Pagi telah
merayu, tapi kurasa rayuanya telah berubah menjadi belaian. Sinarnya datang,
dengan berbagai harapan. Saat itu kuposisikan diriku pada kehidupan setengah
sadar. Ku lihat burung tak menyanyi, pohon tak menari, dan pojokan gedung tua
itu telah menjadi pesing karna istiqomahnya seseorang.
Memang benar
katamu (soe hok gie) aktifitas ini semacam sihir, entah kenapa, kalaupun saya
yang telah sedikit membaca tentang “catatan seorang demonstran” yang kau tulis,
mungkin aku juga sukar untuk menjawabnya, sedangkan dewasa ini saya hanya
mendapatkan materi yang sistematis, sedangkan metafisika seolah tak digubris
oleh mereka. Entah enggan atau tak mau mereka menyampaikanya.
Siluet yang
tergambar saat itu, membuat saya sadar. Ditemani burung yang tidak menyanyi,
pohon yang tak menari, dan enggan untuk ke pojokan gedung tua itu. Teringat
lalu lalang mimpi entah kemarin, ketika aku mendengarkan keluh kesah antara
cobra dan phyton. Entah apa yang membuat mereka bertemu dan melakukan obrolan
ringan sebenarnya. Yang saya tau dari mereka berdua hanya yang tampak-tampak
saja, seperti cobra yang terkenal dengan racunya yang mematikan mangsanya,
termasuk sejenis ular, banyak hidup di daerah India, dengan sebutan yang khas
untuknya yaitu king kobra. Sedangkan phyton yang terkenal akan lilitanya,
mematikan seperti cobra, namun berbeda cara, phyton mampu menelan sesuatu
apapun itu yang besarya sampai sepuluh kali lipat dari besarnya.
Perbedaan
antara keduanya hanya masalah waktu, secara dominan cobra sangat cepat dan
phyton lamban dalam menaklukan mangsanya. Berbagai kekurangan juga disandang
antara keduanya, dan berbagai kesalahan fatal juga sering terjadi antara
keduanya, mungkin itu yang melatar belakangi mereka bertemu setelah ku semak
percakapan antara keduanya. Kurang lebih saat pertengahan hutan amazon
dijadikan sebagai tempat bertemu mereka, pohon tua sekitar 100 tahun telah
tertanam dibumi, daun lebat serta ranting yang banyak membuat suasanya semakin
nyaman. Terlihat Banteng yang tinggal separuh badanya, aku bisa menebak kalau
itu sarapan dari phyton yang tidak habis, juga terlihat tikus yang masih utuh
namun sudah tak bernyawa.
Saat
percakapan sudah dimulai..
Hy bro,
gimana kabar.? Sapa phyton untuk memulai, karna dia sebegai tuan rumah juga.
Sehat bro,
kamu sendiri bagaimana.? “saut cobra setelah melilitkan sebagian badanya.”
Baik juga.
Langsung saja, kamu tau mengapa saya memanggilmu kemari. “tambah phyton tanpa
basa basi.’’
Kurang tau
juga. “timbal kobra dengan cepat dengan raut tegang yang terbawa suasana dari
phyton.”
Jadi seperti
ini saudara, saya ingin becerita, mungkin kamu bisa mengambil kesimpulan,
terlebih juga kalau nanti kamu juga mau berbagi cerita.
Saya
mendengarkan. “sahut cobra dengan nada yang datar.”
Mulai phyton
bercerita setelah dia sedikit mengigit sarapanya kembali. Kemarin saya
mendengar kabar kalau megalodon hidup kembali, saya merasa lapar juga saat itu,
jadi ku ingin menaklukanya. Kamu tau sendiri kan, kalau saya paling ahli dengan
melilit, mampu saya taklukan banteng banteng di Afrika itu, atau brahmana yang
tersebar di berbagai belahan dunia, tak pernah gentar sedikitpun kalau saya
sedang lapar. Jadi kuputaskan berenang sampai disuatu tempat yang katanya itu
adalah tempat persembunyian megalodon. Ku cari..
Kapan itu,
dan sama siapa kamu mencarinya. “potong cobra yang kurang jelas.”
Jadi sekitar
seminggu yang lalu, sendirin ku cari megalodon. Ku cari informasinya dari
sahabat sahabatku, bahawa informasi yang kudapat menuju ke suatu tempat,
akhirnya aku kesana. Dan kamu tau, saya sangat lapar saat itu. Singkat cerita
aku bertemu dengan megalodon, tak lama pertarungan pun pecah, bak pertarungan
antara bangsa mongol dan majapahit, sangat sengit. Sekitar 15 menit dengan
ambisi yang kuat saya bertarung, tapi.. taukah kamu apa yang terjadi.?
Tidak.
“geleng kepala ular tanda ia tidak tau.”
Aku merasa
keahlianku telah hilang, bersama terumbu karang yang lelah dan gundah. Aku
sedih saat itu, kau tau, sejak saat itu aku tak mau mencari makan lagi, dan kau
tau, banteng ini bukan aku dapatkan dari jerih payahku, aku minta sisa dari
temanku, padahal yang sebenarnya terjadi aku sudah tidak bisa melilit lagi. Dan
parahnya..
Sudahlah
teman. “sahut cobra dengan cepat karna tak mau phyton menangis.”
Apanya yang
sudah.? “timbal phyton.”
Ya
ceritanya. Tapi kamu tidak harus bersedih, kau tau, tikus ini juga bukan aku
yang memangsanya, aku juga minta tolong temanku untuk mencarikan aku makanan.
“disusul dengan tawa cobra.”
Hah, apa.?
Yang benar kamu.? “tanya phyton heran.”
Iya, ngapain
juga bohong.?
Terus
ceritanya gimana,? “tanya phyton penasaran.”
Ceritanya
tidak jauh beda dengan kamu, tapi yang aku cari saat itu ialah tarantula,
laba-laba besar dan beracun itu. Tak peduli harus ke padang pasir untuk
mencarinya. Singkat cerita aku juga mengalami kekalahan yang telak. “helaan
nafas menemani cerita yang telah terucap.”
Kita senasib
kawan. “phyton menguatkan cobra.”
Sudahlah
gausah dibahas. “sahut cobra.”
Pernahkah
kamu berpikir untuk tukar posisi.? “tanya phyton untuk memecah keheningan.”
Maksutnya.?
“tanya cobra bingung.”
Ya kamu
melilit dan aku mengigit dengan racunku.
Lantas.?
Mungkin kita
akan menjalani dengan cara yang baru,? “tegas phyton”
Boleh juga.
“sahut cobra dengan tatapan mata yang cerah.”
kapan kita bisa mulai.? “tambah cobra.”
kapan kita bisa mulai.? “tambah cobra.”
Besok.?
Boleh.
Akhirnya
phyton dan cobra berhasil menemukan gebrakan, dan pulanglah mereka ke tempat
mereka masing – masing.
Keesokan
harinya..
Ku lihat
phyton mencoba mengigit banteng, dan mecoba menunggu mangsanya jatuh gara-gara
racunya. Namun seminggu hanya nihil yang dia dapatkan, dan pada akhirnya dia
mati kelaparan.
Sedangkan
Cobra mencoba melilit tikus yang akan ia jadikan sebagai mangsanya, Cobra
berhasil melilitnya, tapi yang terjadi setelah ia melilit malah dibawa lari
oleh tikus, sampai kulit dari cobra banyak yang lepas, anehnya kejadian itu
juga terjadi seminggu dan pada akhirnya Cobra mati dan tidak bisa ketemu dengan
Phyton.
#
Memang tuhan
menyukai sebuah cerita untuk menyampaikan berita. Seperti cerita tuyul pencuri
kurma dan ayat kursi. Seharusnya dewasa ini kita tidak hanya tau itu, kita
musti bertanya kepadanya, kenapa dia mmenyukai cerita untuk menyampaikan
berita.
makasih dek
BalasHapus