Mengapa
sampai saat ini aku susah mengartikan keluarga. Walaupun Ryan Renolds pemeran
utama dalam film Deadpool pada
awalnya selalu mengutuk tentang kekeluargaan. Namun, pada akhirnya dia sadar
bahwa dalam keluarga saat memiliki anggota baru membuat kita lebih baik dari
sebelumnya. Tidak hanya itu, dalam film Banlieue
13 tahun 2009, persatuan mafia dari berbagai kalangan terwujud karena
mereka menawarkan konsep kekeluargaan.
Apakah kita
membicarakan keluarga dari film seperti yang diceritakan pada buku Mitologi,
seperti orang Romawi dalam film?
Tidak
sepenuhnya demikian. Karena dalam meja makan kita boleh membicarakan apa saja,
tidak seperti dalam film The Godfather.
Walaupun kita boleh mengamini bahwa bisnis tidak bisa lepas dari kehidupan
kita.
Lalu apa
yang kamu inginkan?
Tidak ada
yang aku inginkan, begitupun seharusnya dirimu yang harus meminimalisir
keinginanmu, apalagi membangun keluarga. Karena mau diakui atau tidak, pada
akhirnya manusia menyelamatkan dirinya sendiri.
Seperti halnya kita tercipta
dari seoarang diri, dan akan mempertanggungjawabkan dengan sendiri pula.
Apakah kau
membicarakan film Home Alone yang sering diputar pada televisi swasta?
Tidak. Film
sederhana yang bermula dari seoarang anak yang ditinggal keluarganya berlibur
tidak terlalu bisa menjadi acuan bagi kaum komunal seperti kita. Biar
kebanyakan orang di dunia menjalani hidup dengan sebatas kulit saja, tapi
setidaknya harus ada orang-orang seperti kita.
Lalu,
apakah kau mengharapkan mendobrak sistem seperti pada film Captain Fantastic?
Saya juga
sedikit bingung mengenai hal tersebut. Karena Pink Floyd dalam lagunya yang
berjudul Another Brick In the Wall
sudah cukup menggambarkan bahwa berontak pada sistem yang katanya disetir oleh Elite Global itu hanya dalam mimpi.
Ku tahu
pasti mengenai keluarga itu laksana bangunan yang saling menguatkan satu dengan
lainnya. Apapaun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya.
Ya. Seperti
film Deadpool ke 2, saat Colossus membantu Deadpool pada situasi yang genting
dia berkata bahwa teman sejati hadir disaat temanmu susah. Harusnya teman
sejati juga ada dalam lingkup keluarga.
Jika memang
demikian, ibaratkan kita mengartikan keluarga seperti bangunan maka
dekonstruksi ala Derrida bisa saja terjadi?
Hal itu
pada persoalan bagaimana pondasi dalam keluarga dibangun. Karena rekonstruksi
dan dekonstruksi dalam keluarga itu tidak berlaku. Pemakluman yang
memperhitungkan sebab musabab anggota keluarga itu perlu dilakukan. Dan jika
kasusnya sudah membangun ulang (dekonstruksi) namanya kita sudah dalam
lingkup
keluarga yang baru. Ini soal pondasi yang kau bangun.
Memang
tujuan seperti apa yang diharapkan? Yang kutahu sebatas dua insan yang
mengikatkan diri mereka
pada perjanjian dan mereka ingin membangun rumah
tangga, bukan rumah makan.
Itu seperti
yang dikatakan Pidi Baiq.
Sampai
sini, kebingungannku semakin besar. Coba jelaskan apa yang menjadi
kebingungannmu. Ceriatakanlah!
Baik. Aku
lahir dari keluarga yang carut marut. Orang tuaku memilih cerai karena dirasa
dari mereka sudah tidak saling memiliki kecocokan.
Kalau boleh
tahu kapan hal itu terjadi?
Saat aku
memilih Lamongan menjadi tempat pelarianku menuntut ilmu. Alkisah bapak dan
saudara perempuan saya datang ke Lamongan untuk melihat kabar. Dan saat itu
orang tuaku sudah bercerai walaupun saat datang ke Lamongan aku tidak
mengetahuinya. Baru tiga bulan setelahnya itu aku mengetahuinya.
Jadi saat
bapakmu datang bersama saudara perempuanmu, orang tuamu sudah resmi bercerai?
Ya seperti
itulah. Aku tidak perlu marah karena aku sadar banyak pertimbangan yang
dihadirkan agar aku tidak mengetahuinya terlebih dahulu.
Lalu?
Ada wacana mereka
balikan seperti awal semula. Walaupun keluarga dari pihak bapak tidak terlalu
menyetujuinya. Pasal mereka mengganggap bahwa bapak akan lebih baik dengan yang
lain.
Memang
seperti apa kasusnya bisa seperti itu?
Alkisah
bermula ketika bapak tidur dengan selingkuhannya di ranjang yang biasa dipakai
bersama ibuku.
Apa?
Biasa saja.
Tidak perlu kaget.
Bagiamana
dengan wacana kembali seperti sedia kala?
Bapakku
meminta pertimbangan dariku yang dianggap masih bisa berpikir jernih. ”Ada atau
tidaknya bapak tidak berpengaruh bagiku. Dan kalau kasusnya seperti sekarang
lebih baik jangan kembali,” tuturku. Tidak perlu kau tanyakan kenapa aku
berkata seperti itu.
Baik. Lalu,
apa yang selanjutnya terjadi padamu?
Aku banyak
mengenal orang dijalanan. Dengan biasa mbambong
menjadi bagian dari Kamtis Family, Outsiders, dan anak-anak Rasta yang biasa
hidup dijalanan aku mencari arti kekeluargaan. Ganja, Zenith, Arak, Double L,
adalah keseharianku ketika mengenal mereka. Bahkan dari situ aku banyak
mengenal Bandar di kotaku sendiri.
Memang
bagimana ceritamu ketika menjamah jalanan?
Tidur di
berbagai tempat, makanan, minuman, rokok sisa, dan lain-lain biasa kami dapat
dari sampah.
Sampah?
Ya. Bermula
ketika Jogja, Malang, dan Surabaya yang menjadi pendaratakan kami setelah
melihat konser Superman Is Dead dan Tony q Rastafara. Alkisah kami begitu
kelaparan ketika Surabaya menghantui kami. Dan kami sepakat berjalan sampai
perbatasan ke Surabaya kearah Gresik, sesampainya di Tugu Pahlawan kami melihat
banyak tumpukan kotak nasi. Kami mencarinya sampai didalam sampah untuk
mendapatkan sisa suapan dalam kotak makan berwarna putih. Memang awalnya aku
merasa tidak enak, tapi mau bagaimanapun aku tetap makanan yang berhasil kami
kumpulkan dari sampah.
Apakah kau
menemukan arti kekeluargaan disana?
Saya
sedikit mendapatkan apa arti mereka mengorbankan diri mereka untuk kita.
Apalagi untuk urusan finansial yang katanya sangat penting itu tidak berlaku.
Seolah uang yang ada adalah milik bersama. Tidak peduli berapa banyaknya uang
yang saya, kamu, atau dia miliki. Tapi, seberapa berharga uangmu untuk
saudaramu.
Lalu,
kenapa kau sudah tidak pada dunia tersebut?
Kita tidak
bisa mengesampingkan kompleksitas dari suatu perkara. Yang jelas semakin aku
bersama siapapun, semakin aku sadar untuk hidup sendiri.
Apakah kau
tidak pernah menemukan keluarga baru lagi?
Pernah.
Seperti
apa?
Pernah saya
tersesat disuatu daerah. Dan disana sedang berlangsung pengajian pada suatu
surau. Alkisah saya mendekati surau tersebut dan sekilas mendengarkan bahwa
saudara itu bisa terbentuk dari dua perkara, ikatan darah dan iman. Dan saudara
yang terbentuk bukan dari ikatan darah katanya bisa lebih tinggi derajatnya.
Kamu
membicarakan saudara atau keluarga?
Keluarga,
saudara, rumah, adalah kompleksitas dalam satu paket.
Oh, pantas
jika aku sering mendengar dalam film bahwa rumah adalah tempat kembali.
Ya. Seperti
pada film Avenggers Infinity Wars dan Tomb Raiders yang bisa menyelsaikan
permasalahannya saat mereka kembali ke rumah.
Aku juga
ingat ketika Dom Torreto dalam film Fast
And Furious ke lima, dia meminta imbalan kembali ke rumah saat misinya
berhasil diselsaikan.
Tepat sekali.
Bagimana
dengan keluarga barumu, dan keluargamu yang diikat oleh tali darah?
Aku tidak
tertarik pada saudaraku yang terikat darah karena kita memiliki jalan yang
berbeda. Sedang lain cerita dengan saudara yang diikatkan oleh iman saya lebih
menyukainya.
Apakah
tidak terdengar lebay?
Memang
terdengar lebay dikalangan banyak telinga orang awam. Tapi jika saya telaah
lebih jauh masih terdengar rasional.
Memang
bagiamana persoalannya?
Seolah kita
memilih jalan yang tidak banyak dilalui banyak orang. Secara rincinya kita
membungkus ajaran agama yang kita percayai dalam pola kehidupan sehari-hari.
Mengapa kau
masih tampak seperti bajingan?
Lantas apa
salahnya aku menjadi bajingan? Dan rasanya Tuhan merahmati bajingan turun ke
bumi, juga kepadaku.
Lantas apa
yang kau keluhkan?
Aku banyak
tidak menemukan apa yang kutemukan dijalanan. Entah dari sifat atau apapun itu.
Walaupun aku sadar tidak bisa memukul rata kepada mereka.
Apakah
jalanan tidak mengajarkanmu tentang pemakluman. Dan kenapa kau tidak mulai mengajak
mereka dijalanan? Juga bukankah itu adalah kesetabilan dalam hal apapun yang
berisi dari berbagai sisi. Gampangnya ada yang baik ataupun kurang baik.
Teori
sederhana memang seperti itu adanya. Walaupun tidak berarti aku ada diposisi
yang baik. Tapi,
Tapi apa
lagi? Mungkin kau terlalu lelah sampai hal-hal sederhana semacam itu kau
pusingkan. Mungkin kau terlalu suka membohongi dirimu sendiri untuk mentupi
perkara agar mereka tidak mengetahuinya.
Mungkin
seperti itu. Sedari dulu selalu kumencoba untuk tidak menyusahkan orang-orang
disekitarku. Apalagi teman-temanku yang kuanggap sebagai saudara sendiri.
Itu salahmu
sendiri. Lalu apa lagi?
Pernahkah
kau mendengar penghiatan terbesar yang dilakukan saudaramu?
Tidak.
Memang seperti apa?
Di saat kau
mengatai saudaramu kepada orang lain.
Seperti
itu? Lagi-lagi kau lelah, teman. Mungkin kalian masih belum saling kenal satu
sama lain. Dan kalian hanya mengkampanyekan bahwa kalian adalah keluarga yang
diikat dengan iman pembawa perubahan. Jika memang hal itu yang kau inginkan,
maka jangan tuntut siapapun agar sepemikiran denganmu. Kau diam, maka tanggung
segala konsekuensi yang akan kau terima. Dan yang kau inginkan adalah rasa
tenang untuk kembali ke rumah yang sebenarnya.
Sebenarnya
kau siapa seolah mengerti persoalan yang sedang kualami?
Aku? Aku
adalah dirimu yang akan menuliskan naskah kesulitanmu mengartikan keluarga
dalam percakapan film.
0 komentar:
Posting Komentar