“Sekarang ngajinya sudah selesai. Tadi saya sudah menjelaskan segala hal tentang ibadah, mungkin ada yang ingin bertanya”. Tanya kiai pada Santrinya.
Semua Santri terdiam.
“Masak tidak ada yang ditanyakan? Sudah paham apa belum?”
“Paham pak Kyai,” jawab santri dengan
serentak.
“Ya sudah kalau tidak ada yang mau bertanya,”
ungkap Kiai.
Semua santri yang mendengar ucapan itu
merasa senang. Terlihat dari raut mereka yang sumringah. Mereka berasumsi kalau ngajinya pasti sudah selesai. Malah ada seorang Santri yang
mengucap dalam Hatinya “Alhamdulillah pak Kiai mau pamit, bisa tidur lagi deh.”
“Tapi,” ucap Kiai sebelum salam kepada
Santrinya.
Tiba-tiba raut muka Santri berubah menjadi
tegang, karena mendengar kata 'tapi' dari Kiainya.
“kalau tidak ada yang mau bertanya, ya biar
saya saja yang bertanya” imbuhnya.
“Gimana?” tanya Kiai pada Santrinya.
“Iya pak Kiai,” jawab semua santri.
“Baiklah! Nanti semua harus menjawab ya!”
“Iya pak Kyai” kembali santri menjawab
dengan serentak.
“Pertanyaannya seperti ini. Ibadah apa yang
paling baik di sisi Allah?”
“Ya jelas Sholat berjamaah pak Kiai” jawab
Azzam dengan cepat.
“Kok bisa Sholat?” Kiai.
“Dalam hadist Bukhori menjelaskan kalau
Sholat berjamaah lebih utama dari sholat sendirian, yang pahalanya dua puluh
tujuh derajat. Sedangkan Sholat sendiri pahalanya hanya satu derajat,” jelas Azzam.
“Sudah itu saja penjelasannya?” tanya Kyai
karena belum puas dengan jawaban Azzam.
“Tadi pak Kiyai sempat menyinggung, kalau
hanya Sholat ibadah yang langsung dari Allah. Dalam artian perintah Sholat
tidak melalui Malaikat Jibril. Sedangkan ibadah seperti puasa, zakat ataupun
sodaqoh itu melalui perantara. Kemudian dalam hadist yang diriwayatkan oleh
Muslim, kalau ibadah paling baik ada Sholat jamaah pada waktunya” tambah Azzam
dengan tegas.
“Tapi apakah saya menyebutkan kalau itu
ibadah paling baik di sisi Allah?”
“Tidak juga pak Kiai,” jawab Azzam sambil
sedikit nyengir.
“Tapi jawaban Azzam tadi bagus, kalau kita
melihat dari segi syariatnya. Hanya saja kita hidup tidak melalui syariat saja,
ada sampai tingkatan ma’rifat. Siapa lagi yang mau menjawab?”
“Saya pak Kyai,” jawab Doel sambil
mengacungkan tangan.
“Silahkan Doel! Jadi menurutmu apa ibadah
paling baik di sisi Allah?”
“Begini pak Kiai. Tadi pak Kiyai kan
menyingung terkait sholawat. Dalam surah Al-Ahzab ayat 56 kan sudah jelas,
bahwa Allah dan Malaikatnya membaca sholawat kepada nabi Muhammad SAW. Nah! Pikir saya kalau Allah dan Malaikatnya membaca sholawat kepada nabi Muhammad,
itu adalah suatu hal yang luar biasa” jawab Doel dengan santai.
“Terus?”
“Apalagi kita statusnya hanya sebatas hamba,
Kiai. Maksudnya kita juga harus lebih bersholawat kepada nabi Muhammad” tambah
Doel.
“Itu juga termasuk salah satu ibadah yang
harus kita lakukan, Doel. Tapi kalau kita lebih dalam lagi, kita tidak membaca
sholat kepada nabi tidak masalah. Asalkan perilaku keseharian kita menunjukan
seolah kita membaca sholawat kepadanya. Contoh kecil kita menyingkirkan batu
atau duri dijalan. Bisa juga kita tidak buang air kecil di pohon ataupun
lubang. Maksudnya apa? Perilaku kita itu apa yang diajarkan nabi Muhammad,”
jelas pak Kiai.
“Jadi jawaban saya betul ya pak Kiai,”
tanya Doel dengan bangga.
“Kurang! Ada yang paling baik lagi,” jawab kiai
yang membuat Doel tidak jadi bangga.
“Berpikir pak Kiai,” jawab Ilham setelah kyai
menjawab pertanyaan Doel.
“Kok bisa begitu?”
“Dalam Al-Quran lima puluh tiga kali
disinggung tentang afala ta’qilun, yang
artinya gunakan otakmu. Artinya kita harus selalu berpikir. Baik berpikir
tentang segala yang ada di alam ini, seperti bagiamana kita memikirkan ciptaan
Allah. Dan tahap paling akhir adalah kita memikirkan Allah atau mengingat
Allah,” jawab Ilham.
“Kongkretnya seperti apa kita mengingat
Allah?”
“Seperti Azzam tadi yang menjawab terkait
Sholat. Kalau kita Sholat ya harus khusus untuk mengingat dan menghadap Allah.
Atau Doel yang menjawab tentang Sholawat, kalau kita bersholawat yang bagaimana
caranya kita bisa mengingat Allah. Saya rasa itu bentuk ibadah yang paling
dasar,” tambah Ilham.
“Kalau Ilham yakin bisa Sholat khusyuk?
Salah satu sahabat saja belum bisa khusyuk dalam Sholatnya”
“Tidak juga pak Kiai,” sambil sedikit nyengir.
“Tapi, saya suka dengan jawabanmu. Hanya
saja ada yang lebih baik,” tambah Kiiai yang membuat Ilham semakin nyengir.
“Siapa lagi?” tanya Kiai pada Santrinya.
“Saya pak Kiyai,” jawab Abdullah si Santri
pendiam.
“Iya Abdullah, silahkan!”
“Dalam HR Muslim dikatakan kalau ada tiga
amalan yang tidak akan terputus walau kita sudah mati. Yaitu; bersedekah, ilmu
yang bermanfaat dan mendoakan kedua orang tua. Tiga hal tersebut akan selalu
mengalir pahalanya walaupun kita sudah mati. Berbeda dengan jawaban sebelumnya,
semua amal itu akan terputus kalau kita sudah mati” jawab Abdullah dengan
meyakinkan.
“Kamu itu cerdas ya. Jarang bicara, tapi
kalau sudah bicara meyakinkan. Hanya saja ada yang lebih baik dari itu. Dan
jawabannya tidak jauh-jauh dengan kita saat ini”
“Pasti membaca ya pak Kiyai” jawab Husna.
“Silahkan dijelaskan Husna!”
“Segala ibadah kan ada pedomannya.
Sedangkan pedoman kita yang paling utama adalah Al-quran, kemudian Hadist.
Terus, ayat pertama yang turun adalah Al-Alaq ayat 1-5. Bahkan dalam suatu
riwayat nabi Muhammad dulu kesulitan dalam membaca, sampai Jibril mengulang
kata iqro’ tiga kali. Dari sini
timbul asumsi saya pak Kiai, bagimana kita bisa mengetahui berbagai hal kalau
kita tidak membaca. Sedangkan penafsiran dari membaca ialah memahami, memikirkan
dan kemudian memperaktikan”
“Kalau begitu yang paling baik adalah
belajar seperti ini. Dalam suatu riwayat kalau pahala belajar seperti ini, satu
jam saja pahalanya seperti kita memerdekakan Budak,” bantah Wati.
“Ya tidak bisa sepeti itu. Kalau saya lebih
setuju dengan menikah, karena dengan menikah makan sempurnalah setengah iman kita,”
jawab Imron dengan sedikit tertawa kecil.
“Huuu,” para Santri yang mendengar jawaban
Imron.
Melihat hal itu Kiai hanya tersenyum.
Tapi, belum sempat ia menghabiskan senyumnya ada Santriwati yang mengacungkan
tangan.
“Iya Ruqma, Silahkan!”
“Menurut saya pak Kiyai, kalau semua
jawaban tadi adalah bentuk dari tawakal. Jadi, yang paling baik ialah bagaimana
cara kita bertawakal dengan baik,” jawab Ruqma agak gugup.
“Kalau Ruqma bisa?”
“Hehehe, belum pak Kyai,”
“Jadi, jawabannya apa pak Kiai?” tanya Sukron
dengan serius.
“Baiklah! Berhubung waktunya juga mau habis.
Jadi, semua yang kalian kemukakan tadi bagus. Tidak ada ibadah yang tidak
bagus, semua ibadah itu baik. Kemudian, ibadah tidak hanya itu saja. Kita makan
bisa menjadi ibadah, mencari nafkah bisa menjadi ibadah, tersenyum ke sesama
bisa menjadi ibadah, bahkan tidur juga bisa menjadi ibadah. Kalian kan juga
tahu, kalau tidak diciptakannya manusia ataun jin kecuali hanya untuk beribadah
kepada Allah. Lantas, bagaimana agar makan, tidur, belajar, mencari nafkah,
atau hanya sebatas senyum bisa menjadi ibadah? Dengan niat. Masak lupa kalau
segala sesuatu (perbuatan) tergantung pada niatnya. Contoh waktu kita makan,
kita niat makan agar kuat belajar. Nah! Makan kita tadi bisa menjadi ibadah.
Untuk lainnya kalian bisa mentafsirkan sendiri. Pada intinya ibadah paling baik
ialah ibadah yang kita lakukan saat ini. dalam artian jawaban kalian tadi tidak
sebatas uraian saja. Tapi kita ketahui, kita jalankan, dan bagaimana kita bisa
istiqomah atas ibadah tersebut” jelas pak Kiai.
Terlihat Santri mengangguk puas.
“Ya sudah kalau begitu. Semoga kita menjadi
hamba yang selalu taat dalam beribadah. Selalu dalam jalan dan lindunganNya,
selalau mendapat rahmatNya, selalu bersyukur kepadaNya”
“Amiin,” jawab Santriwan dengan bersama.
“Assalamualaikum,” akhir kata dari pak Kyai
sambil meninggalkan kelas.
“Waalaikumsalam Warohwatullahi Wabarokatuh,”
jawab Santriwan dengan semangat sambil bersiap balik ke asrama.

0 komentar:
Posting Komentar