Sabtu, 13 Mei 2017

Kyai Bertanya pada Santrinya



“Sekarang ngajinya sudah selesai. Tadi saya sudah menjelaskan segala hal tentang ibadah, mungkin ada yang ingin bertanya”. Tanya kiai pada Santrinya.

Semua Santri terdiam.

“Masak tidak ada yang ditanyakan? Sudah paham apa belum?”

“Paham pak Kyai,” jawab santri dengan serentak.

“Ya sudah kalau tidak ada yang mau bertanya,” ungkap Kiai.

Semua santri yang mendengar ucapan itu merasa senang. Terlihat dari raut mereka yang sumringah. Mereka berasumsi kalau ngajinya pasti sudah selesai. Malah ada seorang Santri yang mengucap dalam Hatinya “Alhamdulillah pak Kiai mau pamit, bisa tidur lagi deh.”

“Tapi,” ucap Kiai sebelum salam kepada Santrinya.

Tiba-tiba raut muka Santri berubah menjadi tegang, karena mendengar kata 'tapi' dari Kiainya.

“kalau tidak ada yang mau bertanya, ya biar saya saja yang bertanya” imbuhnya.

“Gimana?” tanya Kiai pada Santrinya.

“Iya pak Kiai,” jawab semua santri.

“Baiklah! Nanti semua harus menjawab ya!”

“Iya pak Kyai” kembali santri menjawab dengan serentak.

“Pertanyaannya seperti ini. Ibadah apa yang paling baik di sisi Allah?”

“Ya jelas Sholat berjamaah pak Kiai” jawab Azzam dengan cepat.

“Kok bisa Sholat?” Kiai.

“Dalam hadist Bukhori menjelaskan kalau Sholat berjamaah lebih utama dari sholat sendirian, yang pahalanya dua puluh tujuh derajat. Sedangkan Sholat sendiri pahalanya hanya satu derajat,” jelas Azzam.

“Sudah itu saja penjelasannya?” tanya Kyai karena belum puas dengan jawaban Azzam.

“Tadi pak Kiyai sempat menyinggung, kalau hanya Sholat ibadah yang langsung dari Allah. Dalam artian perintah Sholat tidak melalui Malaikat Jibril. Sedangkan ibadah seperti puasa, zakat ataupun sodaqoh itu melalui perantara. Kemudian dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, kalau ibadah paling baik ada Sholat jamaah pada waktunya” tambah Azzam dengan tegas.

“Tapi apakah saya menyebutkan kalau itu ibadah paling baik di sisi Allah?”

“Tidak juga pak Kiai,” jawab Azzam sambil sedikit nyengir.

“Tapi jawaban Azzam tadi bagus, kalau kita melihat dari segi syariatnya. Hanya saja kita hidup tidak melalui syariat saja, ada sampai tingkatan ma’rifat. Siapa lagi yang mau menjawab?”

“Saya pak Kyai,” jawab Doel sambil mengacungkan tangan.

“Silahkan Doel! Jadi menurutmu apa ibadah paling baik di sisi Allah?”

“Begini pak Kiai. Tadi pak Kiyai kan menyingung terkait sholawat. Dalam surah Al-Ahzab ayat 56 kan sudah jelas, bahwa Allah dan Malaikatnya membaca sholawat kepada nabi Muhammad SAW. Nah! Pikir saya kalau Allah dan Malaikatnya membaca sholawat kepada nabi Muhammad, itu adalah suatu hal yang luar biasa” jawab Doel dengan santai.

“Terus?”

“Apalagi kita statusnya hanya sebatas hamba, Kiai. Maksudnya kita juga harus lebih bersholawat kepada nabi Muhammad” tambah Doel.

“Itu juga termasuk salah satu ibadah yang harus kita lakukan, Doel. Tapi kalau kita lebih dalam lagi, kita tidak membaca sholat kepada nabi tidak masalah. Asalkan perilaku keseharian kita menunjukan seolah kita membaca sholawat kepadanya. Contoh kecil kita menyingkirkan batu atau duri dijalan. Bisa juga kita tidak buang air kecil di pohon ataupun lubang. Maksudnya apa? Perilaku kita itu apa yang diajarkan nabi Muhammad,” jelas pak Kiai.

“Jadi jawaban saya betul ya pak Kiai,” tanya Doel dengan bangga.

“Kurang! Ada yang paling baik lagi,” jawab kiai yang membuat Doel tidak jadi bangga.

“Berpikir pak Kiai,” jawab Ilham setelah kyai menjawab pertanyaan Doel.

“Kok bisa begitu?”

“Dalam Al-Quran lima puluh tiga kali disinggung tentang afala ta’qilun, yang artinya gunakan otakmu. Artinya kita harus selalu berpikir. Baik berpikir tentang segala yang ada di alam ini, seperti bagiamana kita memikirkan ciptaan Allah. Dan tahap paling akhir adalah kita memikirkan Allah atau mengingat Allah,” jawab Ilham.

“Kongkretnya seperti apa kita mengingat Allah?”

“Seperti Azzam tadi yang menjawab terkait Sholat. Kalau kita Sholat ya harus khusus untuk mengingat dan menghadap Allah. Atau Doel yang menjawab tentang Sholawat, kalau kita bersholawat yang bagaimana caranya kita bisa mengingat Allah. Saya rasa itu bentuk ibadah yang paling dasar,” tambah Ilham.

“Kalau Ilham yakin bisa Sholat khusyuk? Salah satu sahabat saja belum bisa khusyuk dalam Sholatnya”

“Tidak juga pak Kiai,” sambil sedikit nyengir.

“Tapi, saya suka dengan jawabanmu. Hanya saja ada yang lebih baik,” tambah Kiiai yang membuat Ilham semakin nyengir.

“Siapa lagi?” tanya Kiai pada Santrinya.

“Saya pak Kiyai,” jawab Abdullah si Santri pendiam.

“Iya Abdullah, silahkan!”

“Dalam HR Muslim dikatakan kalau ada tiga amalan yang tidak akan terputus walau kita sudah mati. Yaitu; bersedekah, ilmu yang bermanfaat dan mendoakan kedua orang tua. Tiga hal tersebut akan selalu mengalir pahalanya walaupun kita sudah mati. Berbeda dengan jawaban sebelumnya, semua amal itu akan terputus kalau kita sudah mati” jawab Abdullah dengan meyakinkan.

“Kamu itu cerdas ya. Jarang bicara, tapi kalau sudah bicara meyakinkan. Hanya saja ada yang lebih baik dari itu. Dan jawabannya tidak jauh-jauh dengan kita saat ini”

“Pasti membaca ya pak Kiyai” jawab Husna.

“Silahkan dijelaskan Husna!”

“Segala ibadah kan ada pedomannya. Sedangkan pedoman kita yang paling utama adalah Al-quran, kemudian Hadist. Terus, ayat pertama yang turun adalah Al-Alaq ayat 1-5. Bahkan dalam suatu riwayat nabi Muhammad dulu kesulitan dalam membaca, sampai Jibril mengulang kata iqro’ tiga kali. Dari sini timbul asumsi saya pak Kiai, bagimana kita bisa mengetahui berbagai hal kalau kita tidak membaca. Sedangkan penafsiran dari membaca ialah memahami, memikirkan dan kemudian memperaktikan”

“Kalau begitu yang paling baik adalah belajar seperti ini. Dalam suatu riwayat kalau pahala belajar seperti ini, satu jam saja pahalanya seperti kita memerdekakan Budak,” bantah Wati.

“Ya tidak bisa sepeti itu. Kalau saya lebih setuju dengan menikah, karena dengan menikah makan sempurnalah setengah iman kita,” jawab Imron dengan sedikit tertawa kecil.

“Huuu,” para Santri yang mendengar jawaban Imron.

Melihat hal itu Kiai hanya tersenyum. Tapi, belum sempat ia menghabiskan senyumnya ada Santriwati yang mengacungkan tangan.

“Iya Ruqma, Silahkan!”

“Menurut saya pak Kiyai, kalau semua jawaban tadi adalah bentuk dari tawakal. Jadi, yang paling baik ialah bagaimana cara kita bertawakal dengan baik,” jawab Ruqma agak gugup.

“Kalau Ruqma bisa?”

“Hehehe, belum pak Kyai,”

“Jadi, jawabannya apa pak Kiai?” tanya Sukron dengan serius.

“Baiklah! Berhubung waktunya juga mau habis. Jadi, semua yang kalian kemukakan tadi bagus. Tidak ada ibadah yang tidak bagus, semua ibadah itu baik. Kemudian, ibadah tidak hanya itu saja. Kita makan bisa menjadi ibadah, mencari nafkah bisa menjadi ibadah, tersenyum ke sesama bisa menjadi ibadah, bahkan tidur juga bisa menjadi ibadah. Kalian kan juga tahu, kalau tidak diciptakannya manusia ataun jin kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah. Lantas, bagaimana agar makan, tidur, belajar, mencari nafkah, atau hanya sebatas senyum bisa menjadi ibadah? Dengan niat. Masak lupa kalau segala sesuatu (perbuatan) tergantung pada niatnya. Contoh waktu kita makan, kita niat makan agar kuat belajar. Nah! Makan kita tadi bisa menjadi ibadah. Untuk lainnya kalian bisa mentafsirkan sendiri. Pada intinya ibadah paling baik ialah ibadah yang kita lakukan saat ini. dalam artian jawaban kalian tadi tidak sebatas uraian saja. Tapi kita ketahui, kita jalankan, dan bagaimana kita bisa istiqomah atas ibadah tersebut” jelas pak Kiai.

Terlihat Santri mengangguk puas.

“Ya sudah kalau begitu. Semoga kita menjadi hamba yang selalu taat dalam beribadah. Selalu dalam jalan dan lindunganNya, selalau mendapat rahmatNya, selalu bersyukur kepadaNya”

“Amiin,” jawab Santriwan dengan bersama.

“Assalamualaikum,” akhir kata dari pak Kyai sambil meninggalkan kelas.

“Waalaikumsalam Warohwatullahi Wabarokatuh,” jawab Santriwan dengan semangat sambil bersiap balik ke asrama.


0 komentar:

Posting Komentar