Malam itu yang sudah malam, walaupun bisa saja orang lain bilang bukan malam hari. Malam yang masih memiliki ceritanya sendiri, bergerak ketika siang telah pergi. Pasti ada yang aneh dengan malam, pasti dia berbuat sesuatu yang salah, sampai mau melakukan sesuatu saja nunggu siang tidak ada dihadapanya. Dan bisa dipastikan akan kacau jika malam melakukan tugasnya dan ada siang juga saat itu.
Waktu tak terhentikan, pagi pun akan segera datang, dan bisa dipastikan malam akan pulang. Tanpa harus disuruh, karna dia sadar akan kodratnya yang tak seistimewa siang. Saat itu menunjukan pukul tiga malam, kutinggalkan tempat itu bersama temanku. Ke utara, arah jam 5 menunjukan posisi rembulan saat itu, walaupun semakin ke utara aku belum nyampek selatan. Sebagaimana yang telah dilakukan cristoper colombus, ataupun seorang dokter yang menjadi seorang pebisnis besar tanpa tirai bambu.
Arah jam 3 setelah sekitar 7menit perjalananku pada persneling 3, posisi itu menunjukan berbagai macam orang yang dibagi menjadi 2 macam genre, dia hanya seorang perempuan dan seorang lelaki, secara kuantitas tanpa kualitas. "89376%%$#@)(*6%%@" Anggap saja itu pembicaraan yang aku dengar ketika melewati kerumunan itu, karna saya bingung mau nulis apa, hanya itu yang tergambar. Brarti malam hanya sebentar, ataukah malam hanya ketika kita tidak melakukan apa apa dibumi ini, ataukah ketika tidak sedang memikirkan sesuatu, seperti ketimpangan ketimpangan yang ada. Nasib mujur bagi mereka yang buta, tuli, bisu, gila, dan tak pernah dilahirkan dibumi.
Siapa yang kejam, bisakah kita salahkan waktunya yang kejam, tapi bukankah kita menyalahkan Tuhan juga kalau gitu. Saat itu terlihat empat pemudi yang mungkin mahasiswa, tapi mungkin kata "mungkin" yang pertama harus dihilangkan saat memang terbukti bahwa mereka adalah mahasiswa, tak perlu sumpah kepada Tuhan ataupun sumpah kepada setan, gak penting juga dia mahasiswa atau bukan. Terlihat mereka dari cahaya laptop yang terpancar ke muka mereka masing masing. Tiap sisi di meja itu diisi oleh satu pemudi yang notabenya mereka sedang bingung dan sibuk. Bisa juga mereka tidak tau artinya kata teman. Dari kejahuan mataku memandang dengan sekilas apa yang terjadi, hanya ada tulisan - tulisan yang bisa saya katakan itu tugas mereka. Ada diantara gelas mereka yang masih setengah isinya, bisa banyak kemungkinan tentang setengah gelas itu. Namun apa pentingnya juga buat saya, kita sok sokan untuk tidak menjadi insan yang individualis, tapi sadarkah kalau hakikat dari kehidupan adalah sendiri. Pemberontakan juga ingin terjadi dalam hati sampai terjadi amargedon, yang memaksakan diri untuk menjadi orang yang dinamis.
Itu hanya terjadi beberapa menit didalam otak, sampai ketika bebarengan pesenanku dan temanku satunya datang dengan muka yang ngeselin, tapi dia tak terlihat kesel (capek). Sampai akhirnya kami duduk bersama bertiga dan melihat 4 pemudi ada yang tidur satu, menjadi 3 orang pemuda dan pemudi yang antah berantah. Obrolan kami bertiga tidak ada yang berat karna kami sebenarnya tidak banyak omong, saat itu aku teringat dengan 3 golongan yang tiap golongan itu memiliki 3 orang, ketika scorates, aritoteles dan plato menjadi golongan pertama yang kuingat, kemudian douwes dekker, mangunkusumo, dan dewantara diposisi ke dua, dan golongan terahir yang saya ingat ingat saat itu, ranco, raju dan farhan. kalian mungkin sebagian kenal ataupun sekedar tau seperti saya, kalau gak ada yang kalian ketahui setidaknya kenal dewantara atau ranco atau raju si pemain 3 idiot. Lantas kenapa aku mengingat mereka, hanya saya berpikir banyak jalan untuk sampai rumah. kalau kalian tidak bisa lewat jalan yang sistematis, kalian masih bisa lewat jalan sosialis, dan ketika kedua duanya tidak bisa kalian lewati maka jadilah orang yang idiot secara totalitas tanpa skenario, atau mungkin kalian hanya perlu tidak terlalu memperhatikan bualan saya saja.
Berbeda dengan yang kami lihat,
Berbeda dengan yang mereka lihat
Masalahnya kami tidak mau melihat
Namun kami bukan cacing yang menggeliat
Waktu tak terhentikan, pagi pun akan segera datang, dan bisa dipastikan malam akan pulang. Tanpa harus disuruh, karna dia sadar akan kodratnya yang tak seistimewa siang. Saat itu menunjukan pukul tiga malam, kutinggalkan tempat itu bersama temanku. Ke utara, arah jam 5 menunjukan posisi rembulan saat itu, walaupun semakin ke utara aku belum nyampek selatan. Sebagaimana yang telah dilakukan cristoper colombus, ataupun seorang dokter yang menjadi seorang pebisnis besar tanpa tirai bambu.
Arah jam 3 setelah sekitar 7menit perjalananku pada persneling 3, posisi itu menunjukan berbagai macam orang yang dibagi menjadi 2 macam genre, dia hanya seorang perempuan dan seorang lelaki, secara kuantitas tanpa kualitas. "89376%%$#@)(*6%%@" Anggap saja itu pembicaraan yang aku dengar ketika melewati kerumunan itu, karna saya bingung mau nulis apa, hanya itu yang tergambar. Brarti malam hanya sebentar, ataukah malam hanya ketika kita tidak melakukan apa apa dibumi ini, ataukah ketika tidak sedang memikirkan sesuatu, seperti ketimpangan ketimpangan yang ada. Nasib mujur bagi mereka yang buta, tuli, bisu, gila, dan tak pernah dilahirkan dibumi.
Siapa yang kejam, bisakah kita salahkan waktunya yang kejam, tapi bukankah kita menyalahkan Tuhan juga kalau gitu. Saat itu terlihat empat pemudi yang mungkin mahasiswa, tapi mungkin kata "mungkin" yang pertama harus dihilangkan saat memang terbukti bahwa mereka adalah mahasiswa, tak perlu sumpah kepada Tuhan ataupun sumpah kepada setan, gak penting juga dia mahasiswa atau bukan. Terlihat mereka dari cahaya laptop yang terpancar ke muka mereka masing masing. Tiap sisi di meja itu diisi oleh satu pemudi yang notabenya mereka sedang bingung dan sibuk. Bisa juga mereka tidak tau artinya kata teman. Dari kejahuan mataku memandang dengan sekilas apa yang terjadi, hanya ada tulisan - tulisan yang bisa saya katakan itu tugas mereka. Ada diantara gelas mereka yang masih setengah isinya, bisa banyak kemungkinan tentang setengah gelas itu. Namun apa pentingnya juga buat saya, kita sok sokan untuk tidak menjadi insan yang individualis, tapi sadarkah kalau hakikat dari kehidupan adalah sendiri. Pemberontakan juga ingin terjadi dalam hati sampai terjadi amargedon, yang memaksakan diri untuk menjadi orang yang dinamis.
Itu hanya terjadi beberapa menit didalam otak, sampai ketika bebarengan pesenanku dan temanku satunya datang dengan muka yang ngeselin, tapi dia tak terlihat kesel (capek). Sampai akhirnya kami duduk bersama bertiga dan melihat 4 pemudi ada yang tidur satu, menjadi 3 orang pemuda dan pemudi yang antah berantah. Obrolan kami bertiga tidak ada yang berat karna kami sebenarnya tidak banyak omong, saat itu aku teringat dengan 3 golongan yang tiap golongan itu memiliki 3 orang, ketika scorates, aritoteles dan plato menjadi golongan pertama yang kuingat, kemudian douwes dekker, mangunkusumo, dan dewantara diposisi ke dua, dan golongan terahir yang saya ingat ingat saat itu, ranco, raju dan farhan. kalian mungkin sebagian kenal ataupun sekedar tau seperti saya, kalau gak ada yang kalian ketahui setidaknya kenal dewantara atau ranco atau raju si pemain 3 idiot. Lantas kenapa aku mengingat mereka, hanya saya berpikir banyak jalan untuk sampai rumah. kalau kalian tidak bisa lewat jalan yang sistematis, kalian masih bisa lewat jalan sosialis, dan ketika kedua duanya tidak bisa kalian lewati maka jadilah orang yang idiot secara totalitas tanpa skenario, atau mungkin kalian hanya perlu tidak terlalu memperhatikan bualan saya saja.
Berbeda dengan yang kami lihat,
Berbeda dengan yang mereka lihat
Masalahnya kami tidak mau melihat
Namun kami bukan cacing yang menggeliat

0 komentar:
Posting Komentar