Romantisme.
Mungkin ketika mendengar kata itu kita akan teringat dengan dua sosok yang
dihadirkan William Shakespeare dalam
romannya, Romeo and Juliet. Kisah yang berbeda seratus delapan puluh derajat
dari film dan roman era milenial. Yang katanya romantis adalah kisah-kisah
cinta dengan segala hal yang indah, enak, dan tetek bengek lainnya. Seperti dalam film ganteng-ganteng asu,
ataupun kisah cinta pada dunia perkuliahan.
Dengan berkembangnya
media sosial kita akan semakin mudah menemukan berserakannya sampah yang
dinamakan romantis. Seperti yang mungkin kita pernah jumpai di media sosial
Instagram, banyak bocah-bocah ingusan yang berlagak seperti orang dewasa. Bergandeng
tangan, berpelukan, berciuman, dan lain sebagainya banyak kita temui dengan
dalih romantisme.
Tidak sedikit
juga kita mendengar kisah sepasang muda mudi yang harus melanjutkan kehidupan
mereka melalui gerbang pernikahan karena salah kaprah mengartikan romantisme. Sebenarnya
romantisme bisa menjadi jalan untuk membuat orang semakin dewasa, bukan seperti
film dewasa. Singkatnya seperti ini, ada seorang perempuan yang diajak kikuk-kikuk sama pacarnya. Awalnya sang
perempuan menolak. Namun, pacarnya bilang ke perempuan jika tidak mau maka dia
dibilang tidak sayanglah, tidak cintalah, dan tidak-tidak yang lain. Alhasil,
merekapun mengukir garis keturunan dari remang-remang malam.
Kisah diatas
berbanding terbalik dengan kisah romantisme sepemahaman saya seperti kisah Habibi dan
Ainun, ataupun kisah Muhammad dengan merah delimanya, Aisyah. Setahu saya dari
mereka memberikan pesan bahwa romantis tidak melulu pada yang enak atau indah
saja. Sekarang coba bayangkan, dimana letak romantisnya dua insan yang tidur
dan dibatasi pintu? Saya rasa tidak ada. Tapi bagaimana jika kisahnya seperti
ini. Alkisah, Muhammad pulang ke rumah terlalu larut malam. Karena khawatir
mengganggu Aisyah yang sedang tidur,
maka Muhammad tidur depan pintu. Dan ternyata Aisyah juga tidur depan pintu
bagian dalam karena Muhammad tak kunjung pulang. Sudah menemukan romantismenya?
Pada kisah
yang lain, pada keluarga saya sendiri. Saya memiliki paman yang bisa dikatakan
ahli dalam mendesain. Hal itu dibuktikan dengan desain rumahnya yang bagus. Namun,
ketika rumah dalam tahap pengecatan dia memberikan warna dominan hijau. Saya berpikir
rumah itu menjadi jelek jika diberi warna hijau hampir seluruhnya. Juga; saya
berpikir jika paman saya mengetahuinya. Namun, betapa kagetnya saya setelah
bertanya kepada nenek saya.
”Nek, apa
paman tidak tahu kalau rumahnya hampir semua dicat warna hijau jadi jelek?”
tanya saya pada nenek.
”Ya nggak
tau juga. Tapi katanya (paman saya) isterinya suka warna hijau,” balasnya yang
membuat saya terdiam malu.
Atau pada
kisah yang lain. Saya pernah menjumpai seorang bapak dengan anaknya yang
berusia sekitar tiga tahun. Seperti pada foto diatas yang saya ambil di sekitar
pantai Cemawa Sewu, Tuban. Saya sempat tanya-tanya sedikit pada bapaknya
setelah mencari kerang dengan menggali pasir di bibir pantai.
”Dapat
banyak pak kerangnya,” tanya saya.
”Gak niat
nyari mas, cuma main-main saja sama anak saya,” jawabnya.
”Adiknya
umur berapa emang pak?” tanya saya lagi.
”Tiga tahun
mas,” jawabnya singkat.
”Emang
biasa diajak main ke laut ya pak?”
”Iya mas. Biar
terbiasa dengan laut dan alam. Toh saya juga tahu bagaimana kerasnya kehidupan
di laut. Ya tak ajak main ke laut itu biar nanti kalau sudah besar tidak kaget,”
jelasnya yang membuat saya meminta izin mengambil foto mereka berdua.
Seperti itulah
kehidupan, banyak kita akan menjumpai kisah-kisah yang diselimuti romantismenya
tersendiri selain romantisme bathukmu
sempal.
0 komentar:
Posting Komentar