Senin, 08 Oktober 2018

Kopi

Cerita ini tidak mengagetkan seperti pada film The Prestige dan tidak semenarik aksi dua Gallahad dalam film Kingsman. Juga; tidak gateli seperti film Deadpool seri satu dan dua. Kisah ini juga tidak hadir di tengah-tengah perang sedang berkecamuk. Ya, cerita ini membosankan seperti ketika membaca sebuah cerita yang diawali bangun tidur dan melihat dunia masih sama seperti kemarin. Jadi, buatlah keputusan yang lain.

Alkisah

Pasman, Lasmin, dan sebut saja Petapa sedang duduk melingkar sambil menikmati sore. Pertemuan sekaligus reuni kecil-kecilan itu mereka habiskan untuk menikmati kopi, Kucur, Nogo Sari, dan rokok mereka masing-masing di sebuah gubug dekat sawah. Mereka adalah teman sebaya ketika duduk di bangku perkuliahan. Dan sore itu sekaligus menjadi momen bagi mereka untuk menertawai apa saja yang pernah mereka lakukan di kampus.

Tawa-tawa kecil terus saja mengalir dari mulut mereka yang dibarengi dengan asap putih tembakau. Sesekali seruputan kopi dan mengunyah Kucur menjadi penyeimbang pertemuan mereka. Canda tawa mereka sempat tertunda setelah mendengar celetukan dan sekaligus nostalgia Paidi.

”Eh, ngomong-ngomong, saya kemarin baca berita dan lihat di media sosial katanya kopi nusantara menjadi primadona ketika festival kopi internasional. Saya jadi teringat ketika masa kuliah, masa ketika terus melakukan kajian untuk besok siapa yang ingin saya demo. Ya, walaupun dulu teman setia adalah sepi dan kopi sachet hasil keringat buruh di Sidoarjo dengan seragam orennya. Tapi, masa-masa itu sulit untuk saya lupakan,” celoteh Pasman. 

”Ah! Kamu ya Pasman. Sekarang kamu sok ngomong masalah kopi. Apa dulu kamu tidak ingat kita bertiga membicarakan tentang mitos-mitos yang menyertai kopi yang kita minum? Dan apakah kamu juga tidak ingat perihal kamu sangat mengutuk propaganda dari industri?” tanya Lasmin.

”Saya tidak akan melupakan mitos kepahitan yang menyangkut Sugar War. Itu mitos lama yang diternak oleh manusia Eropa pada masa itu. Walaupun kopi yang saya nikmati kala itu sebanding dengan harga parker di pasar, tapi setidaknya saya masih bisa berpura-pura peduli dengan rakyat kecil. Mengenai deskriminasi yang dibangun oleh industri dulu saya memang sangat mengutuk, karena tidak ada alasan waktu itu untuk tidak berpihak kepada rakyat kecil,” tutur Pasman sebelum menyedot dalam rokoknya.

”Seingat saya, dulu kita sudah sepakat dengan jawaban untuk mengganti gula dengan mitos produk bergambar jagung itu. Dan kalau perlu kita cukup membeli permen Kopique jika tidak memiliki waktu buat ngopi,” jawab si Tapa yang sontak membuat mereka tertawa lagi.

Seperti itulah cuplikan reuni kecil-kecilan mereka. Dan biarkanlah saya membocorkan isi dari cerita yang belum usai ini. Akhir dari cerita ini adalah Pasmanharus kembali ke pabrik karena dia memiliki jam lembur. Dan yang lebih mengagetkan dia bekerja di pabrik kopi instan. Seperti itulah kelucuan dari bualan-bualan yang mereka lempar. Dan mari kembali ke lima tahun lalu, ketika Paidi adalah orator dan bidang kajian sebelum melakukan demonstrasi.

Kilas

”Mari, bung! Kita sudah banyak dibohongi oleh pemerintah dan didiskriminasi oleh industri kita. propaganda-propaganda yang mereka lancarkan sama sekali tidak memihak kepada rakyat kecil. Mana bung, mana? Nasionalis kita yang lebih berpihak kepada rakyat telah disulap instan untuk menjadi pribadi yang konsumtif, dengan semboyan tem is mani (time is money) agar kita terbiasa dengan hidup instan. Selain itu, mari kita lihat betapa celakanya diskriminasi dari monopoli pasar menghargai kopi kita setara dengan kencing di toilet,” koar Pasman sembari mengangkat gelas kopi joinan yang ia minum.

”Terus kita harus bagaimana, bung? Agar Tri Fungsi (baca: bualan) yang melakat kepada kita semua bisa dipertanggungjawabkan,” tanya kader baru kepada Pasman yang belum tuntas menyalakan rokok eceran.

”Terbaik kamu, bung! Sebelum saya memberikan solusi, biar saya teruskan deskriminasi monopoli pasar. Lihat, bung! Bagaimana bisa kopi yang biasa kita minum ini harganya bisa sampai 16 kali lipat,” tutur Pasman sebelum ada kader lain yang menyahut.

”Seperti apa itu bung? Kenapa bisa lebih mahal dari harga beras?” tanya kader lain memotong pembicaraan Pasman.

”Makanya jangan memotong dulu. Kemarin teman saya habis ngopi di Setubruk. Alasannya sederhana ingin mengangkat kelas sosialnya melalui story media sosialnya dengan mengkosmetikan minum kopi di Setubruk. Dia memesan Javanesse Coffee dan rela merogoh uang saku bulanan sebesar 50 ribu. Dan jika saya hitung-hitung, nominal itu adalah enam belas kali lipat dari kopi kita yang seharga tiga ribuan,” pungkas Pasman yang langsung membahas untuk demo minggu depan.

Di tempat lain, si Tapa sedang menanggalkan kuliah untuk berkunjung ke warung Pangkon di daerah Drajad, Paciran, Lamongan. Bersama tante-tante dan supir truck dia mencoba memahami kultur dan nilai yang bisa diambil. Seperti itulah si Tapa, hidupnya dianggap tidak jelas oleh banyak kalangan. Tapi dia menikmati waktunya bersama lonte-lonte, preman pasar, dukun kejawen, kiai atau ustad, dan banyak orang lainnya. Dia lebih suka tidur dibawah bintang, kopi, dan membakar sampah dibelakang rumah. Hal itu ia nikmati sampai tertidur pulas. Dan dia adalah dalang dibalik koar-koarnya Pasman. 

Sementara itu Lasmin lebih memilih berkumpul, bermain gitar, dan membacakan puisi-puisi bersama komunitas sastranya. Walaupun dia adalah penikmat kopi sachet, menurutnya kopi yang dia minus adalah sebuah bentuk perlawanan dan kekreativitasan. Seperti hadirnya Gudeg Mangar di Jojga, alasan dasar karena saat itu Gudeg adalah makanan kelas bangsawan. Dia tidak terlalu mempermasalahkan propaganda dari industri karena dia sadar, mereka sama-sama mencari uang di tengah kompetisi persaingan pasar. Juga; dia lebih suka mengambil nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam setiap hal. Misalnya persoalan kopi dengan gilingan kepadatan yang kecil atau besar sebagai penentu dari kualitas kopi. Walaupun Lasmin sendiri bukan maniak kopi.

Akhir Kata

Tak terasa Maghrib datang. Pembicaraan mereka terhenti untuk sementara sebelum Paidi memilih pamit karena ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Seperti bocoran diatas tentang pekerjaan Paidi dan akhir dari sebuah cerita. Tapi saya rasa tidak sepenuhnya demikian.

”Saya pamit dulu teman-teman. Mungkin kita bisa lanjut pertemuan ini di hari yang akan datang. Kebetulan malam ini saya ada lembur,” pamit Pasman. 

”Apa kamu itu, Pasman. Bagaimana ceritanya sampai terjerumus kedalam dunia perindustrian yang kamu laknati dulu?” tanya Lasmin.

”Ceritanya sederhana sebenarnya. Sepulangnya saya menjadi orator demo waktu itu saya dihampiri sama pihak pabriknya. Singkat cerita saya bertemu langsung dengan manajer perusahaan secara empat mata. Alkisah saya ditawari untuk menjadi kepala bagian pendistribusian. Ya, kamu kan tahu sendiri saat itu saya ada di ambang pintu kelulusan,” dalih Pasman. 

”Jadi sesederhana itu saja? Lalu, setelah kita perenungan ini kamu masih ingin menelan air ludahmu,” sanggah Lasmin.

”Tidak. Biarkan saya berangkat dulu,” pungkas Pasman dan berpamitan yang diiringi lagunya Pink Floyd berjudul Another Brick in the Wall.

Memang seperti itulah garingnya perpisahan mereka. Pasman pun memang mendatangi pabrik. Tanpa diduga sesampainya di pabrik ia melepas semua pakaian yang ia kenakan. Dan kemudian menjatuhkan dirinya di biji-biji kopi yang siap disangrai. Sambil tertawa dengan terbahak dan mendapat pandangan aneh dari karyawan pabrik, dia menikmatinya.

Sementara Lasmin kembali ke rumah, si Tapa menuliskan pertemuan mereka bertiga dalam sebuah cerita harian. Dan mencari hal-hal gila yang akan dihadirkan dalam ceritanya. Terakhir, dia sudah menemukan quote untuk akhir tulisan ini adalah, ”Kolot dan kakunya perilakumu, menggambarkan kakunya pikiranmu. Makanya jangan lupa minum kopi dulu.” 

0 komentar:

Posting Komentar