Muhammad adalah jalan menuju rumah. Di musim hujan seperti ini banyak penyakit siap singgah padanya. Oh, mungkin hujan sedang marah. Lihat, Muhammad sedang kedinginan, dia berselimut. Lalu, diutus Zamil dan Yasir untuk menghangatkan dan membangunkan Muhammad.
Perlu diketahui bahwa Zamil dan Yasir adalah utusan Raja membawa pesan, strategi, kabar baik, perintah, peringatan, dan kadang secara gamblang datang langsung memberikan sikap seperti apa yang harus diambil. Selain mereka, masih ada ratusan nama yang sangat ahli dalam melakukan tugasnya. Kebetulan Zamil dan Yasir lahir di Makkah.
Salah satu tugas Zamil dan Yasir adalah Muhammad yang kehujanan. Hujan datang karena ketidaksopanan Jibril kepadanya. Padahal trauma pasca di Hiro masih belum sepenuhnya pamit. Ah, naas sungguh nasibnya. Sampai dia butuh selimut lagi sambil tengkurap untuk benar-benar menghangatkan tubuhnya, walaupun sementara.
Waktu terus berjalan, dan kita mungkin bisa berterima kasih atas kepiawaian dua nama tersebut. Sampai sekarang kita masih bisa mempelajari bagaimana kepribadian dua sosok tersebut, jika suatu saat kita mengalami hal serupa dengan Muhammad.
Alkisah kejadian serupa terjadi lagi jauh hari setelah masa Muhammad. Tepatnya pada Mayang Madu yang kapalnya hancur oleh ombak laut Lamongan. Untungnya pada masa itu Banjar yang mengetahui adanya peristiwa tersebut dari laporan nelayan. Akhirnya Banjar kala itu sebagai kepala desa mengajak Mayang Madu untuk singgah di rumahnya.
Kaget dan bingung yang dirasakan Mayang Madu ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya, karena rumah tersebut sangat gelap, berselimut dan kedinginan. Dia berpikir bahwa seharusnya tidak seperti ini, yang dia tahu ada desain modern yang berhasil dibawa oleh Subakir yang diteruskan Bonang, dan lain-lain. Namun, rumah yang ia lihat jauh dari kata modern. "Sudah mau roboh," bisik pedagang rujak yang tiba-tiba lewat. Mayang Madu kemudian menoleh dari lamunannya, namun dia hanya melihat tulisan rujak pak Mustofa pada gerobak orang yang berbisik kepadanya.
Kemudian sampailah mereka di rumah Banjar. Dan setelah mereka minum teh, Mayang Madu meresahkan akan kunonya desain rumah Banjar. Selain itu arsitektur Jawanya kok tinggal separuhnya saja, malah hampir hilang. Kebetulan Banjar sepaham dengan Mayang Madu. Akhirnya mereka sepakat untuk minta pendapat dengan Emha dan Abdul Ghofur. Setelah minta pendapat melalui percakapan Whatsapp, Emha dan Abdul Ghofur menyuruh Banjar untuk memberi tahu penghuni rumah lebih menggunakan otaknya. Karena kurang puas dengan jawaban mereka, Banjar coba menelfon Muwafiq, ternyata Banjar malah disalahkan karena selama ini diam.
Karena mereka berdua belum menemukan langkah harus seperti apa, sampailah mereka untuk mencari bantuan ke Surabaya, Ampel. Sesampainya di rumah Ampel, Banjar dan Mayang Madu disuruh balik. Tapi Ampel menyuruh Drajat anaknya untuk ikut bersama mereka. Akhirnya, mereka pamit menuju Lamongan.
Sampailah mereka bertiga di rumah Banjar. Sama dengan reaksi Mayang Madu pertama kali, Drajat juga kaget ditambah miris melihat rumah Banjar. Pondasinya sudah rapuh, cat rumahnya banyak mengelupas, gentengnya banyak yang bocor, dan hati hati yang ada di rumah banyak yang tidak sejalan. Belum lagi emosi mudah muncul yang disebabkan kondisi rumah Banjar.
Drajat terus mengelilingi rumah Banjar sambil bercerita kepadanya tentang sosok zamil dan Yasir. Drajat menyarankan kepada Banjar untuk jangan terlalu sering mematikan lampu rumahnya, kalau perlu ditambah agar lebih terang. Karena menurut Drajat, Rumah Banjar jarang ditempati yang mengakibatkan banyak rayap. Selain itu, Banjar disarankan untuk lebih mendekatkan kepada Tuhan, begitupun dengan keluarganya. Dan yang paling penting, Banjar harus membersihkan baju dan cat rumahnya agar lebih segar dari sebelumnya.
Sederhana sekali saran Drajat kepada Banjar, dan dia tak mau panjang lebar karena menyuruh Banjar mencari serta mempelajari kisah Zamil dan Yasir.
"Oh, iya Banjar. Saya lupa satu hal," tutur Drajat.
"Apa memangnya?" tanya Banjar.
"Cuci muka dulu biar tampak lebih segar," jawab Drajat yang membuat Banjar terbangun dari tidurnya.
0 komentar:
Posting Komentar