Senja itu, walau tak nampak jingga. Karena awan yang mencoba
mencegah hangat sinar mentari itu. Mungkin awan bosan dengan kita yang hanya
menikmati tanpa memberikan konstribusi terhadap makhluk yang lain. Tetapi
apalah daya mereka yang tak mampu membendung eksposur yang secara otomatis
ditajukan kepada kita. Walauoun kita bisa, namun konstribusi yang kita berikan
hanya berbagai sabotase. Dan mungkin banyak orang yang akan mengira bahwa saya
hanya melakukan bualan atas apa yang terjadi itu, tapi saya mengira ini adalah
sebuah paradoks.
#
Bumi tak pernah menangis walau matahari membakarnya, dan
lautpun tak pernah mengeluh jika angin terus memaksanya untuk terus menari.
Seyogyanya kita juga tak perlu tertawa ataupun menangis pada mereka, karna
mereka tak punya rasa. Dan apakah itu juga akan terjadi pada saya dan teman
sebelahku, ataupun semua orang yang ada di kapal ini, ataupun arah jam 6 yang
mengarah pada madura, atau jam 12 yang mengarah pada surabaya. Mungkinkah kita
tidak akan mendapatkan belas dan kasih dari sesama manusia jika sudah tidak
memiliki kepekaan terhadap berbagai kejanggalan yang ada. Semoga tuhan masih
tetap kasih sayang, sehingga aku masih enggan untuk menggugatnya.
Setelah menikmati perjalanan sekitar 5 menit kami memulai
obrolan, dan dengan sengaja kami mencampuradukkan berbagai macam racun ke
oksigen disekitar kami, melalui asap asap kami. Saya dan sebut saja namanya
Jack, namun bukan jack sparrow, ataupun jack daniels, apalagi jack mania.
Jack, Saya kok merasa bingung ja (sapaan yang melekat
padaku) “memulai jack pada sebuah percakapan”
Mengenai apa mas, jawabku setelah terdiam sebentar.
Tuhan kan maha bisa,? Timpal jack”. Yang pertanyaanya
membuatku berpikir apa yang akan dia bahas.
Terus kenapa mas.? Jawabku untuk membuat tenang diri sendiri
Terus kenapa mas.? Jawabku untuk membuat tenang diri sendiri
Lantas jack bilang dengan santai, “bisa ngak tuhan
menciptakan batu yang sangat besar sampai dia tak sanggup untuk mengangkatnya.?”
Modyar arek iki “umpatan dalam hati yang diikuti dengan
cengiran”. Terdiam beberapa saat sebelum saya menjawab bahwa yang diciptakan
Allah adalah alam, dan yang diciptakan Allah pasti ada manfaatnya kan.?
Percakapan kami tak tulis sampai sini, karna parcakapan
selanjutnya sangat banyak dan rumit untuk dimengerti. Sampai saya sadar dengan
pertanyaan si jack, dan kemudian saya bilang “walau sampai tuhan tak mampu
mengangkatnya, tapi tuhan pasti akan tetap bisa karna dia kan maha bisa”. Lantas
si jack hanya senyum tanpa kelihatan giginya seolah dia sedang taruhan yang
ketawa ditelanjangi.
Entah kenapa si jack saat itu berbicara mengenai tuhan, dan
mengemukakan pernyataan lagi bahwa tuhan sifatnya juga terbatas. “opo maneh
arek iki” (apa lagi anak ini) masih pada hati saya ucapkan itu. Saya hanya
berparas goblok aja sambil menunggu apa yang akan dia katakan. Lantas si jack
menjawab “walaupun tuhan maha bisa namun dia juga terbatas, terbatas dengan
berbagai janjinya”. Omonganya selsai dan diikuti cengiran dan goyongan dari
bulu hidungya yang seolah menggambarkan bahwa dia yang menang, dan berhasil
membuat saya bingung pada akhirnya.
Obrolan ringan mengikuti pada 17 menit setelah obrolan tadi.
Hanya saja, kala itu datang dua pengemis teri, yang telah kami tanya bahwa
mereka bersaudara. Mereka bukan Bawang merah dan bawang putih, terlihat mereka
memancarkan wajah yang bahagia tanpa beban. Walaupun tersurat bahwa berbagai
macam tanah dan debu yang menempel hampir pada 75% anggota tubuh yang terlihat,
menggambarkan kalau mereka sedang berat. Nyanyian nyaian mereka latunkan dan
kami hanya mengikuti dengan gelak tawa, padahal kami hanya kasian pada mereka,
yang sebelumnya dia merengek ke kita berdua untuk diberi sedikit uang. Karna
masih terbawa suasana tuhan, timbul pertanyaan dalam pikiran “apakah kami
tuhanmu yang bisa seenaknya saja kau mintai”. Seperti mereka yang menanggap
satu suara lebih berharga daripada harga dirinya. Tapi ingatan itu hanya
berlalu sebentar saja, dan kami masih mengikuti nyanyian mereka, nyanyian yang
menceritakan halimah dari lahir sampai mati, masuk neraka, kemudian masuk
surga. Ada benarnya juga nyanyian itu kalau dikaji, sayangnya saya lupa saja
dengan liriknya.
Kemudian saya mencoba mengajukan pertanyaan yang tidak
pernah dijawab, sedangkan pertanyaan yang lain mereka jawab dengan senang, dan
yang saya tanyakan adalah “dimana ibunya”. Berbagai macam kemungkinan pasti
ada, tapi pada ujungnya saya tidak terlalu mempermasalahkan perihal dimana ibunya
berada. Syahdan, saya ingin mengambil gambar mereka, baru saya keluarkan kamera
dari tas, mereka sudah lari menjauhi kami berdua. Yasudahlah, hanya ada
pertanyaan dalam diri kemana larinya para pengemis di kapal, dan tuhan.
#
Kapalpun bersandar, dan rembulan juga mulai datang sambil
membawa senyumanya. Rembulan diatas pelabuhan tua disudut kota surabaya, kalau
disudutkan lagi hanya akan terlihat siluet dari surabaya, itu dia madura “sambil
kutoleh belakang sejenak” sebelum aku meninggalkanya dan mencari berbagai macam
kenangan, diantara manusia manusia, dan kuharap rembulan lebih terang malam
itu.
Setiap kisah memiliki jalan cerita tersendiri. Aku suka! 😊
BalasHapus