Bagimana jika ada wanita yang bertanya sikap apa yang akan
mereka ambil terkait dengan teori seleksi alam versi Darwin? Tiga pokok
pembahasan teori Darwin yang mereka pertanyakan yaitu :
1
S - stunggle-existence,
pertarungan buat hidup.
2 - Adaptability,
kodrat menyesuaikan diri.
3 - Natural selection, pilihan alam.
Kalau melihat saat ini yang terjadi memang tiga hal ini
diterapkan oleh perempuan. Walaupun mereka tidak mengetahui ketiga teori
tersebut. Seperti halnya emak-emak
penjual Jamu ataupun penjual Potas. Bukan bermaksud untuk meremehkan kecerdasan
dari emak itu, melainkan kalau mereka
tahu teori tersebut bisa dikatakan mereka pandai. Kalau pandai saya kira mereka
tidak menjual Jamu atau Potas. Walaupun hanya sebatas penjual Jamu atau Potas,
tapi dari situ mereka melakukan pertarungan untuk tetap hidup, menyesuaikan
diri baik dengan perempuan atau lelaki, dan yang paling penting ketika mereka
kalah pada pertarungan dan penyesuaian mereka tidak akan lolos seleksi alam.
Jadi mau tidak mau mereka juga harus berjuang agar dapat bersain dalam seleksi
alam.
Kemudian yang menjadi pertanyaan ialah sikap apa yang akan
mereka ambil. Atau sikap seperti apa yang musti mereka ambil, agar apa yang
mereka lakukan itu benar. Kalau orang Jawa biasa dengan ungkapan “terus aku kudu pie?”
Saya kira ada beberapa acuan yang dapat digunakan untuk
menjawabnya. Pertama, terkait dogma Agama. Ataupun kalau mereka lebih suka
kebangsaan dapat mencontoh apa yang pernah diajarkan Kartini. Namun, lebih
menarik jika melihat dari apa yang pernah diajarkan oleh Kartini.
Jauh hari pertanyaan diatas tadi terjawabkan oleh R.A.
Kartini. Yaitu, emansipasi yang diperjuangkan putri bangsa kita. Hal itu juga
diakui secara universal oleh bangsa Indonesia. Walaupun jauh hari tepatnya pada
abad ke-14 bangsa Romawi sudah menerapkan teori ini. Hanya saja Kartini lah
yang memperjuangkan emansipasi di Indonesia. Jadi, tidak perlu saya ungkap
lebih jauh terkait pasal siapa Kartini dan apa itu emansipasi. Namun terkait
pertanyaan diatas tadi lah yang akan saya singgung sedikit jauh.
Sebelum emansipasi tren di Indonesia kita tahu bahwa terjadi
kesenjangan antara peran wanita dan lelaki. Tidak usah kita pungkiri, seperti
kata orang Jawa dulu yang mengatakan peran wanita hanya manak, masak dan macak (melahirkan, masak dan berhias) saja. Namun,
untuk saat ini peran wanita lebih dominan. Seperti yang diungkapkan Darwin
terkait Adaptability tadi. Bisa juga
terkait tentang Strungle-existence. Untuk
hal ini bisa dikatakan lebih extreme, karena
jika wanita tak mampu melalui seleksi ia akan punah. Bukankah seperti itu apa
yang diungkankan Darwin pada tahun 1859 tentang seleksi alam.
Bisa dikatakan sebuah prestasi atau kecelakaan terkait emansipasi
yang dibawa Kartini untuk saat ini. tergantung bagiamana dan dari sudut pandang
mana kita melihatnya. Sebelum lebih jauh, saya akan mengambil pendapat dari
Raju dan Idhatus. Raju berasumsi yang berpacu pada apa yang dikatakan Cassanova
dan roman Arok Dedes kalau wanita memanglah berlian. Namun, ia bukanlah raja.
Memang saya sepakati pendapatnya. Kalau melihat saat ini banyak wanita yang
mengungguli peran dari lelaki. Bukan tidak boleh, tapi kalau melihat kodrat penciptaan
makhluk itu hakikatnya berpasang. Seperti diciptakan kebaikan, maka
dicipkatakan pula keburukan. Diciptakan Surga juga dicipkannya Neraka. Begitu
pula diciptakan lelaki juga diciptakannya wanita. Sedangkan untuk urusan lelaki
dan perempuan pada hakikatnya yang memiliki kedudukan lebih tinggi adalah
lelaki. Hal itu sudah paten dan tidak bisa bantahkan walaupun kita berpacu pada
dogma agama. Hal seperi ini juga diungkapkan oleh Idhatus, ia berasumsi wanita
lupa dengan kodrat perannya ketika penyelewengan yang berlebih terhadap makna
asli dari emansipasi. Terlebih ia memberikan contoh yang riil. Mungkin contoh
yang diungkapkan Idatus bisa kita temui pada sekeliling kita. Idhatus juga
menyinggung dalam sebuah pertanyaan, yang intinya ia menanyakan bagimana
jadinya jika Kartini masih hidup dan melihat perjuanganya berujung seperti ini?
Mungkin tidak seperti ini yang Kartini harapkan.
Sedangkan untuk bolehnya yaitu boleh saja Idatus lebih
pintar, lebih berkuasa atas raju, karena mereka berdua bukan suami istri. Beda
lagi urusannya jika kelak Raju dan Idhatus menikah. Tapi, semoga saja jangan!
Kalau saya sendiri tidak akan memberikan penggambaran
terlalu jauh. Hanya saja anda akan saya ajak melihat kota dengan kordinat 111 derajat 30' -
112 derajat 35 BT dan 6 derajat 40' - 7 derajat 18' LS. Tidak perlu susah – susah mencari dari Google
kota mana itu, kordinat itu menunjukan kota Tuban, Jawa Timur (baik kan saya).
Ada apa dikota yang diampit laut Jawa, kabupaten Bojonegoro, Lamongan dan
Rembang? Tidak jauh dari tema pembahsan yaitu terkait Emansipasi. Pada akhir
tahun 2016 angka perceraian dikota kecil ini sampai pada angka 2.623. Info yang
saya peroleh dari surabayabojonegoro.com ini mengungkapkan kalau kasus itu
berupa 1101 kasus cerai talak dan 1522 cerai gugat. Kasus yang ditangani
Pengadilan Agama Tuban ini membuat saya SPG (sempat kaget, bukan es, pentol dan
gorengan loh ya). Akhirnya dengan senang hati untuk mengobati rasa penasaran
itu saya datang ke kantor Pengadilan Agama Tuban. Benar memang, terlihat banyak
ibu – ibu yang mengantre di ruang tunggu. Singkat cerita saya berhasil menemui
salah satu pengantre, sebut sama mama muda namanya. Ia mengantre untuk
mendapatkan Sertifikat cerai. Sama halnya dengan yang lain. Namun, ada juga
masih mengurusi percerain dengan suaminya. Saya juga menanyakan alasan dominan
mereka bercerai, mama muda tadi beranggapan banyak alasan. Salah satunya
masalah Ekonomi dan KDRT. Ia juga berasumsi ada juga karena wanita menuntut
lebih dari apa yang bisa diberikan oleh suaminya. “Wong wedok saiki mas nek iso
golek duwek dewe mesti golek luweh teko bojone (wanita sekarang mas kalau bisa
mencari uang sendiri pasti cari yang lebih dari suaminya. Dalam artian mencarai
suami baru yang lebih dari suaminya sekarang)
Dari sini saya berasumsi tentang kecelakaan dari
yang ditimbulkan Emansipasi. Mungkin dulu itu bisa menjadi prestasi. Dulu!
Bagimana menurutmu?
Anda bisa mengutarakan pendapat anda terkait apapun, seperti
tentang Emansipasi pada diskusi buku rutin. Diskusi yang diadakan di gedung
pertemuan Universitas Trunojoyo Madura setiap hari Senin pada pukul 19.30.
Terbuka untuk semua kalangan. Tapi, untuk saat ini biar saya mengungkapkan
pendapat saya terlebih dahulu. Bukanya saya mau mendiskriminasi wanita. Tapi
kalau bercermin pada kisah Adam dan Hawa jangan sampai pepatah orang adat
Minangkabau terjadi. Pepatah yang berbunyi “Tamu mengalahkan yang punya rumah”.
Dari sini pasti anda mengerti apa yang saya maksudkan.
Oh iya, saya lupa menjelaskan kalau tiga teori Darwin tadi
sudah tidak relevan untuk diterapkan. Terlebih jika yang menerapkannya adalah
wanita. Tau sendiri kalau teori itu masih menimbulkan banyak perdebatan.
Terlebih teori itu juga bertentangan dengan ajaran agama.

0 komentar:
Posting Komentar