Senin, 14 Januari 2019

Olokan Gombong Kepada Jokowi dan Prabowo Saat Bertamu

Sialnya, setelah Gombong hampir membuat adzan Muadzin terhenti dia datang ke rumah saya. Dan yang lebih sial, ketika masuk ke dalam rumah dia berkata bahwa Jokowi dan Prabowo adalah orang paling tidak tahu diri di Indonesia. "Prabowo dan Jokowi adalah dua orang paling tidak tahu diri tingkat nasional," celetuknya sambil mengacungkan jari keatas. Selain itu, dia menirukan gaya berjalan Aladeen setelah saya persilahkan masuk rumah. Tentunya sikapnya membuat saya terus mengumpat dalam hati, cok mbong, mbong!

Walaupun kejengkelan saya pada Gombong sangat tinggi, tapi saya yakin dia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Jadi, saya harus tetap menyambutnya sebagai seorang raja tamu. Dan saya hanya bisa menyuguhkan apa yang ada di lemari makan saya, yang sekaligus sebagai syarat untuk memulai obrolan.

"Mbong, apa kau ingat dengan pepatah Minangkabau di buku.." tanya saya yang langsung disela olehnya.
"Jangan sampai tamu mengalahkan tuan rumah, Madilog, Tan Malaka," jawabnya dengan berusaha menelan krupuk udang mentah.

"Apa kau tidak tifus membacanya?"

"Saya tahu, persoalan tamu ini menjadi hal serius yang perlu kita bicarakan," tutur Gombong.

***

Indonesia sedang ramai soal Tenaga Kerja Asing yang hampir mendominasi dan menyisihkan pribumi. Sempat viral juga postingan di Instagram yang bingung dia berada di negara mana, pasalnya, orang di sekelilingnya dominan orang Tiongkok, padahal dia ada di Indonesia. Menurut Presiden Serikat Karyawan, Mirah Sumirat, persoalan semacam ini sudah berjalan sejak agustus 2016 lalu. Selain itu dia juga menghawatirkan ada bahaya laten yang mengancam Indonesia bakal diakuisisi oleh asing. Pasalnya, rasio pekerja 1 untuk asing dan 10 untuk pribumi dan wajibnya berbahasa Indonesia bagi TKA sudah tidak diindahkan, dengan dihapusnya peraturan menteri tenaga kerja nomor 16 dan 35 tahun 2015. Juga; peraturan presiden nomor 20 tahun 2018 seolah mendukung TKA untuk menduduki Indonesia.

Emha Ainun Najib lebih sederhana dan mudah di pahami analoginya. Hal semacam ini diibaratkan kita kedatangan tamu, lama-lama tamu tersebut membeli beberapa bagian dari rumah kita, dan sampai kita menjadi babu di rumah kita sendiri.

Sejujurnya, walaupun saya tidak mengetahui secara pasti tapi hal ini yang saya rasakan. Memang pengetahuan akan hal ini saya dapat dari berita atau dari manapun,  tapi saya khawatir akan hal ini. Saya meyakini dari diri saya sendiri, akan ada peristiwa besar-besaran di Indonesia untuk menuju hari rayanya. Dan keyakinan ini sama sekali tidak dipengaruhi oleh Roy Kiyoshi yang mengatakan melihat asap, api, baliho berserakan di tengah jalan di 2019, tidak sama sekali.

Mungkin, kita sepaham bahwa chaos telah terjadi dimana-mana. Sudah sangat sedikit orang yang bisa saya percaya. Mengutip quote dari Fritjof Capra dalam Titik Balik Peradaban-nya, setelah kehancuran akan datang pembaharuan. Jadi, saya kira akan ada perombakan besar-besaran di Indonesia.

***

"Apa yang mendasarimu berkata seperti itu?"

"Menurut Ketua Pemuda Pancasila, Japto, banyak bangunan di perbatasan sana untuk menampung orang asing," jawab Gombong santai.

"Maksutnya?"

"Saya ini berbicara soal teori domino Cina yang ingin membangun kekuatan ekonomi di indonesia, yang orientasinya merebut tanah kita," jawabnya yang semakin membingungkan.

"Maksudmu Cina sebagai tamu yang akan menjadikan kita babu di tanah kita sendiri?" saya mencoba memastikan.

"Ya, semacam itu lah," jawabnya singkat sambil menyalakan rokok.

"Kau jangan asal bicara, nanti kau dikira makar dan tukang provokasi."

"Apa boleh buat, kita hanya ada didalam karangan," tutur Gombong.

***

Coba kita kembali fokus tentang membludaknya TKA yang menyingkirkan pribumi. Tentang desas desus bahwa ada indikasi tanah kita akan direbut asing. Bahwa, kita akan menjadi babu di tanah kita sendiri.

Sejujurnya, hal semacam ini pernah dilakukan Cina kepada Tibet. Mungkin, kita pernah mendengar tentang Dalai Lama ke-14 atau Tenzin Gyatso berhasil disingkirkan oleh Maosetung. Alkisah, Cina ingin menguasai Tibet dengan misi bernama Pembebasan Tibet. Misi tersebut bertujuan untuk merebut Tibet dan menjadikannya boneka cantik penghasil uang.

Mousetung memulai pembebasan bukan dengan cara mengirim tentara ke negeri atas angin tersebut. Tetapi, dengan mengirimkan tentara ke Tibet untuk bertani, berdagang, dan masuk ke sektor penting di Tibet bagi kader yang berkompeten. Lalu, waktu yang telah ditentukan pecah pada perang sipil di musim gugur, yang menghasilkan lengsernya Dalai Lama ke-14 dan digantikan pemimpin boneka. Jelas Tibet kalah dalam perang tersebut, karena sebagian besar tentara sudah menetapkan dan membanjiri di negaranya.

Setelah berkuasa dan memiliki peran penuh, mereka membangun infrastruktur penting di Tibet dengan dalih menarik wisatawan. Di mata negara lain seolah Cina berhasil membangun Tibet dengan baik, padahal yang terjadi regulasi uang kembali ke pimiliknya, yaitu Cina.

Nyatanya, beberapa media di Tibet melaporkan banyak dampak negatif bagi penduduk lokal yang disebabkan banyaknya pembangunan infrastruktur Cina, misalnya, Culture Trash : Tourism in Tibet (Tibet Watch). Budaya, sosial sampai agama dan keyakinan sudah tercemar oleh banyaknya pengaruh yang masuk ke Tibet. Dari laporan lain, nyatanya, penduduk lokal Tibet tidak dapat menikmati kekayaan alam mereka sendiri, dan paling parah penduduk lokal tidak memiliki kehendak di tanah mereka sendiri.

Dari secuil kisah diatas dan beberapa hal yang memiliki kesamaan, khawatirnya, akan kembali terjadi di Indonesia. Kebijakan pemerintah menerima proyek investasi yang alat, pikiran, materi, bahkan tenaga kerjanya dari Cina seolah memberikan peluang yang sangat besar untuk mengakuisisi.

Sangat disayangkan memang jika kebijakan pemerintah yang ditolong oleh peraturan bukan mensejahterakan rakyatnya, tapi malah kebalikannya. Dan sangat disayangkan bahwa janji presiden sekarang pada kampanye 2014 lalu, yang mengatakan akan menyediakan 10 juta lapangan pekerjaan tidak terealisasi. Secara detail memang saya tidak bisa memaparkan, tapi saya yakin di hati nurani kita lapangan pekerjaan di Indonesia untuk pribumi sangat sulit. Adapun juga pekerjaan yang kasar. Dan kita juga sering mendengar banyak lulusan universitas yang nganggur, apalagi yang tidak kuliah. Naas!

***

"Sekarang bagaimana, mbong?" tanya saya.

"Apanya yang bagaimana?" tanya Gombong balik.

"Ya asumsi bahwa kita akan menjadi babu di negara kita sendiri?"

"Ya, saya yakin, tanah kita bukan tanah sembaranga. Jadi siap-siap saja tuan rumah akan berani, itupun jika kita sudah menganggap ini adalah masalah bersama," jawab Gombong singkat.

"Terus, gini, mbong. Saya mau tanya, apakah Islam juga tamu?"

"Hmmm. Yang lagi ramai itu ya, soal demo gereja?"

"Iya, mbong."

"Itu persoalan lain, akan saya jawab setelah kita makan siang," tuturnya.

"Baik. Lalu, tadi kenapa tadi kamu mengatakan bahwa Jokowi dan Prabowo orang paling tidak tahu diri tingkat nasional?"

"Owalah. Tidak ada apa-apa. Saya cuma suka bikin ribut," jawabnya sambil nyengir.

"Oh, iya. Rumahmu boleh saya beli?" tanya Gombong yang membuat kita harus berantem terlebih dahulu.

0 komentar:

Posting Komentar