Whuuuuungggg, whung. Ngeeeeennggggg. Whaaarrrr Whar.
Zzzeeetttttt. Whus Whus. Tiiiiinn, Tiiiiit, Telolet telolet. Kebayang bagaimana
bunyinya kalau semua suara itu didengar secara bebarengan, ditambah berbagai
macam umpatan umpatan dibalik helm mereka, ataupun didalam kotak besi itu, tak
lupa berbagai macam omongan orang yang ada diwarung warung itu. Kalau secara
probadi saya tidak bisa membayangkan bagaimana risihnya ditelinga ini. Tapi
apakah tuhan juga akan merasa risih (?).
Saat itu, jalan surabaya lamongan menjadi sebuah arena adu
kecepatan. 80 – 100km/jam angka yang ditunjukan oleh spedometerku. Bisa kurang
bahkan lebih untuk pengendara yang lain. Yang terlihat oleh siluet mataku saat
itu, berbagai macam pengendara motor dengan berbagai merk dan si pengendaranya.
Bus biasa dan patas juga nampak pada siluet itu, dan tidak ketinggalan berbagai
macam mobil probadi. Yang sama - sama saling memiliki tujuan, kecepatan,
performa, dan berbagai macam teknik untuk sampai ditujuan lebih cepat dari yang
lain. Mereka – mereka juga dengan berbagai macam ekspresi yang menggambarkan
suasana tegang saat itu. Dan tak terlihat olehku pada siluet itu mereka yang
tertawa pada kecepatan itu.
Padahal kecepatan motorku sudah lumayan cepat, namun masih
ada saja yang lebih cepat, padahal itu hanya motor bebek biasa, sebut saja dia si
kampret. Mungkin si kampret saja yang ahli dan memiliki berbagai macam trik
untuk bisa mendahului. Tak taulah kemana dia akan pergi, padahal itu kan jalan
yang lurus ke arah jam 12 jika kita menghadap ke barat. Tidak hanya saya yang
saat itu menjadi pengendara yang baik didahului oleh si kampret, tetapi bus
yang berlabel “patas” juga bisa dia dahului, padahal si patas kan terkenal
dengan wadah dan masanya yang banyak, meiliki performa yang berlipat ganda
daripada tumpangan si kampret. Namun si kampret tidak mau kalah dengan keadaan
yang demikian, dia mungkin beranggapan bahwa apapun yang terjadi itu tergantung
bagaimana dia mengoprasionalkan dirinya.
Sesampainya diri dimana saya akan memulai membantu pahitnya
kopi mencari manisnya saya tersadar, akan apa yang terjadi kurang lebih 3 jam
lalu adalah pesan yang disampaikan oleh tuhan. Pesan yang seharusnya dimengerti
oleh siapa saja yang berada dalam 40 Km tadi, dan untuk siapa saja yang masih
tidak sungkan mencuri oksigen dari tuhan, kami yang tidak tau malau, dan tidak
atau enggan meminta izin bagi pemilik oksigen itu.
Kita selalu seenaknya berdoa kepada tuhan agar kita berada
pada suatu posisi dimana kita diam, yang ketika kita maju atau mundur kita mati
(dilema). Atau hanya harapan belaka kalau kita tidak berdoa. Kita menyanyikan
sebuah kehidupan yang baik kelak hari di sana, tanpa kita menyadari kita
menjadi orang yang munafik, bagaimana tidak (?) coba dengarkan kembali doa kita
masing masing yang lebih mendahulukan kebahagiaan didunia terlebih dahulu dari
pada kehidupan kelak. Padahal nyanyian merdu kita tentang esensialsme kita
kelak adalah bukan dikehidupan yang sekarang, lantas bagaimana kita menanggapi
dilema yang mungkin sudah kita jadikan sebuah rutinitas.
Kita kembali pada pesan tuhan. Secara pribadi saya menilai
itu tentang bagaimana saat kita memiliki tujuan masing masing atau tujuan
bersama, yang arahnya sama dan sampainya juga akan disitu juga. Tengoklah
Nadhlatul ulama, Muhammadiyah, ataupun LDII. Atau kalau kita mau melihat agama
samawi sperti ajaran islam, kristen, ataupun ajaran sidarta sigautama,
bagaimana kalau kita perkecil kita tenggok pada HMI, PMII, juga GMNI. Mereka
semua hanya wadah, yang meiliki masa dan tujuan yang sama, tapi mereka memiliki
supir yang akan menentukan kemana mereka akan pergi. Seperti pengendara motor
dan Bus patas, seandainya kita berada pada posisi pengendara motor kita bebas
mau kemana kita akan pergi, namun jika panas kita akan kepanasan, hujan
kehujanan walaupun kita bisa mencari tempat untuk berteduh. Kalau kita berada
dalam bus patas kita bisa tiduran dan mainan hp, tidak perlu capek, kehujanan
ataupun kepanasan, tapi kita tidak bebas, seolah kita terbelenggu arah dan
tujuan, iya kalau supirnya memang bener, kalau gak bener gimana, mau kemana
kita (?). Lantas harus bagaimana kita. Yang penting jangan saling tenggor agar
tidak terjadi
tenggoran.
Dan bagaimana pesan tuhan tuhan yang lengkap itu kita
ekspetasikan pada dunia pekerjaan atau bisnis. Lihat saja pegawai negri atau
pebisnis. Membahas perihal ini teringat kata yang terus melayang dalam otaku
dari om Bob “sekaya apapun dirimu hanya menjadi babu jika kamu ikut orang lain,
dan semiskin apapun dirimu akan menjadi bos kalau mempunyai usaha dan kiat
sendiri”.
Bukankah banyak dilema yang menemani nyanyian hari kita. Dan
kita gak bisa kalau menghilangkan perihal demikian, masalahnya saat kita
berhasil menghilangaknya malah akan menimbulkan suatu hal baru yang ingin kita
hilangkan juga pada akhirnya. Seperti setelah revolusi 1917 saat runtuhnya
rusia, yang saat itu kita ingin penyelarasan tentang setiap diri yang ada
dibumi, menginginkan ketidakadaanya suatu stratifikasi sosial, tapi apa yang
terjadi, yang terjadi malah timbul faham tentang komunis, sosialis mauapun
kapitalis.
Lalu apakah kita hanya akan merengek kepada tuhan sambil
menuntut akan keterbatas tuhan mengenai janjinya, dan memakai dasar uduuni astajiblaku, tapi kita tidak mau
berusaha. Sebaiknya iya kalau kamu tidak malu dan mau doamu hanya seperti
kebulan vapor.
#saat hanya sinar laptop yang menerangi wajah yang disangga
oleh bantal.
# Jumlah kata yang berhasil kutulis saat ini ada 854 kata,
percaya(?) hitung saja sendiri, soalnya saya hanya melihat arah jam sebelas
pada laptop asus X454l series dan microsoft word 2013.
#sambil memikirkan perihal Bajingan yang mengubah dan
mepermanis dirinya menjadi seorang keluarga.
Joossd waxxxx
BalasHapusnuhun mas :)
HapusJoss gandoss
BalasHapushatur nuhun mas :)
Hapus