Jumat, 05 Mei 2017

Kekuatan Emak

Bagimana jika ada wanita yang bertanya sikap apa yang akan mereka ambil terkait dengan teori seleksi alam versi Darwin? Tiga pokok pembahasan teori Darwin yang mereka pertanyakan yaitu :
1   
S  -  stunggle-existence, pertarungan buat hidup.
2    -  Adaptability, kodrat menyesuaikan diri.
3    -  Natural selection, pilihan alam.

Kalau melihat saat ini yang terjadi memang tiga hal ini diterapkan oleh perempuan. Walaupun mereka tidak mengetahui ketiga teori tersebut. Seperti halnya emak-emak penjual Jamu ataupun penjual Potas. Bukan bermaksud untuk meremehkan kecerdasan dari emak itu, melainkan kalau mereka tahu teori tersebut bisa dikatakan mereka pandai. Kalau pandai saya kira mereka tidak menjual Jamu atau Potas. Walaupun hanya sebatas penjual Jamu atau Potas, tapi dari situ mereka melakukan pertarungan untuk tetap hidup, menyesuaikan diri baik dengan perempuan atau lelaki, dan yang paling penting ketika mereka kalah pada pertarungan dan penyesuaian mereka tidak akan lolos seleksi alam. Jadi mau tidak mau mereka juga harus berjuang agar dapat bersain dalam seleksi alam.

Kemudian yang menjadi pertanyaan ialah sikap apa yang akan mereka ambil. Atau sikap seperti apa yang musti mereka ambil, agar apa yang mereka lakukan itu benar. Kalau orang Jawa biasa dengan ungkapan “terus aku kudu pie?”

Saya kira ada beberapa acuan yang dapat digunakan untuk menjawabnya. Pertama, terkait dogma Agama. Ataupun kalau mereka lebih suka kebangsaan dapat mencontoh apa yang pernah diajarkan Kartini. Namun, lebih menarik jika melihat dari apa yang pernah diajarkan oleh Kartini.

Jauh hari pertanyaan diatas tadi terjawabkan oleh R.A. Kartini. Yaitu, emansipasi yang diperjuangkan putri bangsa kita. Hal itu juga diakui secara universal oleh bangsa Indonesia. Walaupun jauh hari tepatnya pada abad ke-14 bangsa Romawi sudah menerapkan teori ini. Hanya saja Kartini lah yang memperjuangkan emansipasi di Indonesia. Jadi, tidak perlu saya ungkap lebih jauh terkait pasal siapa Kartini dan apa itu emansipasi. Namun terkait pertanyaan diatas tadi lah yang akan saya singgung sedikit jauh.

Sebelum emansipasi tren di Indonesia kita tahu bahwa terjadi kesenjangan antara peran wanita dan lelaki. Tidak usah kita pungkiri, seperti kata orang Jawa dulu yang mengatakan peran wanita hanya manak, masak dan macak (melahirkan, masak dan berhias) saja. Namun, untuk saat ini peran wanita lebih dominan. Seperti yang diungkapkan Darwin terkait Adaptability tadi. Bisa juga terkait tentang Strungle-existence. Untuk hal ini bisa dikatakan lebih extreme, karena jika wanita tak mampu melalui seleksi ia akan punah. Bukankah seperti itu apa yang diungkankan Darwin pada tahun 1859 tentang seleksi alam.

Bisa dikatakan sebuah prestasi atau kecelakaan terkait emansipasi yang dibawa Kartini untuk saat ini. tergantung bagiamana dan dari sudut pandang mana kita melihatnya. Sebelum lebih jauh, saya akan mengambil pendapat dari Raju dan Idhatus. Raju berasumsi yang berpacu pada apa yang dikatakan Cassanova dan roman Arok Dedes kalau wanita memanglah berlian. Namun, ia bukanlah raja. Memang saya sepakati pendapatnya. Kalau melihat saat ini banyak wanita yang mengungguli peran dari lelaki. Bukan tidak boleh, tapi kalau melihat kodrat penciptaan makhluk itu hakikatnya berpasang. Seperti diciptakan kebaikan, maka dicipkatakan pula keburukan. Diciptakan Surga juga dicipkannya Neraka. Begitu pula diciptakan lelaki juga diciptakannya wanita. Sedangkan untuk urusan lelaki dan perempuan pada hakikatnya yang memiliki kedudukan lebih tinggi adalah lelaki. Hal itu sudah paten dan tidak bisa bantahkan walaupun kita berpacu pada dogma agama. Hal seperi ini juga diungkapkan oleh Idhatus, ia berasumsi wanita lupa dengan kodrat perannya ketika penyelewengan yang berlebih terhadap makna asli dari emansipasi. Terlebih ia memberikan contoh yang riil. Mungkin contoh yang diungkapkan Idatus bisa kita temui pada sekeliling kita. Idhatus juga menyinggung dalam sebuah pertanyaan, yang intinya ia menanyakan bagimana jadinya jika Kartini masih hidup dan melihat perjuanganya berujung seperti ini? Mungkin tidak seperti ini yang Kartini harapkan.

Sedangkan untuk bolehnya yaitu boleh saja Idatus lebih pintar, lebih berkuasa atas raju, karena mereka berdua bukan suami istri. Beda lagi urusannya jika kelak Raju dan Idhatus menikah. Tapi, semoga saja jangan!

Kalau saya sendiri tidak akan memberikan penggambaran terlalu jauh. Hanya saja anda akan saya ajak melihat kota dengan kordinat 111 derajat 30' - 112 derajat 35 BT dan 6 derajat 40' - 7 derajat 18' LS. Tidak perlu susah – susah mencari dari Google kota mana itu, kordinat itu menunjukan kota Tuban, Jawa Timur (baik kan saya). Ada apa dikota yang diampit laut Jawa, kabupaten Bojonegoro, Lamongan dan Rembang? Tidak jauh dari tema pembahsan yaitu terkait Emansipasi. Pada akhir tahun 2016 angka perceraian dikota kecil ini sampai pada angka 2.623. Info yang saya peroleh dari surabayabojonegoro.com ini mengungkapkan kalau kasus itu berupa 1101 kasus cerai talak dan 1522 cerai gugat. Kasus yang ditangani Pengadilan Agama Tuban ini membuat saya SPG (sempat kaget, bukan es, pentol dan gorengan loh ya). Akhirnya dengan senang hati untuk mengobati rasa penasaran itu saya datang ke kantor Pengadilan Agama Tuban. Benar memang, terlihat banyak ibu – ibu yang mengantre di ruang tunggu. Singkat cerita saya berhasil menemui salah satu pengantre, sebut sama mama muda namanya. Ia mengantre untuk mendapatkan Sertifikat cerai. Sama halnya dengan yang lain. Namun, ada juga masih mengurusi percerain dengan suaminya. Saya juga menanyakan alasan dominan mereka bercerai, mama muda tadi beranggapan banyak alasan. Salah satunya masalah Ekonomi dan KDRT. Ia juga berasumsi ada juga karena wanita menuntut lebih dari apa yang bisa diberikan oleh suaminya. “Wong wedok saiki mas nek iso golek duwek dewe mesti golek luweh teko bojone (wanita sekarang mas kalau bisa mencari uang sendiri pasti cari yang lebih dari suaminya. Dalam artian mencarai suami baru yang lebih dari suaminya sekarang)

Dari sini saya berasumsi tentang kecelakaan dari yang ditimbulkan Emansipasi. Mungkin dulu itu bisa menjadi prestasi. Dulu! Bagimana menurutmu?

Anda bisa mengutarakan pendapat anda terkait apapun, seperti tentang Emansipasi pada diskusi buku rutin. Diskusi yang diadakan di gedung pertemuan Universitas Trunojoyo Madura setiap hari Senin pada pukul 19.30. Terbuka untuk semua kalangan. Tapi, untuk saat ini biar saya mengungkapkan pendapat saya terlebih dahulu. Bukanya saya mau mendiskriminasi wanita. Tapi kalau bercermin pada kisah Adam dan Hawa jangan sampai pepatah orang adat Minangkabau terjadi. Pepatah yang berbunyi “Tamu mengalahkan yang punya rumah”. Dari sini pasti anda mengerti apa yang saya maksudkan.


Oh iya, saya lupa menjelaskan kalau tiga teori Darwin tadi sudah tidak relevan untuk diterapkan. Terlebih jika yang menerapkannya adalah wanita. Tau sendiri kalau teori itu masih menimbulkan banyak perdebatan. Terlebih teori itu juga bertentangan dengan ajaran agama.

0 komentar:

Posting Komentar