Selasa, 17 Oktober 2017

Matilah Aktivis Trunojoyo

Tidak perlu kuceritakan dimana dan kapan kampusku berdiri, karena sebelumnya telah kucoba memaparkan sepenggal tentang Trunojoyo. Kampus pinggir sawah yang akrab disapa Universitas Trunojoyo Madura ini bertranformasi nama yang sebelumnya bernama Universitas Bangkalan. Tujuh fakultas didalamnya menghadirkan sosok manusia yang beranekaragam. Baik yang berprofesi si Bangsat, Apatis, sok Idealis, Bedebah, si baik, si empati dan si malaikat yang tidak tahu dirinya adalah malaikat. Kebetulan aku masuk bagian golongan si bedebah apatis.

Tidak hanya dikampusku yang bisa dikatakan golongan muda, lahir setelah peradaban tua  congkak yang mendapat titipan popularitas dari generasi sebelumnya. Baik sekelas Malang atau Surabaya yang memiliki keunggulan ditempat buang kotorannya. Bagaimana tidak, peradaban tua congkak yang lahir lebih dulu membuatnya menghegemoni generasi penerusnya. Mereka memiliki otoriter untuk memilih orang dengan kemampuan tinggi. Sedangkan bagi mereka yang memiliki kemampuan hanya sebatas mata kaki dibuang ke kampus kampus yang masih berjuang untuk mendapatkan popularitas, kampusku misalnya.

Namun, semua itu tidak bisa menjadi tolak ukur sepenuhnya untuk tetap eksis dijajaran universitas-universitas di Indonesia. Sebagai contoh SOKET (Studi Otomasi dan Kendali Trunojoyo) Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Teknik yang bergerak dibidang robotik mampu mengalahkan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya. Begitupun dengan tim debat dari Fakultas Hukum Universitas Trunojo Madura yang mampu menghantarkan mahasiswanya mendapat juara tiga debat konstitusi tingkat Nasional di Makasar. Masih banyak ajang kompetisi baik tingkat Nasional maupun Internasional yang kampusku mampu menyumbang nama. Tidak perlu kusebutkan apa saja lombanya. Kekhawatiranku malah membuat kemaluan dari peradaban tua congkak semakin membesar.

Perlu kuingatkan kalau semua itu dicapai oleh berbagai golongan buangan yang dikumpulkan menjadi satu tempat, di Universitas Trunojoyo Madura. Memang, kehadiran berbagai golongan itu bukan karena adanya proyek ekosistem buatan. Tapi, murni karena adanya kesetabilan. Seperti kata Al-Jaiz pada abad-9 tentang kesetabilan ekosistem (kalau kita analogikan kampus adalah ekosistem). Dengan adanya keberagaman untuk saling memenusi satu dengan lainnya. Begitupun dengan kampus yang kusebut sebagai peradaban tua congkak juga demikian. Namun, semua itu tidak akan terjadi jika terjadi hegemoni didalamnya.

Sebenarnya, ditempat semua sama. Golongan dan ras manja pasti ada disetiap tempat. Hanya saja kualitas intelektualnya berbeda.

Daripada tidak ada pentingnya membahas setiap individu setiap kampus, lebih baik membahas aktifis yang ada didalamnya. Seperti judul yang kupilih yaitu berharap agar para aktifis disegerakan kematiannya. Sebelumnya, akan lebih kusederhanakan siapa objek kali ini, baik didalam atau diluar kampus. Banyak organisasi pergerakan dengan cara dan tujuan masih-masing yang ada didalam kampus dekat sawah Trunojoyo. Misalnya, Lembaga Pers Mahasiswa, ada tujuh ditingkat fakultas dan satu ditingkat universitas. Bisa dikatakan kalau lembaga ini bertentangan dengan birokrasi dan lembaga pemerintahan, rival istilahnya.  Menguak segala permasalahan birokrasi berdasarkan survei lapangan adalah pekerjaan lembaga ini. Selain itu, menyajikan berbagai isu atau sebatas memberikan kabar seputar kejadian yang ada di kampus.

Memang, lembaga ini didanai oleh kampus untuk menjalankan segala kegiatannya. Namun, kurang waras jika ketakutan mengunggkap hal tidak wajar yang dilakukan lembaga pemerintahan kampus. Apalagi dalih karena didanai oleh kampus, padahal kalau dipikir lebih jauh uang dari kampus termasuk dari mereka sendiri yang bagian dari rakyat. Ada lagi yang lebih menjijikan yaitu, ketika lembaga ini sudah di hegemoni oleh suatu organisasi perpolitikan. Iya, kalau kode etik jurnalis dapat mereka jalankan sepenuhnya. Kalau aku tidak yakin, karena sudah banyak media seperti di televisi milik politikus yang isinya menceritakan kebaikan dari pemiliknya saja.

Percampuran peran untuk kepentingan seperti itulah yang mengkhawatirkan. Tidak perlu berdalih tentang integritas dapat dipertaruhkan, tapi lihat saja fenomena yang terjadi. Istilah cover both side dalam jurnalistik tidak akan berlaku, sedangkan yang berlaku yaitu menyebar kebencian untuk menjatuhkan lawan. Seperti yang diungkapkan Gubernur Jakarta yang baru, Anies Baswedan. Dia menuturkan 2018 nanti adalah masa-masa panas dalam perpolitikan, ujaran kebencian adalah senjata yang ampuh untuk menjatuhkan lawan.

Begitupun dengan media dikampusku, kemungkinan besar juga terjadi dikampus anda masing-masing. Keindependenan untuk tidak memihak mustahil untuk dilakukan. Sampai sini biarkan aku mengusulkan ide yang lebih cemerlang, kalau esensi dari kita yang suka dengan birokrasi mengikuti jurnalisme, lebih baik tetap pada birokrasimu dan membuat media didalamnya. Seperti, menjadi humas yang dituntut untuk selalu berkata manis. Daripada berkecimung dalam dua profesi tersebut yang ujungnya ambang-ambang tae dan hina dipandang.

Alasan kongkret mengenai paragraf diatas seperti ini, “Memangnya mau menceritakan kejelekan golonganmu ke khalayak umum?” Tidak perlu anda jawab pertanyaan itu.

Setelah sedikit puas mencaci lembaga jurnalis, mari mencaci lainnya. Misal, tentang mahasiswa pergerakan ke-idealisan. Sejujurnya, aku tidak pantas kalau mencaci mahasiswa pergerakan, karena aku tidak pernah berkecimung didalamnya. Aku hanya tau berbagai permasalahan dalam kampus seperti, demo yang sering terjadi ada dalang dibelakangnya. Misalnya, GMNI (merah), PMII (kuning) dan HMI (hijau). Sudah tidak asing lagi organisasi itu ditelinga kita, kebetulan tiga organisasi itu eksistensinya paling mencolok. Sebelum masuk pencaci-makian, disadari atau tidak bahwa mereka adalah siklus. Seperti dalam lagu, “Merah kuning hijau dilangit yang biru” (nggak ada yang nyuruh nyanyi). Selain itu, siklus itu masuk dalam transformasi warna agama, seperti yang dipahami Bob Marley.

Mereka memiliki ideologi masing-masing, baik merah, kuning dan hijau. Tolak ukur mereka ada sampai saat ini adalah peristiwa 19 tahun lalu, saat Indonesia dipimpin oleh seorang diktator, Soeharto. Dengan ideologi yang kuat mereka dapat menggulingkan orde tersebut. Jejak langkah mereka memiliki gol masing-masing. Ya, walaupun gol itu kembali ke perut mereka sendiri.
Sudah 19 tahun lamanya masa itu, dan sampai hari ini perang dengan landasan ideologi masing berlaku. Sungguh! Kurang up to date pake banget anda. Kalau dulu masih berlaku perang ideologi, sekarang sudah nggak jaman, bung. Sekarang jamannya perang identitas. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, idealitas sudah terjual untuk mempertahankan identitas. Kalau mau tidak repot dan lebih efisien seharusnya perang identitas langsung saja, tidak usah mengatasnamakan menjunjung tinggi idealisme.

Secara pribadi kugambarkan ideologi itu ibarat ekstasi, memabukkan, menagihi, hiperialitas, utophis dan membahayakan. Sedangkan, aku menggambarkan identitas itu seperti alkohol, hanya memabukkan dan sedikit membuat ketagihan. Hal ini tidak diambil dari jurnal karya orang barat, apalagi nama orang timur yang namanya tidak diakui dalam jurnal. Tapi, asumsi ini dari pengalaman pribadi semata.

Sekarang bayangkan jika dunia tanpa narkoba dan ekstasi, yang sudah nonton film Kingsman ke-2 the Golden Circle pasti tahu tentang permasalahan jika dunia tanpa narkoba. Setelah beberapa kali kupikirkan hal itu ternyata akan menyisahkan alkohol yang berstatus legal di beberapa negara. Artinya, hanya tersisa identitas yang tetap memabukkan dan menagihi. Tidak memungkiri tentang hewan yang berpikir untuk menjadi terdepan, terkaya dan ter-bla-bla lainnya. Semua memiliki kesempatan sama, walaupun semua tidak dapat mencapainya.  Setidaknya sudah memiliki kesempatan. Salah anda sendiri tidak bisa menjadi sesuai ekspetasi.

Kembali ke topik mencaci mahasiswa pergerakan. Ibaratkan idealisme (tesis) bertentangan dengan emphirisme (anti-tesis). Sedangkan Immanuel Khant menghadirkan sintesis dari tesis dan anti-tesis dalam permasalahan ini dengan menyebut phenomena (fenomena). Mari kita kaji bersama!
Jika kumenghadirkan beberapa pertanyaan berikut anda mau menjawab apa?
-        
           Masih pantaskah pergerakan tetap eksis?
-        
           Apakah anda pernah merasakah sendiri faedah dari aksi mahasiswa pergerakan yang berorasi     dijalanan?
-      
           Setidaknya pernahkan anda melihat pergerakan mahasiswa peduli dengan sekitar?
-       
            Banyak mana dengan kerusuhan yang mereka buat?
-          
      Apakah kerusuhan tersebuat membuahkan hasil?
-        
          Apakah kerusuhan itu membuat nyaman warga disekitar?
-         
      Apakah hal tersebut mencerminkan mahasiswa?

Tidak usah anda jawab pertanyaan itu daripada membuat anda bingung. Toh, aku gak butuh jawabannya.

Kalau anda seorang anak pergerakan atau seorang demonstran tidak akan kutanyakan sudah berapa kali anda berorasi menuntut pemerkosaan masal hak rakyat. Tapi, sudah berapa kali aksimu menemui hasil?

Selain keburukan yang ditanggung pergerakan-pergerakan klub ada kebaikannya juga. Aku juga sedikit setuju dengan adanya pergerakan yang memiliki perbedaan ideologi. Tidak ada angan sedikitpun agar idelogi itu dijadikan satu. Asalkan terjadi kesetabilan didalamnya. Misalnya dalam ekosistem kampus, pergerakan tetap ada asal tidak ada yang menghegemoni diantaranya. Kalaupun ada dan yang lain hanya diam itu yang sangat kusayangkan.

Seperti yang saat ini terjadi dikampus tempat aku menyenangkan hati orang tua. Ada salah satu pergerakan yang menghegomi pergerakan lain dalam pembagian kursi (jabatan). Sepenuhnya kumeyakini kalau esensi dari bergerak yaitu agar tetap bisa makan. Kalau sudah seperti itu dan masih diam apa gunanya kita bergabung dalam organisasi pergerakan ke-idealisan.

Buat yang belum paham bagaimana film Kingsman the Golden Circle menggambarkan jika dunia tanpa narkoba dan anda belum bisa pergi ke bioskop, kusarankan menunggu beberapa bulan untuk kualitas bluraynya.

NB : Jangan tanya bab lucunya dimana, karena aku sedang tidak ingin membuat anda tertawa.

“Aku berfilsafat tapi kau tak paham. Lantas buat apa?” Ronaboyd.
  
  





0 komentar:

Posting Komentar