Senin, 08 Oktober 2018

Romantisme Bathukmu Sempal

Romantisme. Mungkin ketika mendengar kata itu kita akan teringat dengan dua sosok yang dihadirkan William Shakespeare  dalam romannya,  Romeo and Juliet. Kisah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari film dan roman era milenial. Yang katanya romantis adalah kisah-kisah cinta dengan segala hal yang indah, enak, dan tetek bengek lainnya. Seperti dalam film ganteng-ganteng asu, ataupun kisah cinta pada dunia perkuliahan.

Dengan berkembangnya media sosial kita akan semakin mudah menemukan berserakannya sampah yang dinamakan romantis. Seperti yang mungkin kita pernah jumpai di media sosial Instagram, banyak bocah-bocah ingusan yang berlagak seperti orang dewasa. Bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, dan lain sebagainya banyak kita temui dengan dalih romantisme.

Tidak sedikit juga kita mendengar kisah sepasang muda mudi yang harus melanjutkan kehidupan mereka melalui gerbang pernikahan karena salah kaprah mengartikan romantisme. Sebenarnya romantisme bisa menjadi jalan untuk membuat orang semakin dewasa, bukan seperti film dewasa. Singkatnya seperti ini, ada seorang perempuan yang diajak kikuk-kikuk sama pacarnya. Awalnya sang perempuan menolak. Namun, pacarnya bilang ke perempuan jika tidak mau maka dia dibilang tidak sayanglah, tidak cintalah, dan tidak-tidak yang lain. Alhasil, merekapun mengukir garis keturunan dari remang-remang malam.

Kisah diatas berbanding terbalik  dengan kisah romantisme sepemahaman saya seperti kisah Habibi dan Ainun, ataupun kisah Muhammad dengan merah delimanya, Aisyah. Setahu saya dari mereka memberikan pesan bahwa romantis tidak melulu pada yang enak atau indah saja. Sekarang coba bayangkan, dimana letak romantisnya dua insan yang tidur dan dibatasi pintu? Saya rasa tidak ada. Tapi bagaimana jika kisahnya seperti ini. Alkisah, Muhammad pulang ke rumah terlalu larut malam. Karena khawatir mengganggu  Aisyah yang sedang tidur, maka Muhammad tidur depan pintu. Dan ternyata Aisyah juga tidur depan pintu bagian dalam karena Muhammad tak kunjung pulang. Sudah menemukan romantismenya?

Pada kisah yang lain, pada keluarga saya sendiri. Saya memiliki paman yang bisa dikatakan ahli dalam mendesain. Hal itu dibuktikan dengan desain rumahnya yang bagus. Namun, ketika rumah dalam tahap pengecatan dia memberikan warna dominan hijau. Saya berpikir rumah itu menjadi jelek jika diberi warna hijau hampir seluruhnya. Juga; saya berpikir jika paman saya mengetahuinya. Namun, betapa kagetnya saya setelah bertanya kepada nenek saya.

”Nek, apa paman tidak tahu kalau rumahnya hampir semua dicat warna hijau jadi jelek?” tanya saya pada nenek.

”Ya nggak tau juga. Tapi katanya (paman saya) isterinya suka warna hijau,” balasnya yang membuat saya terdiam malu.

Atau pada kisah yang lain. Saya pernah menjumpai seorang bapak dengan anaknya yang berusia sekitar tiga tahun. Seperti pada foto diatas yang saya ambil di sekitar pantai Cemawa Sewu, Tuban. Saya sempat tanya-tanya sedikit pada bapaknya setelah mencari kerang dengan menggali pasir di bibir pantai.

”Dapat banyak pak kerangnya,” tanya saya.

”Gak niat nyari mas, cuma main-main saja sama anak saya,” jawabnya.

”Adiknya umur berapa emang pak?” tanya saya lagi.

”Tiga tahun mas,” jawabnya singkat.

”Emang biasa diajak main ke laut ya pak?”

”Iya mas. Biar terbiasa dengan laut dan alam. Toh saya juga tahu bagaimana kerasnya kehidupan di laut. Ya tak ajak main ke laut itu biar nanti kalau sudah besar tidak kaget,” jelasnya yang membuat saya meminta izin mengambil foto mereka berdua.

Seperti itulah kehidupan, banyak kita akan menjumpai kisah-kisah yang diselimuti romantismenya tersendiri selain romantisme bathukmu sempal

0 komentar:

Posting Komentar