Sektor pariwasata dan keapikan sumber daya alam dalam daerah tidak
bisa dibiarkan berjalan begitu saja. Hal ini justru harus mendapatkan perhatian
lebih karena, mau atau tidak, dua hal mendasar tersebut sering digunakan
sebagai senjata kesejahteraan rakyat. Kemungkinan atau peluang sangat besar
jika pemerintah setempat memanfaatkan hak kelola daerah (otonomi) untuk
mensejahterakan warga sekitar. Seperti: kekayaan alam yang apik dan berpotensi
dijadikan tempat wisata. Juga; tidak menutup kemungkinan dalam daerah sudah ada
ekosistem alami yang berpotensi menarik wisatawan. Tinggal seperti apa saja
penggelolaannya.
Coba kita lihat kabupaten Banyuwangi, kota dengan julukan The Sunrise of Java ini meraih
penghargaan terbaik pada ajang United
Nations World Tourism Organization (UNWTO) Awards ke-12 yang berlangsung di
Madrid, Spanyol. Penghargaan dan pengakuan tingkat internasioal ini bukan
mainan. Namun, sinergitas pemerintah kabupaten Banyuwangi sangat baik. Bahkan,
bupati Banyuwangi dan jajaran stafnya seolah menjadi sales untuk daerahnya.
Ya, memang seperti itu. Pernah suatu ketika Abdullah Azwar Anas datang ke
Universitas Trunojoyo Madura untuk memberikan materi seminar dan sekaligus
sebagai ajang promosi daerahnya. Tidak hanya dari birokrasi yang turut andil. Namun,
khalayak umum turut serta menyibukkan diri mengembangkan daerahnya. Seperti
setelah mendapat penghargaan di Thailand dia berkata, ” Terima kasih untuk masyarakat, terutama
komunitas-komunitas yang mengelola destinasi, karena mereka-lah lakon utama dalam
mewujudkan destinasi yang nyaman dan bersih,” tutur Anas.
Bisa daerah sebelah Banyuwangi,
Bali. Ketenaran pulau ini dalam pariwisata tidak dapat diragukan. Keapikan alam
yang terbentuk membuat segala penjuru geografisnya bisa dijadikan tempat
wisata. Aneka ragam macam pantai yang memukau mata membuat turis asing
berdatangan. Bahkan, ada yang rela sampai tahunan mendiami Bali dan sekitarnya.
Selain itu kekayaan adat setempat dan budaya sekitar memberikan edukasi
tersendiri bagi turis yang singgah di Bali.
Lain halnya dengan kota kelahiran
saya, Tuban. Kabupaten dengan dua puluh kecamatan dan sekitar 1,2 juta jiwa ini
dalam sektor pariwasata masih memprihatinkan. Padahal secara geografis kota
ini bisa dikatakan sangat strategis yakni, perbatasan Jawa Timur dengan Jawa
Tengah dialui jalan nasional Dendels. Selain itu, kota dengan luas 183.994.561 Ha ini memuat aspek darat dan laut yang sangat
mewadahi. Namun, mau diakui atau tidak, kalau Tuban masih menduduki peringkat 5
kabupaten termiskin di Jawa Timur.
Tepatnya, dalam beberapa surat
kabar tahun 2017 memberitakan kalau Tuban masih menduduki lima besar kabupaten
termiskin dari 38 kabupaten di Jawa Timur.
Lalu, apa yang salah dan musti
ditinjau ulang? Padahal kota yang menjunjung toleransi cukup tinggi ini memiliki
potensi besar jika dimanfaatkan dengan baik. Namun, toleransi itu adalah
sebuah nilai. Lain lagi dengan urusan materialistik itu perlu dikembangkan
untuk mensejahterakan warganya. Secara otomatis jika tiap invidu atau sebuah
kelompok mendapat perhatian, maka tidak menutup kemungkinan angka kemiskinan
akan turun dan peringkat kabupaten termiskin bisa lepas dari jeratan kota
Tuban.
Saya kira, setelah 20 tahun resmi
menjadi warga Tuban, walaupun sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada di luar
kota Tuban. Tetapi, saya belum menemukan identitas mutlak kota Tuban (positif).
Seperti ini maksudnya, jika ada yang menyebutkan kota Tuban maka akan terlintas
satu bayangan pasti identitas Tuban. Mungkin, anda tahu selain Toak? Ya, kita
semua tahu tentang Toak namun, hal itu tidak dapat dijadikan branding kota Tuban, saya kira.
Syahdan, karena penasaran yang
lumayan saya coba amati visi dan misi kota Tuban. Pandangan secara subjektif
saya kira sudah bagus, dan memang poin-poin yang tercantum didalamnya dibutuhkan
warga Tuban. Hanya saja, saya tidak menemukan langkah-langkah untuk mewujudkan
esensi dari visi misi. Jadi, seperti ini, ibarat visi dan misi adalah kebutuhan
primer tapi, kita tidak boleh melupakan kebutuhan sekunder. Juga: ibaratkan
visi-misi merupakan esensi, maka kita juga perlu eksistensi untuk mewujudkan
esensinya. Ibarat seperti ini, harus ada langkah untuk membungkus nilai-nilai
kota Tuban.
Memang, kita tidak bisa meniru
Bojonegoro dengan kilang minyaknya. Ataupun Lamongan dengan perdagangannya.
Namun, ini Tuban. Kita bisa membuat branding
sendiri untuk menjadi identitas kota.
Kembali pada visi-misi. Saya
menemukan lembar pdf yang berisi spesifikasi untuk pewujudan visi Tuban. Ada
satu kata yang saya garis bawahi yaitu, stakeholders.
Dalam lembaran tersebut berupaya mewujudkannya dengan adanya sinergitas
antara pemerintahan dan non pemerintahan. Sekarang gini, sinergitasnya seperti
apa? Tidak perlu jauh-jauh dulu. Biar saya tegaskan, hanya segelintir orang
saja yang mengerti tentang Tuban. Ya, istilahnya sangat minim edukasi tentang
kota Tuban. Jangankan bagaimana Tuban pada kilas kerajaan Mataram ataupun
bagaimana saja tindak laku Ronggolawe, hanya sebatas nama saja masih
gonjang-ganjing. Artinya, masih ada keraguan secara mayoritas untuk menjawab
berasal atau adopsi darimana nama kota Tuban.
Sedikit kritikan ini tidak sebatas
kritik saja. Melainkan saya kira bisa memberikan masukan untuk Tuban. Ya,
walaupun sampai sekarang saya masih belajar diluar kota Tuban. Tapi, setidaknya
perkembangan kota Tuban saya ikuti.
Jadi, seperti ini. Saya menawarkan
opsi dalam aspek pariwisata. Hemat saya dalam aspek ini dapat membungkus visi
dan misi kota Tuban. Sekiranya anda mau melanjutkan membaca pemaparan dari opsi
saya.
Pertama, Tuban sudah memiliki
pariwisata mutlak yaitu, wisata religi. Namun, apakah wisata ziarah wali dapat dijadikan
pluralisme kota Tuban? Tidak. Keaneragaman agama yang melahirkan toleransi
tidak sebatas itu saja. Legalitas dari hukum pun berbiacara masalah
multikulturasi bangsa. Ya, sangat disayangkan kalau dulu patung di Klenteng
Kwan Sing Bio Tuban menemui skandal. Padahal, jika berpikir jernih. Objek itu
bisa menjadi aset seperti makam Sunan Bonang. Coba lihat, pedagang sekitar akan
sejahtera dengan banyaknya pendatang yang berwisata. Lagi, pedangang Bakso,
Soto dan oleh-oleh khas Tuban di kawasan pantura akan laris dagangannya jika
banyak wisatawan.
Kedua, kita tidak boleh mengabaikan
siklus wisatawan. Wisatawan dan pemborong oleh-oleh khas Tuban itu dari luar
kota. Begitupun dengan daerah lainnya. Nah, jika aset penarik wisatawan sudah
tidak diperhatikan maka siapa yang mau membeli oleh-oleh dari Tuban? Saya pun
demikian, jarang bahkan hampir tidak pernah membeli sesuatu di toko oleh-oleh
khas Tuban untuk dibawa ke rumah.
Ketiga, kurangnya perhatian
terhadap kekayaan alam membuat Tuban jarang tersorot dan kurang menarik untuk
dijadikan rujukan wisatawan. Mungkin, kurangnya promosi yang dilakukan. Coba
kita lihat upaya mempercantik pantai cemara kota Tuban. Penambahan ayunan
sampai pantai Mangrove itu memerlukan banyak biaya. Namun, apakah wisatawan
melonjak? Tidak. Selayang pandang pengamatan saya wisatawan lebih memilih pasir
putir Remen untuk bersinggah. Lalu, bagaimana nasib para pedagang di daerah
pantai cemara? Padahal kabupaten sebelah pantainya tak sebagus dan seapik
Tuban. Bahkan kabupaten sebelah ada yang tidak memiliki pantai sama sekali.
Keempat, kurangnya sinergitas
birokrasi dan masyarakat membuat lambannya kemajuan Tuban. Padahal, saya kira,
banyak warga yang memiliki kreatifitas tinggi. Apalagi pemudanya. Banyak pemuda
dengan bakatnya masing-masing. Saya kira perbandingan secara kualitas dengan
daerah lain Tuban masih unggul. Bahkan, pemuda luar kota Tuban pun mengakui
jika orang Tuban itu keren-keren. Nah, saya kira ini bisa menjadi nilai jual
tersendiri untuk manjadi sales-sales kabupaten. Bahasa halusnya menjadi duta
kota Tuban. Seperti: duta pariwisata yang meliputi, kuliner dan budaya.
Bukankah seperti mampu menimbulkan sinergitas mutualisme dalam pemerintahan
kota? Saya kira, iya.
Tidak memungkiri juga jika Tuban
dinaungi banyak komunitas. Baik dari kalagan pemuda ataupun orang tua. Namun,
kurangnya pemanfaatan pemerintah untuk menjadikan mereka sebagai publik figur
ataupun sales kota Tuban sangat saya sayangkan. Coba kalau dimanfaatkan, saat
mereka berkunjung ataupun ada yang berkunjung ke Tuban maka komunitas-komunitas
tersebut memberikan wawasan tentang Tuban. Tidak menutup kemungkinan mereka
yang mendapat edukasi menyebarkan ke teman-temannya.
Kelima, peran media sosial juga
sangat penting. Beberapa hari yang lalu saya menemui pemilik akun instagram
tentang kota Tuban. Bagi pengguna instagam pastinya tahu dengan banyaknya akun
tersebut. Namun, masih saya dengar keluhan jika kurang adanya esensi bagi
pemilik akun akun tersebut. Bahkan, saya mendapat bisikan jika ada yang sebatas
buat mainan saja. Juga; ada salahsatu akun yang sebenarnya siap untuk
mengenalkan kota Tuban melalui akun media sosialnya. Namun, keluhnya
keterbatasan dana menjadi faktor utama untuk mengexplore kota Tuban yang
kemudian menyajikannya melalui edukasi. Memang, saya kira juga demikian. Banyak
akun media sosial tentang Tuban hanya berisi anak-anak numpang tenar tanpa
memiliki tujuan yang jelas.
Lain hal dengan media sosial
Facebook, di laman-laman kota Tuban sering saya jumpai ada yang memposting
berisi keluhan dan upaya memperkenalkan objek wisata di daerahnya. Seperti,
baru baru ini ada pemuda yang memposting fotonya di pantai Sowan. Apakah mau
didiamkan saja jika usulan masih realitas?
Memang, media sosial tidak bisa
kita remehkan. Propaganda perpolitkan saja banyak menggunakan media sosial.
Saya yakin kemajuan kabupaten bisa terwujud jika memanfaatkannya dengan baik.
Sebenarnya masih sangat banyak yang
dapat dimanfaatkan. Seperti kaum-kaum intelektual (mahasiswa) baik didalam atau
diluar Tuban bisa diajak kerja sama. Paksa mahasiswa di daerah Tuban untuk
memikirkan kota Tuban. Daya kritis yang mereka bisa digunakan untuk menumbuhkan
analisis sosial. Sehingga, mereka dapat menemukan cara untuk mengatasi
permasalahan yang ada. Bisa juga mereka diberikan tugas untuk memberikan
edukasi kepada masyarakat luas. Sedangkan mahasiswa di luar Tuban ibaratkan
kedutaan yang ditempatkan di daerah masing-masing mereka kuliah.
Terakhir, kita tidak bisa melupakan
kebiasaan orang Tuban yang suka ngopi.
Ya, semua orang suka ngopi, lalu
bagaimana dengan minum kopi bisa ikut serta dalam progres ini? Mungkin, bisa di
tulisan saya sebelumnya.
Sekarang bayangkan, semua ornamen
turut serta dalam memajukan kabupatennya. Saya yakin, jika ada yang diberi
tanggungjawab dan rasanya tanggungjawab itu dilakukan serentak, maka hal itu
akan dilakukan dengan baik. Jika semua orang sudah menganal kotanya, merasa
memilikinya, maka kemajuan dan kesejahteraan bukanlah hal yang rumit.
Pemerintahpun tinggal melihat, menemukan celah dan melakukan evaluasi terhadap
kinerja yang bersinergitas.
Lalu, masih adakah kata 'Tapi' untuk kemajuan daerahnya sendiri?
0 komentar:
Posting Komentar