Rabu, 28 Desember 2016

Kemana perginya pengemis dikapal, dan Tuhan

Senja itu, walau tak nampak jingga. Karena awan yang mencoba mencegah hangat sinar mentari itu. Mungkin awan bosan dengan kita yang hanya menikmati tanpa memberikan konstribusi terhadap makhluk yang lain. Tetapi apalah daya mereka yang tak mampu membendung eksposur yang secara otomatis ditajukan kepada kita. Walauoun kita bisa, namun konstribusi yang kita berikan hanya berbagai sabotase. Dan mungkin banyak orang yang akan mengira bahwa saya hanya melakukan bualan atas apa yang terjadi itu, tapi saya mengira ini adalah sebuah paradoks.
#
Bumi tak pernah menangis walau matahari membakarnya, dan lautpun tak pernah mengeluh jika angin terus memaksanya untuk terus menari. Seyogyanya kita juga tak perlu tertawa ataupun menangis pada mereka, karna mereka tak punya rasa. Dan apakah itu juga akan terjadi pada saya dan teman sebelahku, ataupun semua orang yang ada di kapal ini, ataupun arah jam 6 yang mengarah pada madura, atau jam 12 yang mengarah pada surabaya. Mungkinkah kita tidak akan mendapatkan belas dan kasih dari sesama manusia jika sudah tidak memiliki kepekaan terhadap berbagai kejanggalan yang ada. Semoga tuhan masih tetap kasih sayang, sehingga aku masih enggan untuk menggugatnya.

Setelah menikmati perjalanan sekitar 5 menit kami memulai obrolan, dan dengan sengaja kami mencampuradukkan berbagai macam racun ke oksigen disekitar kami, melalui asap asap kami. Saya dan sebut saja namanya Jack, namun bukan jack sparrow, ataupun jack daniels, apalagi jack mania.
Jack, Saya kok merasa bingung ja (sapaan yang melekat padaku) “memulai jack pada sebuah percakapan”
Mengenai apa mas, jawabku setelah terdiam sebentar.
Tuhan kan maha bisa,? Timpal jack”. Yang pertanyaanya membuatku berpikir apa yang akan dia bahas.
Terus kenapa mas.? Jawabku untuk membuat tenang diri sendiri
Lantas jack bilang dengan santai, “bisa ngak tuhan menciptakan batu yang sangat besar sampai dia tak sanggup untuk mengangkatnya.?”
Modyar arek iki “umpatan dalam hati yang diikuti dengan cengiran”. Terdiam beberapa saat sebelum saya menjawab bahwa yang diciptakan Allah adalah alam, dan yang diciptakan Allah pasti ada manfaatnya kan.?
Percakapan kami tak tulis sampai sini, karna parcakapan selanjutnya sangat banyak dan rumit untuk dimengerti. Sampai saya sadar dengan pertanyaan si jack, dan kemudian saya bilang “walau sampai tuhan tak mampu mengangkatnya, tapi tuhan pasti akan tetap bisa karna dia kan maha bisa”. Lantas si jack hanya senyum tanpa kelihatan giginya seolah dia sedang taruhan yang ketawa ditelanjangi.

Entah kenapa si jack saat itu berbicara mengenai tuhan, dan mengemukakan pernyataan lagi bahwa tuhan sifatnya juga terbatas. “opo maneh arek iki” (apa lagi anak ini) masih pada hati saya ucapkan itu. Saya hanya berparas goblok aja sambil menunggu apa yang akan dia katakan. Lantas si jack menjawab “walaupun tuhan maha bisa namun dia juga terbatas, terbatas dengan berbagai janjinya”. Omonganya selsai dan diikuti cengiran dan goyongan dari bulu hidungya yang seolah menggambarkan bahwa dia yang menang, dan berhasil membuat saya bingung pada akhirnya.

Obrolan ringan mengikuti pada 17 menit setelah obrolan tadi. Hanya saja, kala itu datang dua pengemis teri, yang telah kami tanya bahwa mereka bersaudara. Mereka bukan Bawang merah dan bawang putih, terlihat mereka memancarkan wajah yang bahagia tanpa beban. Walaupun tersurat bahwa berbagai macam tanah dan debu yang menempel hampir pada 75% anggota tubuh yang terlihat, menggambarkan kalau mereka sedang berat. Nyanyian nyaian mereka latunkan dan kami hanya mengikuti dengan gelak tawa, padahal kami hanya kasian pada mereka, yang sebelumnya dia merengek ke kita berdua untuk diberi sedikit uang. Karna masih terbawa suasana tuhan, timbul pertanyaan dalam pikiran “apakah kami tuhanmu yang bisa seenaknya saja kau mintai”. Seperti mereka yang menanggap satu suara lebih berharga daripada harga dirinya. Tapi ingatan itu hanya berlalu sebentar saja, dan kami masih mengikuti nyanyian mereka, nyanyian yang menceritakan halimah dari lahir sampai mati, masuk neraka, kemudian masuk surga. Ada benarnya juga nyanyian itu kalau dikaji, sayangnya saya lupa saja dengan liriknya.

Kemudian saya mencoba mengajukan pertanyaan yang tidak pernah dijawab, sedangkan pertanyaan yang lain mereka jawab dengan senang, dan yang saya tanyakan adalah “dimana ibunya”. Berbagai macam kemungkinan pasti ada, tapi pada ujungnya saya tidak terlalu mempermasalahkan perihal dimana ibunya berada. Syahdan, saya ingin mengambil gambar mereka, baru saya keluarkan kamera dari tas, mereka sudah lari menjauhi kami berdua. Yasudahlah, hanya ada pertanyaan dalam diri kemana larinya para pengemis di kapal, dan tuhan.

#
Kapalpun bersandar, dan rembulan juga mulai datang sambil membawa senyumanya. Rembulan diatas pelabuhan tua disudut kota surabaya, kalau disudutkan lagi hanya akan terlihat siluet dari surabaya, itu dia madura “sambil kutoleh belakang sejenak” sebelum aku meninggalkanya dan mencari berbagai macam kenangan, diantara manusia manusia, dan kuharap rembulan lebih terang malam itu.





            

1 komentar: