Rabu, 17 Oktober 2018

Keluarga dalam Percakapan Film

Mengapa sampai saat ini aku susah mengartikan keluarga. Walaupun Ryan Renolds pemeran utama dalam film Deadpool pada awalnya selalu mengutuk tentang kekeluargaan. Namun, pada akhirnya dia sadar bahwa dalam keluarga saat memiliki anggota baru membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Tidak hanya itu, dalam film Banlieue 13 tahun 2009, persatuan mafia dari berbagai kalangan terwujud karena mereka menawarkan konsep kekeluargaan.

Apakah kita membicarakan keluarga dari film seperti yang diceritakan pada buku Mitologi, seperti orang Romawi dalam film?

Tidak sepenuhnya demikian. Karena dalam meja makan kita boleh membicarakan apa saja, tidak seperti dalam film The Godfather. Walaupun kita boleh mengamini bahwa bisnis tidak bisa lepas dari kehidupan kita.

Lalu apa yang kamu inginkan?

Tidak ada yang aku inginkan, begitupun seharusnya dirimu yang harus meminimalisir keinginanmu, apalagi membangun keluarga. Karena mau diakui atau tidak, pada akhirnya manusia menyelamatkan dirinya sendiri. 
Seperti halnya kita tercipta dari seoarang diri, dan akan mempertanggungjawabkan dengan sendiri pula.

Apakah kau membicarakan film Home Alone yang sering diputar pada televisi swasta?

Tidak. Film sederhana yang bermula dari seoarang anak yang ditinggal keluarganya berlibur tidak terlalu bisa menjadi acuan bagi kaum komunal seperti kita. Biar kebanyakan orang di dunia menjalani hidup dengan sebatas kulit saja, tapi setidaknya harus ada orang-orang seperti kita.

Lalu, apakah kau mengharapkan mendobrak sistem  seperti pada film Captain Fantastic?

Saya juga sedikit bingung mengenai hal tersebut. Karena Pink Floyd dalam lagunya yang berjudul Another Brick In the Wall sudah cukup menggambarkan bahwa berontak pada sistem yang katanya disetir oleh Elite Global itu hanya dalam mimpi.

Ku tahu pasti mengenai keluarga itu laksana bangunan yang saling menguatkan satu dengan lainnya. Apapaun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya.

Ya. Seperti film Deadpool ke 2, saat Colossus membantu Deadpool pada situasi yang genting dia berkata bahwa teman sejati hadir disaat temanmu susah. Harusnya teman sejati juga ada dalam lingkup keluarga.

Jika memang demikian, ibaratkan kita mengartikan keluarga seperti bangunan maka dekonstruksi ala Derrida bisa saja terjadi?

Hal itu pada persoalan bagaimana pondasi dalam keluarga dibangun. Karena rekonstruksi dan dekonstruksi dalam keluarga itu tidak berlaku. Pemakluman yang memperhitungkan sebab musabab anggota keluarga itu perlu dilakukan. Dan jika kasusnya sudah membangun ulang (dekonstruksi) namanya kita sudah dalam 
lingkup keluarga yang baru. Ini soal pondasi yang kau bangun.

Memang tujuan seperti apa yang diharapkan? Yang kutahu sebatas dua insan yang mengikatkan diri mereka 
pada perjanjian dan mereka ingin membangun rumah tangga, bukan rumah makan.

Itu seperti yang dikatakan Pidi Baiq.

Sampai sini, kebingungannku semakin besar. Coba jelaskan apa yang menjadi kebingungannmu. Ceriatakanlah!

Baik. Aku lahir dari keluarga yang carut marut. Orang tuaku memilih cerai karena dirasa dari mereka sudah tidak saling memiliki kecocokan.

Kalau boleh tahu kapan hal itu terjadi?

Saat aku memilih Lamongan menjadi tempat pelarianku menuntut ilmu. Alkisah bapak dan saudara perempuan saya datang ke Lamongan untuk melihat kabar. Dan saat itu orang tuaku sudah bercerai walaupun saat datang ke Lamongan aku tidak mengetahuinya. Baru tiga bulan setelahnya itu aku mengetahuinya.

Jadi saat bapakmu datang bersama saudara perempuanmu, orang tuamu sudah resmi bercerai?

Ya seperti itulah. Aku tidak perlu marah karena aku sadar banyak pertimbangan yang dihadirkan agar aku tidak mengetahuinya terlebih dahulu.

Lalu?

Ada wacana mereka balikan seperti awal semula. Walaupun keluarga dari pihak bapak tidak terlalu menyetujuinya. Pasal mereka mengganggap bahwa bapak akan lebih baik dengan yang lain.

Memang seperti apa kasusnya bisa seperti itu?

Alkisah bermula ketika bapak tidur dengan selingkuhannya di ranjang yang biasa dipakai bersama ibuku.

Apa?

Biasa saja. Tidak perlu kaget.

Bagiamana dengan wacana kembali seperti sedia kala?

Bapakku meminta pertimbangan dariku yang dianggap masih bisa berpikir jernih. ”Ada atau tidaknya bapak tidak berpengaruh bagiku. Dan kalau kasusnya seperti sekarang lebih baik jangan kembali,” tuturku. Tidak perlu kau tanyakan kenapa aku berkata seperti itu.

Baik. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi padamu?

Aku banyak mengenal orang dijalanan. Dengan biasa mbambong menjadi bagian dari Kamtis Family, Outsiders, dan anak-anak Rasta yang biasa hidup dijalanan aku mencari arti kekeluargaan. Ganja, Zenith, Arak, Double L, adalah keseharianku ketika mengenal mereka. Bahkan dari situ aku banyak mengenal Bandar di kotaku sendiri.

Memang bagimana ceritamu ketika menjamah jalanan?

Tidur di berbagai tempat, makanan, minuman, rokok sisa, dan lain-lain biasa kami dapat dari sampah.
Sampah?

Ya. Bermula ketika Jogja, Malang, dan Surabaya yang menjadi pendaratakan kami setelah melihat konser Superman Is Dead dan Tony q Rastafara. Alkisah kami begitu kelaparan ketika Surabaya menghantui kami. Dan kami sepakat berjalan sampai perbatasan ke Surabaya kearah Gresik, sesampainya di Tugu Pahlawan kami melihat banyak tumpukan kotak nasi. Kami mencarinya sampai didalam sampah untuk mendapatkan sisa suapan dalam kotak makan berwarna putih. Memang awalnya aku merasa tidak enak, tapi mau bagaimanapun aku tetap makanan yang berhasil kami kumpulkan dari sampah.

Apakah kau menemukan arti kekeluargaan disana?

Saya sedikit mendapatkan apa arti mereka mengorbankan diri mereka untuk kita. Apalagi untuk urusan finansial yang katanya sangat penting itu tidak berlaku. Seolah uang yang ada adalah milik bersama. Tidak peduli berapa banyaknya uang yang saya, kamu, atau dia miliki. Tapi, seberapa berharga uangmu untuk 

saudaramu.

Lalu, kenapa kau sudah tidak pada dunia tersebut?

Kita tidak bisa mengesampingkan kompleksitas dari suatu perkara. Yang jelas semakin aku bersama siapapun, semakin aku sadar untuk hidup sendiri.

Apakah kau tidak pernah menemukan keluarga baru lagi?

Pernah.

Seperti apa?

Pernah saya tersesat disuatu daerah. Dan disana sedang berlangsung pengajian pada suatu surau. Alkisah saya mendekati surau tersebut dan sekilas mendengarkan bahwa saudara itu bisa terbentuk dari dua perkara, ikatan darah dan iman. Dan saudara yang terbentuk bukan dari ikatan darah katanya bisa lebih tinggi derajatnya.

Kamu membicarakan saudara atau keluarga?

Keluarga, saudara, rumah, adalah kompleksitas dalam satu paket.
Oh, pantas jika aku sering mendengar dalam film bahwa rumah adalah tempat kembali.

Ya. Seperti pada film Avenggers Infinity Wars dan Tomb Raiders yang bisa menyelsaikan permasalahannya saat mereka kembali ke rumah.

Aku juga ingat ketika Dom Torreto dalam film Fast And Furious ke lima, dia meminta imbalan kembali ke rumah saat misinya berhasil diselsaikan.

Tepat sekali.

Bagimana dengan keluarga barumu, dan keluargamu yang diikat oleh tali darah?
Aku tidak tertarik pada saudaraku yang terikat darah karena kita memiliki jalan yang berbeda. Sedang lain cerita dengan saudara yang diikatkan oleh iman saya lebih menyukainya.

Apakah tidak terdengar lebay?

Memang terdengar lebay dikalangan banyak telinga orang awam. Tapi jika saya telaah lebih jauh masih terdengar rasional.

Memang bagiamana persoalannya?

Seolah kita memilih jalan yang tidak banyak dilalui banyak orang. Secara rincinya kita membungkus ajaran agama yang kita percayai dalam pola kehidupan sehari-hari.

Mengapa kau masih tampak seperti bajingan?

Lantas apa salahnya aku menjadi bajingan? Dan rasanya Tuhan merahmati bajingan turun ke bumi, juga kepadaku.

Lantas apa yang kau keluhkan?

Aku banyak tidak menemukan apa yang kutemukan dijalanan. Entah dari sifat atau apapun itu. Walaupun aku sadar tidak bisa memukul rata kepada mereka.

Apakah jalanan tidak mengajarkanmu tentang pemakluman. Dan kenapa kau tidak mulai mengajak mereka dijalanan? Juga bukankah itu adalah kesetabilan dalam hal apapun yang berisi dari berbagai sisi. Gampangnya ada yang baik ataupun kurang baik.

Teori sederhana memang seperti itu adanya. Walaupun tidak berarti aku ada diposisi yang baik. Tapi,

Tapi apa lagi? Mungkin kau terlalu lelah sampai hal-hal sederhana semacam itu kau pusingkan. Mungkin kau terlalu suka membohongi dirimu sendiri untuk mentupi perkara agar mereka tidak mengetahuinya.

Mungkin seperti itu. Sedari dulu selalu kumencoba untuk tidak menyusahkan orang-orang disekitarku. Apalagi teman-temanku yang kuanggap sebagai saudara sendiri.

Itu salahmu sendiri. Lalu apa lagi?

Pernahkah kau mendengar penghiatan terbesar yang dilakukan saudaramu?

Tidak. Memang seperti apa?

Di saat kau mengatai saudaramu kepada orang lain.

Seperti itu? Lagi-lagi kau lelah, teman. Mungkin kalian masih belum saling kenal satu sama lain. Dan kalian hanya mengkampanyekan bahwa kalian adalah keluarga yang diikat dengan iman pembawa perubahan. Jika memang hal itu yang kau inginkan, maka jangan tuntut siapapun agar sepemikiran denganmu. Kau diam, maka tanggung segala konsekuensi yang akan kau terima. Dan yang kau inginkan adalah rasa tenang untuk kembali ke rumah yang sebenarnya.

Sebenarnya kau siapa seolah mengerti persoalan yang sedang kualami?

Aku? Aku adalah dirimu yang akan menuliskan naskah kesulitanmu mengartikan keluarga dalam percakapan film.



0 komentar:

Posting Komentar