pakaian yang bagus namun terlihat aneh kalau dipakai anak yang biasanya memakai sakera mereka, tapi lama kelamaan pasti juga akan biasa dan bahkan juga menjadi budaya.

Ketiga dan pokok terakhir yaitu ketika mereka telah memakai motor racing dengan baju distro, pastinya mereka juga akan memilih tempat yang sedikit glamor juga untuk nongkrong, sehingga mereka memilih dan memperioritaskan cafe daripada warung.

Tidak perlu lama menunggu hitungan mundur agar terjadi akulturasi budaya yang rancau, dan pastinya juga yang dulunya orang madura banyak yang sensitif  akan menjadi masyarakat yang dinamis. masyarakat yang openmind, tidak kolot dengan berbagai hal. Tapi apakah jika orang madura tidak ada begal, tida ada carok, akan menjamin madura tidak ada suatu permasalah baru gitu.

dan memang saatnya lah kita menanamkan mainset pada otak kita untuk menjadi orang yang lentur, orang yang dinamis, orang yang bisa memahami perbedaan, orang yang meninggalkan sifat kekolotan dibawah ranjang.

0 komentar:

Posting Komentar