Selasa, 10 Januari 2017

Jangan paksakan piton menjadi kobra

Pagi telah merayu, tapi kurasa rayuanya telah berubah menjadi belaian. Sinarnya datang, dengan berbagai harapan. Saat itu kuposisikan diriku pada kehidupan setengah sadar. Ku lihat burung tak menyanyi, pohon tak menari, dan pojokan gedung tua itu telah menjadi pesing karna istiqomahnya seseorang.

Memang benar katamu (soe hok gie) aktifitas ini semacam sihir, entah kenapa, kalaupun saya yang telah sedikit membaca tentang “catatan seorang demonstran” yang kau tulis, mungkin aku juga sukar untuk menjawabnya, sedangkan dewasa ini saya hanya mendapatkan materi yang sistematis, sedangkan metafisika seolah tak digubris oleh mereka. Entah enggan atau tak mau mereka menyampaikanya.

Siluet yang tergambar saat itu, membuat saya sadar. Ditemani burung yang tidak menyanyi, pohon yang tak menari, dan enggan untuk ke pojokan gedung tua itu. Teringat lalu lalang mimpi entah kemarin, ketika aku mendengarkan keluh kesah antara cobra dan phyton. Entah apa yang membuat mereka bertemu dan melakukan obrolan ringan sebenarnya. Yang saya tau dari mereka berdua hanya yang tampak-tampak saja, seperti cobra yang terkenal dengan racunya yang mematikan mangsanya, termasuk sejenis ular, banyak hidup di daerah India, dengan sebutan yang khas untuknya yaitu king kobra. Sedangkan phyton yang terkenal akan lilitanya, mematikan seperti cobra, namun berbeda cara, phyton mampu menelan sesuatu apapun itu yang besarya sampai sepuluh kali lipat dari besarnya.
Perbedaan antara keduanya hanya masalah waktu, secara dominan cobra sangat cepat dan phyton lamban dalam menaklukan mangsanya. Berbagai kekurangan juga disandang antara keduanya, dan berbagai kesalahan fatal juga sering terjadi antara keduanya, mungkin itu yang melatar belakangi mereka bertemu setelah ku semak percakapan antara keduanya. Kurang lebih saat pertengahan hutan amazon dijadikan sebagai tempat bertemu mereka, pohon tua sekitar 100 tahun telah tertanam dibumi, daun lebat serta ranting yang banyak membuat suasanya semakin nyaman. Terlihat Banteng yang tinggal separuh badanya, aku bisa menebak kalau itu sarapan dari phyton yang tidak habis, juga terlihat tikus yang masih utuh namun sudah tak bernyawa.

Saat percakapan sudah dimulai..
Hy bro, gimana kabar.? Sapa phyton untuk memulai, karna dia sebegai tuan rumah juga.
Sehat bro, kamu sendiri bagaimana.? “saut cobra setelah melilitkan sebagian badanya.”
Baik juga. Langsung saja, kamu tau mengapa saya memanggilmu kemari. “tambah phyton tanpa basa basi.’’
Kurang tau juga. “timbal kobra dengan cepat dengan raut tegang yang terbawa suasana dari phyton.”
Jadi seperti ini saudara, saya ingin becerita, mungkin kamu bisa mengambil kesimpulan, terlebih juga kalau nanti kamu juga mau berbagi cerita.
Saya mendengarkan. “sahut cobra dengan nada yang datar.”
Mulai phyton bercerita setelah dia sedikit mengigit sarapanya kembali. Kemarin saya mendengar kabar kalau megalodon hidup kembali, saya merasa lapar juga saat itu, jadi ku ingin menaklukanya. Kamu tau sendiri kan, kalau saya paling ahli dengan melilit, mampu saya taklukan banteng banteng di Afrika itu, atau brahmana yang tersebar di berbagai belahan dunia, tak pernah gentar sedikitpun kalau saya sedang lapar. Jadi kuputaskan berenang sampai disuatu tempat yang katanya itu adalah tempat persembunyian megalodon. Ku cari..
Kapan itu, dan sama siapa kamu mencarinya. “potong cobra yang kurang jelas.”
Jadi sekitar seminggu yang lalu, sendirin ku cari megalodon. Ku cari informasinya dari sahabat sahabatku, bahawa informasi yang kudapat menuju ke suatu tempat, akhirnya aku kesana. Dan kamu tau, saya sangat lapar saat itu. Singkat cerita aku bertemu dengan megalodon, tak lama pertarungan pun pecah, bak pertarungan antara bangsa mongol dan majapahit, sangat sengit. Sekitar 15 menit dengan ambisi yang kuat saya bertarung, tapi.. taukah kamu apa yang terjadi.?
Tidak. “geleng kepala ular tanda ia tidak tau.”
Aku merasa keahlianku telah hilang, bersama terumbu karang yang lelah dan gundah. Aku sedih saat itu, kau tau, sejak saat itu aku tak mau mencari makan lagi, dan kau tau, banteng ini bukan aku dapatkan dari jerih payahku, aku minta sisa dari temanku, padahal yang sebenarnya terjadi aku sudah tidak bisa melilit lagi. Dan parahnya..
Sudahlah teman. “sahut cobra dengan cepat karna tak mau phyton menangis.”
Apanya yang sudah.? “timbal phyton.”
Ya ceritanya. Tapi kamu tidak harus bersedih, kau tau, tikus ini juga bukan aku yang memangsanya, aku juga minta tolong temanku untuk mencarikan aku makanan. “disusul dengan tawa cobra.”
Hah, apa.? Yang benar kamu.? “tanya phyton heran.”
Iya, ngapain juga bohong.?
Terus ceritanya gimana,? “tanya phyton penasaran.”
Ceritanya tidak jauh beda dengan kamu, tapi yang aku cari saat itu ialah tarantula, laba-laba besar dan beracun itu. Tak peduli harus ke padang pasir untuk mencarinya. Singkat cerita aku juga mengalami kekalahan yang telak. “helaan nafas menemani cerita yang telah terucap.”
Kita senasib kawan. “phyton menguatkan cobra.”
Sudahlah gausah dibahas. “sahut cobra.”
Pernahkah kamu berpikir untuk tukar posisi.? “tanya phyton untuk memecah keheningan.”
Maksutnya.? “tanya cobra bingung.”
Ya kamu melilit dan aku mengigit dengan racunku.
Lantas.?
Mungkin kita akan menjalani dengan cara yang baru,? “tegas phyton”
Boleh juga. “sahut cobra dengan tatapan mata yang cerah.”
kapan kita bisa mulai.? “tambah cobra.”
Besok.?
Boleh.

Akhirnya phyton dan cobra berhasil menemukan gebrakan, dan pulanglah mereka ke tempat mereka masing – masing.
Keesokan harinya..
Ku lihat phyton mencoba mengigit banteng, dan mecoba menunggu mangsanya jatuh gara-gara racunya. Namun seminggu hanya nihil yang dia dapatkan, dan pada akhirnya dia mati kelaparan.
Sedangkan Cobra mencoba melilit tikus yang akan ia jadikan sebagai mangsanya, Cobra berhasil melilitnya, tapi yang terjadi setelah ia melilit malah dibawa lari oleh tikus, sampai kulit dari cobra banyak yang lepas, anehnya kejadian itu juga terjadi seminggu dan pada akhirnya Cobra mati dan tidak bisa ketemu dengan Phyton.
#
Memang tuhan menyukai sebuah cerita untuk menyampaikan berita. Seperti cerita tuyul pencuri kurma dan ayat kursi. Seharusnya dewasa ini kita tidak hanya tau itu, kita musti bertanya kepadanya, kenapa dia mmenyukai cerita untuk menyampaikan berita.

1 komentar: