Walau dari segi ilmiah ngopi
bukanlah budaya tapi, sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti kata Max Weber, ahli sosiologi hukum, dia berkata bahwa kebiasaan yang
terus diulang dan diteruskan pada masa yang akan datang bisa menjadi budaya.
Ya, tua ataupun muda semua menyukai ngopi.
Namun, sampai saat inihal itu belum bisa dijadikan pembenaran untuk menjadi
budaya.
Mari lihat empirisnya. Setidaknya, ada 3 jenis
tempatnongkrong guna menikmati berbagai jenis kopi yaitu, warung biasa
(biasanya di desa, warung kopi biasa), warung giras (ada tambahan wifi), dan
cafe. Nah, mungkin warung di desa saja yang masih mending. Dalam artian
konsumen di warung itu tidak menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk mainan gadget. Lain soal dengan warung giras
yang memiliki fasilitas koneksi internet. Biasanya, konsumen di situ lebih
banyak pemuda bermain sosialita dan game analognya. Cafe pun jarang ada yang
mau memberikan konsep literasi. Alhasil ngopi
hanya sebatas bunuh diri sosial. Tidak percaya?
Mari kita kaji bersama. Semisal, waktu anda 4 jam untuk
nongkrong. Saya yakin 85% waktu anda habis untuk bermain sosial media dan smartphone. Alhasil, interaksi sosial
dengan manusia lain sangat minim. Sehingga hal itu berimbas menciptakan
jiwa-jiwa manusia yang apatis. Tidak peduli lingkungan dan mementingkan diri
sendiri.
Padahal, mau atau tidak Soekarno telah berkata, ”Berikan aku
sepuluh pemuda. Maka akan kugoncangkan dunia.” Namun, pemuda era ini kurang dapat diandalkan kalau
masih kolot dengan ketergantungan terhadap gadgetnya.
Kemajuan bangsapun akan tertunda beberada dekade kedepan kalau terus seperti
ini.
Peristiwa seperti bisa anda temui dimanapun dan kapanpun.
Seperti halnya di kota kelahiran saya, Tuban. Kota kecil yang diampit laut
Jawa, Lamongan, Bojonegoro dan Rembang ini sering digadang sebagai bumi wali.
Karena perjalanan spiritual Maulana Malik Ibrahim (Asmara Qondi) dan Sunan
Bonang membuat Tuban menjadi nama kota tujuan dalam jadwal perjalanan ziarah
wali.
Tidak sampai situ. Kota dengan peradaban cukup lama ini
memiliki keistimewaan sendiri. Pemudanya seistimewa kota berhati nyaman,
Yogyakarta. Namun, ini Tuban, bukan kota lain. Pemuda kreatif dan kreator pada
bidangnya masing-masing turut mewarnai kota dengan semboyan bumi wali ini.
Namun, semua tidak sesempurna itu. Kenakalan remaja pada hal-hal negative juga
ikut andil dalam perannya. Saking akutnya sampai ada institusi yang mengadakan
seminar-seminar untuk menanggulangi kenakalan remaja.
Anehnya, semua orang saya ceritakan di Tuban pada suka ngopi. Anda yang sedang membaca tulisan
ini pun suka dan ingin segera meminum kopi. Jujur saja.
Lihat saja bagaimana berserakannya tempat tongkrongan di
Tuban. Cafe dengan berbagai macam konsep modern, kekinian dan instagramable semua ada di Tuban. Tapi,
hanya segelintir yang memiliki konsep pemuda, literasi dan budaya wacana.
Mungkin, owner-owner yang memiliki Cafe lebih berharap pengunjung yang banyak dan
meraup untung sebesar-besarnya.
Lalu bagaimana menambah kualitas diri dari warung kopi agar
berperan dalam kemajuan bangsa?
Lain hal, lain cerita dengan cafe yang kebetulan saya
singgahi beberapa waktu lalu. Waktu itu saya senang (walaupun menjomblo) karena
saya bisa menikmati kopi ala-ala barista dengan nuansa modernitas dan ada
plusnya yaitu, mendapat ilmu gratis dari salah satu kampus Tuban saat
mengadakan semacam workshop. Saat itu tema yang dibawakan adalah penanggulangan
kenakalan remaja dan Napza. Memang, awal saya tidak habis pikir akan ada tempat
tongkrongan yang recomended banget.
Dikarenakan penasaran. Lain hari saya mencoba menghubungi
ownernya untuk sekedar berbincang-bincang. Setelah jam ditentukan akhirnya saya
bisa ketemu langsung dengan pemiliknya. Pembicaraan kami cukup panjang karena
awal saya kira hanya kopi dan literasi. Ternyata, pembicaraan kami sampai duta
cafe yang akan mengekspos Tuban dari berbagai lini. Seperti: pariwisata,
kuliner dan wisata. Juga; pemilik memaparkan bahwa yang turut andil dalam
cafenya semua adalah pemuda yang dirangkulnya. Konsep pemuda 2018 yang digadang
olehnya seolah menjawab keluh kesah saya.
Sudah? Belum. Progres masih sangat banyak. Hanya dengan
duduk tenang sambil menikmati menu yang tersedia anda akan mendapatkan
setidaknya, ilmu baru, karena cafe ini akan selalu aktif mengundang tokoh yang
dapat dijadikan menjadi pemateri. Tidak lupa ajang kreatifitas musik band lokal
akan ikut meramaikan juga.
Lalu, yang tidak saya bayangkan ketika pemilik memaparkan
bahwa hanya dengan ngopi ditempatnya
anda akan berinvestasi. Profit masuk ke anda dengan rules and step nya sendiri-sendiri. Dapat dipastikan pasti profit.
Terjawab sudah semua pertanyaan saya. Saya tidak perlu
meluangkan waktu lebih untuk ngopi dan
menambah literasi. Cukup satu tempat saya bisa mendapatkan keduanya. Memang,
semua cafe bisa. Hanya saja keputusan ditangan anda untuk mendapatkan yang
lebih banyak. Tidak sebatas kopi, tenang dan ilmu. Melainkan ivestasi juga.
Saya yakin anda pasti penasaran dimana tempat
tongkrongannya. Ya, memang sedari tadi saya belum memberi tahu namanya. Oke,
biar saya kasih gambaran. Kalau anda tahu patung kebanggaana kota Tuban sebelah
selatan Gedung Olahraga (GOR) anda cukup lurus ke barat. Sekitar 500 meter
sebelah kiri jalan nanti anda akan menenui sebuah cafe dengan penerangan yang
kece, nuansa outdor dengan dua laintai dan tak lupa kekinian nan modernitas.
Pastinya, instagamable, dong.
Namanya, ID cafe Tuban. Selamat mencoba dan buktikan sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar