Tidak perlu kuceritakan dimana dan kapan kampusku berdiri,
karena sebelumnya telah kucoba memaparkan sepenggal tentang Trunojoyo. Kampus
pinggir sawah yang akrab disapa Universitas Trunojoyo Madura ini bertranformasi
nama yang sebelumnya bernama Universitas Bangkalan. Tujuh fakultas didalamnya
menghadirkan sosok manusia yang beranekaragam. Baik yang berprofesi si Bangsat,
Apatis, sok Idealis, Bedebah, si baik, si empati dan si malaikat yang tidak
tahu dirinya adalah malaikat. Kebetulan aku masuk bagian golongan si bedebah
apatis.
Tidak hanya dikampusku yang bisa dikatakan golongan muda,
lahir setelah peradaban tua congkak yang
mendapat titipan popularitas dari generasi sebelumnya. Baik sekelas Malang atau
Surabaya yang memiliki keunggulan ditempat buang kotorannya. Bagaimana tidak,
peradaban tua congkak yang lahir lebih dulu membuatnya menghegemoni generasi
penerusnya. Mereka memiliki otoriter untuk memilih orang dengan kemampuan
tinggi. Sedangkan bagi mereka yang memiliki kemampuan hanya sebatas mata kaki
dibuang ke kampus kampus yang masih berjuang untuk mendapatkan popularitas,
kampusku misalnya.
Namun, semua itu tidak bisa menjadi tolak ukur sepenuhnya
untuk tetap eksis dijajaran universitas-universitas di Indonesia. Sebagai contoh
SOKET (Studi Otomasi dan Kendali Trunojoyo) Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas
Teknik yang bergerak dibidang robotik mampu mengalahkan ITS (Institut Teknologi
Sepuluh Nopember) Surabaya. Begitupun dengan tim debat dari Fakultas Hukum
Universitas Trunojo Madura yang mampu menghantarkan mahasiswanya mendapat juara
tiga debat konstitusi tingkat Nasional di Makasar. Masih banyak ajang kompetisi
baik tingkat Nasional maupun Internasional yang kampusku mampu menyumbang nama.
Tidak perlu kusebutkan apa saja lombanya. Kekhawatiranku malah membuat kemaluan
dari peradaban tua congkak semakin membesar.
Perlu kuingatkan kalau semua itu dicapai oleh berbagai
golongan buangan yang dikumpulkan menjadi satu tempat, di Universitas Trunojoyo
Madura. Memang, kehadiran berbagai golongan itu bukan karena adanya proyek ekosistem
buatan. Tapi, murni karena adanya kesetabilan. Seperti kata Al-Jaiz pada abad-9
tentang kesetabilan ekosistem (kalau kita analogikan kampus adalah ekosistem).
Dengan adanya keberagaman untuk saling memenusi satu dengan lainnya. Begitupun
dengan kampus yang kusebut sebagai peradaban tua congkak juga demikian. Namun,
semua itu tidak akan terjadi jika terjadi hegemoni didalamnya.
Sebenarnya, ditempat semua sama. Golongan dan ras manja
pasti ada disetiap tempat. Hanya saja kualitas intelektualnya berbeda.
Daripada tidak ada pentingnya membahas setiap individu
setiap kampus, lebih baik membahas aktifis yang ada didalamnya. Seperti judul
yang kupilih yaitu berharap agar para aktifis disegerakan kematiannya.
Sebelumnya, akan lebih kusederhanakan siapa objek kali ini, baik didalam atau
diluar kampus. Banyak organisasi pergerakan dengan cara dan tujuan masih-masing
yang ada didalam kampus dekat sawah Trunojoyo. Misalnya, Lembaga Pers Mahasiswa,
ada tujuh ditingkat fakultas dan satu ditingkat universitas. Bisa dikatakan
kalau lembaga ini bertentangan dengan birokrasi dan lembaga pemerintahan, rival
istilahnya. Menguak segala permasalahan birokrasi
berdasarkan survei lapangan adalah pekerjaan lembaga ini. Selain itu,
menyajikan berbagai isu atau sebatas memberikan kabar seputar kejadian yang ada
di kampus.
Memang, lembaga ini didanai oleh kampus untuk menjalankan
segala kegiatannya. Namun, kurang waras jika ketakutan mengunggkap hal tidak
wajar yang dilakukan lembaga pemerintahan kampus. Apalagi dalih karena didanai
oleh kampus, padahal kalau dipikir lebih jauh uang dari kampus termasuk dari
mereka sendiri yang bagian dari rakyat. Ada lagi yang lebih menjijikan yaitu,
ketika lembaga ini sudah di hegemoni oleh suatu organisasi perpolitikan. Iya,
kalau kode etik jurnalis dapat mereka jalankan sepenuhnya. Kalau aku tidak
yakin, karena sudah banyak media seperti di televisi milik politikus yang
isinya menceritakan kebaikan dari pemiliknya saja.
Percampuran peran untuk kepentingan seperti itulah yang
mengkhawatirkan. Tidak perlu berdalih tentang integritas dapat dipertaruhkan,
tapi lihat saja fenomena yang terjadi. Istilah cover both side dalam jurnalistik tidak akan berlaku, sedangkan
yang berlaku yaitu menyebar kebencian untuk menjatuhkan lawan. Seperti yang
diungkapkan Gubernur Jakarta yang baru, Anies Baswedan. Dia menuturkan 2018
nanti adalah masa-masa panas dalam perpolitikan, ujaran kebencian adalah
senjata yang ampuh untuk menjatuhkan lawan.
Begitupun dengan media dikampusku, kemungkinan besar juga
terjadi dikampus anda masing-masing. Keindependenan untuk tidak memihak
mustahil untuk dilakukan. Sampai sini biarkan aku mengusulkan ide yang lebih
cemerlang, kalau esensi dari kita yang suka dengan birokrasi mengikuti
jurnalisme, lebih baik tetap pada birokrasimu dan membuat media didalamnya.
Seperti, menjadi humas yang dituntut untuk selalu berkata manis. Daripada
berkecimung dalam dua profesi tersebut yang ujungnya ambang-ambang tae dan hina dipandang.
Alasan kongkret mengenai paragraf diatas seperti ini,
“Memangnya mau menceritakan kejelekan golonganmu ke khalayak umum?” Tidak perlu
anda jawab pertanyaan itu.
Setelah sedikit puas mencaci lembaga jurnalis, mari mencaci
lainnya. Misal, tentang mahasiswa pergerakan ke-idealisan. Sejujurnya, aku
tidak pantas kalau mencaci mahasiswa pergerakan, karena aku tidak pernah
berkecimung didalamnya. Aku hanya tau berbagai permasalahan dalam kampus
seperti, demo yang sering terjadi ada dalang dibelakangnya. Misalnya, GMNI
(merah), PMII (kuning) dan HMI (hijau). Sudah tidak asing lagi organisasi itu
ditelinga kita, kebetulan tiga organisasi itu eksistensinya paling mencolok.
Sebelum masuk pencaci-makian, disadari atau tidak bahwa mereka adalah siklus.
Seperti dalam lagu, “Merah kuning hijau dilangit yang biru” (nggak ada yang nyuruh nyanyi). Selain
itu, siklus itu masuk dalam transformasi warna agama, seperti yang dipahami Bob
Marley.
Mereka memiliki ideologi masing-masing, baik merah, kuning
dan hijau. Tolak ukur mereka ada sampai saat ini adalah peristiwa 19 tahun
lalu, saat Indonesia dipimpin oleh seorang diktator, Soeharto. Dengan ideologi
yang kuat mereka dapat menggulingkan orde tersebut. Jejak langkah mereka
memiliki gol masing-masing. Ya, walaupun gol itu kembali ke perut mereka
sendiri.
Sudah 19 tahun lamanya masa itu, dan sampai hari ini perang
dengan landasan ideologi masing berlaku. Sungguh! Kurang up to date pake banget anda. Kalau dulu masih berlaku perang
ideologi, sekarang sudah nggak jaman,
bung. Sekarang jamannya perang identitas. Disadari atau tidak, diakui atau
tidak, idealitas sudah terjual untuk mempertahankan identitas. Kalau mau tidak
repot dan lebih efisien seharusnya perang identitas langsung saja, tidak usah
mengatasnamakan menjunjung tinggi idealisme.
Secara pribadi kugambarkan ideologi itu ibarat ekstasi,
memabukkan, menagihi, hiperialitas, utophis dan membahayakan. Sedangkan, aku
menggambarkan identitas itu seperti alkohol, hanya memabukkan dan sedikit
membuat ketagihan. Hal ini tidak diambil dari jurnal karya orang barat, apalagi
nama orang timur yang namanya tidak diakui dalam jurnal. Tapi, asumsi ini dari
pengalaman pribadi semata.
Sekarang bayangkan jika dunia tanpa narkoba dan ekstasi,
yang sudah nonton film Kingsman ke-2 the Golden Circle pasti tahu tentang
permasalahan jika dunia tanpa narkoba. Setelah beberapa kali kupikirkan hal itu
ternyata akan menyisahkan alkohol yang berstatus legal di beberapa negara. Artinya,
hanya tersisa identitas yang tetap memabukkan dan menagihi. Tidak memungkiri
tentang hewan yang berpikir untuk menjadi terdepan, terkaya dan ter-bla-bla
lainnya. Semua memiliki kesempatan sama, walaupun semua tidak dapat
mencapainya. Setidaknya sudah memiliki
kesempatan. Salah anda sendiri tidak bisa menjadi sesuai ekspetasi.
Kembali ke topik mencaci mahasiswa pergerakan. Ibaratkan
idealisme (tesis) bertentangan dengan emphirisme (anti-tesis). Sedangkan
Immanuel Khant menghadirkan sintesis dari tesis dan anti-tesis dalam
permasalahan ini dengan menyebut phenomena
(fenomena). Mari kita kaji bersama!
Jika kumenghadirkan beberapa pertanyaan berikut anda mau
menjawab apa?
-
Masih pantaskah pergerakan tetap eksis?
-
Apakah anda pernah merasakah sendiri faedah dari
aksi mahasiswa pergerakan yang berorasi dijalanan?
-
Setidaknya pernahkan anda melihat pergerakan
mahasiswa peduli dengan sekitar?
-
Banyak mana dengan kerusuhan yang mereka buat?
-
Apakah kerusuhan tersebuat membuahkan hasil?
-
Apakah kerusuhan itu membuat nyaman warga
disekitar?
-
Apakah hal tersebut mencerminkan mahasiswa?
Tidak usah anda jawab pertanyaan itu daripada membuat anda
bingung. Toh, aku gak butuh
jawabannya.
Kalau anda seorang anak pergerakan atau seorang demonstran
tidak akan kutanyakan sudah berapa kali anda berorasi menuntut pemerkosaan
masal hak rakyat. Tapi, sudah berapa kali aksimu menemui hasil?
Selain keburukan yang ditanggung pergerakan-pergerakan klub
ada kebaikannya juga. Aku juga sedikit setuju dengan adanya pergerakan yang
memiliki perbedaan ideologi. Tidak ada angan sedikitpun agar idelogi itu
dijadikan satu. Asalkan terjadi kesetabilan didalamnya. Misalnya dalam
ekosistem kampus, pergerakan tetap ada asal tidak ada yang menghegemoni
diantaranya. Kalaupun ada dan yang lain hanya diam itu yang sangat kusayangkan.
Seperti yang saat ini terjadi dikampus tempat aku
menyenangkan hati orang tua. Ada salah satu pergerakan yang menghegomi
pergerakan lain dalam pembagian kursi (jabatan). Sepenuhnya kumeyakini kalau
esensi dari bergerak yaitu agar tetap bisa makan. Kalau sudah seperti itu dan
masih diam apa gunanya kita bergabung dalam organisasi pergerakan ke-idealisan.
Buat yang belum paham bagaimana film Kingsman the Golden
Circle menggambarkan jika dunia tanpa narkoba dan anda belum bisa pergi ke
bioskop, kusarankan menunggu beberapa bulan untuk kualitas bluraynya.
NB : Jangan tanya bab lucunya dimana, karena aku sedang
tidak ingin membuat anda tertawa.
“Aku berfilsafat tapi
kau tak paham. Lantas buat apa?” Ronaboyd.

0 komentar:
Posting Komentar