Sabtu, 03 Februari 2018

Sinergitas dalam Aspek Pariwisata untuk Kesejahteraan Kota

Sektor pariwasata dan keapikan sumber daya alam dalam daerah tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja. Hal ini justru harus mendapatkan perhatian lebih karena, mau atau tidak, dua hal mendasar tersebut sering digunakan sebagai senjata kesejahteraan rakyat. Kemungkinan atau peluang sangat besar jika pemerintah setempat memanfaatkan hak kelola daerah (otonomi) untuk mensejahterakan warga sekitar. Seperti: kekayaan alam yang apik dan berpotensi dijadikan tempat wisata. Juga; tidak menutup kemungkinan dalam daerah sudah ada ekosistem alami yang berpotensi menarik wisatawan. Tinggal seperti apa saja penggelolaannya.

Coba kita lihat kabupaten Banyuwangi, kota dengan julukan The Sunrise of Java ini meraih penghargaan terbaik pada ajang United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Awards ke-12 yang berlangsung di Madrid, Spanyol. Penghargaan dan pengakuan tingkat internasioal ini bukan mainan. Namun, sinergitas pemerintah kabupaten Banyuwangi sangat baik. Bahkan, bupati Banyuwangi dan jajaran stafnya seolah menjadi sales untuk daerahnya. Ya, memang seperti itu. Pernah suatu ketika Abdullah Azwar Anas datang ke Universitas Trunojoyo Madura untuk memberikan materi seminar dan sekaligus sebagai ajang promosi daerahnya. Tidak hanya dari birokrasi yang turut andil. Namun, khalayak umum turut serta menyibukkan diri mengembangkan daerahnya. Seperti setelah mendapat penghargaan di Thailand dia berkata, ” Terima kasih untuk masyarakat, terutama komunitas-komunitas yang mengelola destinasi, karena mereka-lah lakon utama dalam mewujudkan destinasi yang nyaman dan bersih,” tutur Anas.

Bisa daerah sebelah Banyuwangi, Bali. Ketenaran pulau ini dalam pariwisata tidak dapat diragukan. Keapikan alam yang terbentuk membuat segala penjuru geografisnya bisa dijadikan tempat wisata. Aneka ragam macam pantai yang memukau mata membuat turis asing berdatangan. Bahkan, ada yang rela sampai tahunan mendiami Bali dan sekitarnya. Selain itu kekayaan adat setempat dan budaya sekitar memberikan edukasi tersendiri bagi turis yang singgah di Bali.

Lain halnya dengan kota kelahiran saya, Tuban. Kabupaten dengan dua puluh kecamatan dan sekitar 1,2 juta jiwa ini dalam sektor pariwasata masih memprihatinkan. Padahal secara geografis kota ini bisa dikatakan sangat strategis yakni, perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah dialui jalan nasional Dendels. Selain itu, kota dengan luas 183.994.561 Ha ini memuat aspek darat dan laut yang sangat mewadahi. Namun, mau diakui atau tidak, kalau Tuban masih menduduki peringkat 5 kabupaten termiskin di Jawa Timur.

Tepatnya, dalam beberapa surat kabar tahun 2017 memberitakan kalau Tuban masih menduduki lima besar kabupaten termiskin dari 38 kabupaten di Jawa Timur.

Lalu, apa yang salah dan musti ditinjau ulang? Padahal kota yang menjunjung toleransi cukup tinggi ini memiliki potensi  besar jika dimanfaatkan dengan baik. Namun, toleransi itu adalah sebuah nilai. Lain lagi dengan urusan materialistik itu perlu dikembangkan untuk mensejahterakan warganya. Secara otomatis jika tiap invidu atau sebuah kelompok mendapat perhatian, maka tidak menutup kemungkinan angka kemiskinan akan turun dan peringkat kabupaten termiskin bisa lepas dari jeratan kota Tuban.

Saya kira, setelah 20 tahun resmi menjadi warga Tuban, walaupun sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada di luar kota Tuban. Tetapi, saya belum menemukan identitas mutlak kota Tuban (positif). Seperti ini maksudnya, jika ada yang menyebutkan kota Tuban maka akan terlintas satu bayangan pasti identitas Tuban. Mungkin, anda tahu selain Toak? Ya, kita semua tahu tentang Toak namun, hal itu tidak dapat dijadikan branding kota Tuban, saya kira.

Syahdan, karena penasaran yang lumayan saya coba amati visi dan misi kota Tuban. Pandangan secara subjektif saya kira sudah bagus, dan memang poin-poin yang tercantum didalamnya dibutuhkan warga Tuban. Hanya saja, saya tidak menemukan langkah-langkah untuk mewujudkan esensi dari visi misi. Jadi, seperti ini, ibarat visi dan misi adalah kebutuhan primer tapi, kita tidak boleh melupakan kebutuhan sekunder. Juga: ibaratkan visi-misi merupakan esensi, maka kita juga perlu eksistensi untuk mewujudkan esensinya. Ibarat seperti ini, harus ada langkah untuk membungkus nilai-nilai kota Tuban.

Memang, kita tidak bisa meniru Bojonegoro dengan kilang minyaknya. Ataupun Lamongan dengan perdagangannya. Namun, ini Tuban. Kita bisa membuat branding sendiri untuk menjadi identitas kota.

Kembali pada visi-misi. Saya menemukan lembar pdf yang berisi spesifikasi untuk pewujudan visi Tuban. Ada satu kata yang saya garis bawahi yaitu, stakeholders. Dalam lembaran tersebut berupaya mewujudkannya dengan adanya sinergitas antara pemerintahan dan non pemerintahan. Sekarang gini, sinergitasnya seperti apa? Tidak perlu jauh-jauh dulu. Biar saya tegaskan, hanya segelintir orang saja yang mengerti tentang Tuban. Ya, istilahnya sangat minim edukasi tentang kota Tuban. Jangankan bagaimana Tuban pada kilas kerajaan Mataram ataupun bagaimana saja tindak laku Ronggolawe, hanya sebatas nama saja masih gonjang-ganjing. Artinya, masih ada keraguan secara mayoritas untuk menjawab berasal atau adopsi darimana nama kota Tuban.

Sedikit kritikan ini tidak sebatas kritik saja. Melainkan saya kira bisa memberikan masukan untuk Tuban. Ya, walaupun sampai sekarang saya masih belajar diluar kota Tuban. Tapi, setidaknya perkembangan kota Tuban  saya ikuti.

Jadi, seperti ini. Saya menawarkan opsi dalam aspek pariwisata. Hemat saya dalam aspek ini dapat membungkus visi dan misi kota Tuban. Sekiranya anda mau melanjutkan membaca pemaparan dari opsi saya.

Pertama, Tuban sudah memiliki pariwisata mutlak yaitu, wisata religi. Namun, apakah wisata ziarah wali dapat dijadikan pluralisme kota Tuban? Tidak. Keaneragaman agama yang melahirkan toleransi tidak sebatas itu saja. Legalitas dari hukum pun berbiacara masalah multikulturasi bangsa. Ya, sangat disayangkan kalau dulu patung di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban menemui skandal. Padahal, jika berpikir jernih. Objek itu bisa menjadi aset seperti makam Sunan Bonang. Coba lihat, pedagang sekitar akan sejahtera dengan banyaknya pendatang yang berwisata. Lagi, pedangang Bakso, Soto dan oleh-oleh khas Tuban di kawasan pantura akan laris dagangannya jika banyak wisatawan.

Kedua, kita tidak boleh mengabaikan siklus wisatawan. Wisatawan dan pemborong oleh-oleh khas Tuban itu dari luar kota. Begitupun dengan daerah lainnya. Nah, jika aset penarik wisatawan sudah tidak diperhatikan maka siapa yang mau membeli oleh-oleh dari Tuban? Saya pun demikian, jarang bahkan hampir tidak pernah membeli sesuatu di toko oleh-oleh khas Tuban untuk dibawa ke rumah.

Ketiga, kurangnya perhatian terhadap kekayaan alam membuat Tuban jarang tersorot dan kurang menarik untuk dijadikan rujukan wisatawan. Mungkin, kurangnya promosi yang dilakukan. Coba kita lihat upaya mempercantik pantai cemara kota Tuban. Penambahan ayunan sampai pantai Mangrove itu memerlukan banyak biaya. Namun, apakah wisatawan melonjak? Tidak. Selayang pandang pengamatan saya wisatawan lebih memilih pasir putir Remen untuk bersinggah. Lalu, bagaimana nasib para pedagang di daerah pantai cemara? Padahal kabupaten sebelah pantainya tak sebagus dan seapik Tuban. Bahkan kabupaten sebelah ada yang tidak memiliki pantai sama sekali.

Keempat, kurangnya sinergitas birokrasi dan masyarakat membuat lambannya kemajuan Tuban. Padahal, saya kira, banyak warga yang memiliki kreatifitas tinggi. Apalagi pemudanya. Banyak pemuda dengan bakatnya masing-masing. Saya kira perbandingan secara kualitas dengan daerah lain Tuban masih unggul. Bahkan, pemuda luar kota Tuban pun mengakui jika orang Tuban itu keren-keren. Nah, saya kira ini bisa menjadi nilai jual tersendiri untuk manjadi sales-sales kabupaten. Bahasa halusnya menjadi duta kota Tuban. Seperti: duta pariwisata yang meliputi, kuliner dan budaya. Bukankah seperti mampu menimbulkan sinergitas mutualisme dalam pemerintahan kota? Saya kira, iya.

Tidak memungkiri juga jika Tuban dinaungi banyak komunitas. Baik dari kalagan pemuda ataupun orang tua. Namun, kurangnya pemanfaatan pemerintah untuk menjadikan mereka sebagai publik figur ataupun sales kota Tuban sangat saya sayangkan. Coba kalau dimanfaatkan, saat mereka berkunjung ataupun ada yang berkunjung ke Tuban maka komunitas-komunitas tersebut memberikan wawasan tentang Tuban. Tidak menutup kemungkinan mereka yang mendapat edukasi menyebarkan ke teman-temannya.

Kelima, peran media sosial juga sangat penting. Beberapa hari yang lalu saya menemui pemilik akun instagram tentang kota Tuban. Bagi pengguna instagam pastinya tahu dengan banyaknya akun tersebut. Namun, masih saya dengar keluhan jika kurang adanya esensi bagi pemilik akun akun tersebut. Bahkan, saya mendapat bisikan jika ada yang sebatas buat mainan saja. Juga; ada salahsatu akun yang sebenarnya siap untuk mengenalkan kota Tuban melalui akun media sosialnya. Namun, keluhnya keterbatasan dana menjadi faktor utama untuk mengexplore kota Tuban yang kemudian menyajikannya melalui edukasi. Memang, saya kira juga demikian. Banyak akun media sosial tentang Tuban hanya berisi anak-anak numpang tenar tanpa memiliki tujuan yang jelas.

Lain hal dengan media sosial Facebook, di laman-laman kota Tuban sering saya jumpai ada yang memposting berisi keluhan dan upaya memperkenalkan objek wisata di daerahnya. Seperti, baru baru ini ada pemuda yang memposting fotonya di pantai Sowan. Apakah mau didiamkan saja jika usulan masih realitas?

Memang, media sosial tidak bisa kita remehkan. Propaganda perpolitkan saja banyak menggunakan media sosial. Saya yakin kemajuan kabupaten bisa terwujud jika memanfaatkannya dengan baik.

Sebenarnya masih sangat banyak yang dapat dimanfaatkan. Seperti kaum-kaum intelektual (mahasiswa) baik didalam atau diluar Tuban bisa diajak kerja sama. Paksa mahasiswa di daerah Tuban untuk memikirkan kota Tuban. Daya kritis yang mereka bisa digunakan untuk menumbuhkan analisis sosial. Sehingga, mereka dapat menemukan cara untuk mengatasi permasalahan yang ada. Bisa juga mereka diberikan tugas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas. Sedangkan mahasiswa di luar Tuban ibaratkan kedutaan yang ditempatkan di daerah masing-masing mereka kuliah.

Terakhir, kita tidak bisa melupakan kebiasaan orang Tuban yang suka ngopi. Ya, semua orang suka ngopi, lalu bagaimana dengan minum kopi bisa ikut serta dalam progres ini? Mungkin, bisa di tulisan saya sebelumnya.

Sekarang bayangkan, semua ornamen turut serta dalam memajukan kabupatennya. Saya yakin, jika ada yang diberi tanggungjawab dan rasanya tanggungjawab itu dilakukan serentak, maka hal itu akan dilakukan dengan baik. Jika semua orang sudah menganal kotanya, merasa memilikinya, maka kemajuan dan kesejahteraan bukanlah hal yang rumit. Pemerintahpun tinggal melihat, menemukan celah dan melakukan evaluasi terhadap kinerja yang bersinergitas.

Lalu, masih adakah kata 'Tapi' untuk kemajuan daerahnya sendiri?  




0 komentar:

Posting Komentar