Senin, 29 Januari 2018

Kopi Literasi dan Investasi


 Tanpa disadari literasi, pengkikisan budaya dan pergaulan bebas telah menjadi wajar dikalangan pemuda. Sangat minim menemukan pemuda saat ini yang menambah wawasan baik dari litaratur atupun buku bacaan. Seolah, budaya ngopi bersama teman sampai larut pagi lebih berharga ketimbang harus membaca buku. Walaupun hanya satu jam.

Walau dari segi ilmiah ngopi bukanlah budaya tapi, sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kata Max Weber, ahli sosiologi hukum, dia berkata bahwa kebiasaan yang terus diulang dan diteruskan pada masa yang akan datang bisa menjadi budaya. Ya, tua ataupun muda semua menyukai ngopi. Namun, sampai saat inihal itu belum bisa dijadikan pembenaran untuk menjadi budaya.

Mari lihat empirisnya. Setidaknya, ada 3 jenis tempatnongkrong guna menikmati berbagai jenis kopi yaitu, warung biasa (biasanya di desa, warung kopi biasa), warung giras (ada tambahan wifi), dan cafe. Nah, mungkin warung di desa saja yang masih mending. Dalam artian konsumen di warung itu tidak menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk mainan gadget. Lain soal dengan warung giras yang memiliki fasilitas koneksi internet. Biasanya, konsumen di situ lebih banyak pemuda bermain sosialita dan game analognya. Cafe pun jarang ada yang mau memberikan konsep literasi. Alhasil ngopi hanya sebatas bunuh diri sosial. Tidak percaya?

Mari kita kaji bersama. Semisal, waktu anda 4 jam untuk nongkrong. Saya yakin 85% waktu anda habis untuk bermain sosial media dan smartphone. Alhasil, interaksi sosial dengan manusia lain sangat minim. Sehingga hal itu berimbas menciptakan jiwa-jiwa manusia yang apatis. Tidak peduli lingkungan dan mementingkan diri sendiri.

Padahal, mau atau tidak Soekarno telah berkata, ”Berikan aku sepuluh pemuda. Maka akan kugoncangkan dunia.” Namun,  pemuda era ini kurang dapat diandalkan kalau masih kolot dengan ketergantungan terhadap gadgetnya. Kemajuan bangsapun akan tertunda beberada dekade kedepan kalau terus seperti ini.

Peristiwa seperti bisa anda temui dimanapun dan kapanpun. Seperti halnya di kota kelahiran saya, Tuban. Kota kecil yang diampit laut Jawa, Lamongan, Bojonegoro dan Rembang ini sering digadang sebagai bumi wali. Karena perjalanan spiritual Maulana Malik Ibrahim (Asmara Qondi) dan Sunan Bonang membuat Tuban menjadi nama kota tujuan dalam jadwal perjalanan ziarah wali.

Tidak sampai situ. Kota dengan peradaban cukup lama ini memiliki keistimewaan sendiri. Pemudanya seistimewa kota berhati nyaman, Yogyakarta. Namun, ini Tuban, bukan kota lain. Pemuda kreatif dan kreator pada bidangnya masing-masing turut mewarnai kota dengan semboyan bumi wali ini. Namun, semua tidak sesempurna itu. Kenakalan remaja pada hal-hal negative juga ikut andil dalam perannya. Saking akutnya sampai ada institusi yang mengadakan seminar-seminar untuk menanggulangi kenakalan remaja.

Anehnya, semua orang saya ceritakan di Tuban pada suka ngopi. Anda yang sedang membaca tulisan ini pun suka dan ingin segera meminum kopi. Jujur saja.

Lihat saja bagaimana berserakannya tempat tongkrongan di Tuban. Cafe dengan berbagai macam konsep modern, kekinian dan instagramable semua ada di Tuban. Tapi, hanya segelintir yang memiliki konsep pemuda, literasi dan budaya wacana. Mungkin, owner-owner yang memiliki Cafe lebih berharap pengunjung yang banyak dan meraup untung sebesar-besarnya.

Lalu bagaimana menambah kualitas diri dari warung kopi agar berperan dalam kemajuan bangsa?
Lain hal, lain cerita dengan cafe yang kebetulan saya singgahi beberapa waktu lalu. Waktu itu saya senang (walaupun menjomblo) karena saya bisa menikmati kopi ala-ala barista dengan nuansa modernitas dan ada plusnya yaitu, mendapat ilmu gratis dari salah satu kampus Tuban saat mengadakan semacam workshop. Saat itu tema yang dibawakan adalah penanggulangan kenakalan remaja dan Napza. Memang, awal saya tidak habis pikir akan ada tempat tongkrongan yang recomended banget.

Dikarenakan penasaran. Lain hari saya mencoba menghubungi ownernya untuk sekedar berbincang-bincang. Setelah jam ditentukan akhirnya saya bisa ketemu langsung dengan pemiliknya. Pembicaraan kami cukup panjang karena awal saya kira hanya kopi dan literasi. Ternyata, pembicaraan kami sampai duta cafe yang akan mengekspos Tuban dari berbagai lini. Seperti: pariwisata, kuliner dan wisata. Juga; pemilik memaparkan bahwa yang turut andil dalam cafenya semua adalah pemuda yang dirangkulnya. Konsep pemuda 2018 yang digadang olehnya seolah menjawab keluh kesah saya.

Sudah? Belum. Progres masih sangat banyak. Hanya dengan duduk tenang sambil menikmati menu yang tersedia anda akan mendapatkan setidaknya, ilmu baru, karena cafe ini akan selalu aktif mengundang tokoh yang dapat dijadikan menjadi pemateri. Tidak lupa ajang kreatifitas musik band lokal akan ikut meramaikan juga.

Lalu, yang tidak saya bayangkan ketika pemilik memaparkan bahwa hanya dengan ngopi ditempatnya anda akan berinvestasi. Profit masuk ke anda dengan rules and step nya sendiri-sendiri. Dapat dipastikan pasti profit.

Terjawab sudah semua pertanyaan saya. Saya tidak perlu meluangkan waktu lebih untuk ngopi dan menambah literasi. Cukup satu tempat saya bisa mendapatkan keduanya. Memang, semua cafe bisa. Hanya saja keputusan ditangan anda untuk mendapatkan yang lebih banyak. Tidak sebatas kopi, tenang dan ilmu. Melainkan ivestasi juga.

Saya yakin anda pasti penasaran dimana tempat tongkrongannya. Ya, memang sedari tadi saya belum memberi tahu namanya. Oke, biar saya kasih gambaran. Kalau anda tahu patung kebanggaana kota Tuban sebelah selatan Gedung Olahraga (GOR) anda cukup lurus ke barat. Sekitar 500 meter sebelah kiri jalan nanti anda akan menenui sebuah cafe dengan penerangan yang kece, nuansa outdor dengan dua laintai dan tak lupa kekinian nan modernitas. Pastinya, instagamable, dong. Namanya, ID cafe Tuban. Selamat mencoba dan buktikan sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar