Minggu, 25 Desember 2016

Pesan tuhan dari pengendara motor dan Bus patas

Whuuuuungggg, whung. Ngeeeeennggggg. Whaaarrrr Whar. Zzzeeetttttt. Whus Whus. Tiiiiinn, Tiiiiit, Telolet telolet. Kebayang bagaimana bunyinya kalau semua suara itu didengar secara bebarengan, ditambah berbagai macam umpatan umpatan dibalik helm mereka, ataupun didalam kotak besi itu, tak lupa berbagai macam omongan orang yang ada diwarung warung itu. Kalau secara probadi saya tidak bisa membayangkan bagaimana risihnya ditelinga ini. Tapi apakah tuhan juga akan merasa risih (?).

Saat itu, jalan surabaya lamongan menjadi sebuah arena adu kecepatan. 80 – 100km/jam angka yang ditunjukan oleh spedometerku. Bisa kurang bahkan lebih untuk pengendara yang lain. Yang terlihat oleh siluet mataku saat itu, berbagai macam pengendara motor dengan berbagai merk dan si pengendaranya. Bus biasa dan patas juga nampak pada siluet itu, dan tidak ketinggalan berbagai macam mobil probadi. Yang sama - sama saling memiliki tujuan, kecepatan, performa, dan berbagai macam teknik untuk sampai ditujuan lebih cepat dari yang lain. Mereka – mereka juga dengan berbagai macam ekspresi yang menggambarkan suasana tegang saat itu. Dan tak terlihat olehku pada siluet itu mereka yang tertawa pada kecepatan itu.

Padahal kecepatan motorku sudah lumayan cepat, namun masih ada saja yang lebih cepat, padahal itu hanya motor bebek biasa, sebut saja dia si kampret. Mungkin si kampret saja yang ahli dan memiliki berbagai macam trik untuk bisa mendahului. Tak taulah kemana dia akan pergi, padahal itu kan jalan yang lurus ke arah jam 12 jika kita menghadap ke barat. Tidak hanya saya yang saat itu menjadi pengendara yang baik didahului oleh si kampret, tetapi bus yang berlabel “patas” juga bisa dia dahului, padahal si patas kan terkenal dengan wadah dan masanya yang banyak, meiliki performa yang berlipat ganda daripada tumpangan si kampret. Namun si kampret tidak mau kalah dengan keadaan yang demikian, dia mungkin beranggapan bahwa apapun yang terjadi itu tergantung bagaimana dia mengoprasionalkan dirinya.

Sesampainya diri dimana saya akan memulai membantu pahitnya kopi mencari manisnya saya tersadar, akan apa yang terjadi kurang lebih 3 jam lalu adalah pesan yang disampaikan oleh tuhan. Pesan yang seharusnya dimengerti oleh siapa saja yang berada dalam 40 Km tadi, dan untuk siapa saja yang masih tidak sungkan mencuri oksigen dari tuhan, kami yang tidak tau malau, dan tidak atau enggan meminta izin bagi pemilik oksigen itu.

Kita selalu seenaknya berdoa kepada tuhan agar kita berada pada suatu posisi dimana kita diam, yang ketika kita maju atau mundur kita mati (dilema). Atau hanya harapan belaka kalau kita tidak berdoa. Kita menyanyikan sebuah kehidupan yang baik kelak hari di sana, tanpa kita menyadari kita menjadi orang yang munafik, bagaimana tidak (?) coba dengarkan kembali doa kita masing masing yang lebih mendahulukan kebahagiaan didunia terlebih dahulu dari pada kehidupan kelak. Padahal nyanyian merdu kita tentang esensialsme kita kelak adalah bukan dikehidupan yang sekarang, lantas bagaimana kita menanggapi dilema yang mungkin sudah kita jadikan sebuah rutinitas.

Kita kembali pada pesan tuhan. Secara pribadi saya menilai itu tentang bagaimana saat kita memiliki tujuan masing masing atau tujuan bersama, yang arahnya sama dan sampainya juga akan disitu juga. Tengoklah Nadhlatul ulama, Muhammadiyah, ataupun LDII. Atau kalau kita mau melihat agama samawi sperti ajaran islam, kristen, ataupun ajaran sidarta sigautama, bagaimana kalau kita perkecil kita tenggok pada HMI, PMII, juga GMNI. Mereka semua hanya wadah, yang meiliki masa dan tujuan yang sama, tapi mereka memiliki supir yang akan menentukan kemana mereka akan pergi. Seperti pengendara motor dan Bus patas, seandainya kita berada pada posisi pengendara motor kita bebas mau kemana kita akan pergi, namun jika panas kita akan kepanasan, hujan kehujanan walaupun kita bisa mencari tempat untuk berteduh. Kalau kita berada dalam bus patas kita bisa tiduran dan mainan hp, tidak perlu capek, kehujanan ataupun kepanasan, tapi kita tidak bebas, seolah kita terbelenggu arah dan tujuan, iya kalau supirnya memang bener, kalau gak bener gimana, mau kemana kita (?). Lantas harus bagaimana kita. Yang penting jangan saling tenggor agar tidak terjadi 
tenggoran.

Dan bagaimana pesan tuhan tuhan yang lengkap itu kita ekspetasikan pada dunia pekerjaan atau bisnis. Lihat saja pegawai negri atau pebisnis. Membahas perihal ini teringat kata yang terus melayang dalam otaku dari om Bob “sekaya apapun dirimu hanya menjadi babu jika kamu ikut orang lain, dan semiskin apapun dirimu akan menjadi bos kalau mempunyai usaha dan kiat sendiri”.
Bukankah banyak dilema yang menemani nyanyian hari kita. Dan kita gak bisa kalau menghilangkan perihal demikian, masalahnya saat kita berhasil menghilangaknya malah akan menimbulkan suatu hal baru yang ingin kita hilangkan juga pada akhirnya. Seperti setelah revolusi 1917 saat runtuhnya rusia, yang saat itu kita ingin penyelarasan tentang setiap diri yang ada dibumi, menginginkan ketidakadaanya suatu stratifikasi sosial, tapi apa yang terjadi, yang terjadi malah timbul faham tentang komunis, sosialis mauapun kapitalis.

Lalu apakah kita hanya akan merengek kepada tuhan sambil menuntut akan keterbatas tuhan mengenai janjinya, dan memakai dasar uduuni astajiblaku, tapi kita tidak mau berusaha. Sebaiknya iya kalau kamu tidak malu dan mau doamu hanya seperti kebulan vapor.

#saat hanya sinar laptop yang menerangi wajah yang disangga oleh bantal.

# Jumlah kata yang berhasil kutulis saat ini ada 854 kata, percaya(?) hitung saja sendiri, soalnya saya hanya melihat arah jam sebelas pada laptop asus X454l series dan microsoft word 2013.

#sambil memikirkan perihal Bajingan yang mengubah dan mepermanis dirinya menjadi seorang keluarga.

4 komentar: