Sabtu, 12 Januari 2019

Gombong Menunggu Maghrib

Sejujurnya, saya sebagai masyarakat biasa geram dengan kelakuan cebongers, kampreters, wa akhwatuha. Dan saya adalah salah satu bagian dari masyarakat yang tidak akan pernah peduli dengan siapa yang menjadi presiden kelak. Rasa ketidakpedulian tersebut semakin membara ketika melihat cebong wa akhwatuha membuat guyonan politik yang magak, garing anjing!

Batalnya Mahfud menjadi pasangan Jokowi priode kedua, kotak suara kardus, KTP berceceran, Ratna Sarumpaet, netralitas KPU, dan pelintiran statement dari kedua belah pihak adalah guyonan yang saya maksud. Sedang untuk yang terbaru adalah soal debat, dan yang jarang disoroti orang yaitu Jusuf Kala seolah bukan wakil presiden lagi karena posisinya sudah digantikan Ma'ruf Amin. Naas!

Untungnya, di kala saya tidak bisa menikmati guyonan kedua kubu, saya teringat dengan Gombong. Dia adalah teman sebaya saya ketika masih mondok di Sunan Drajat, Lamongan. Alkisah dia mendapatkan nama Gombong karena gestur tubuhnya yang besar sedangkan kelakuannya seperti anak kecil. Selain itu topik pembicaraannya seolah dia adalah orang yang wah. Akhirnya, gede mblongor (Gombong) adalah nama yang pas dari teman-teman waktu itu. Misyu, mbong!

Walaupun banyak hal kurang baik yang melekat pada Gombong tidak menyurutkan saya untuk berteman dengannya. Tingkah laku dan celetuknya sering membuat perut saya kesal. Dan sopan-santunya saya kira melebihi pikirannya. Pernah suatu ketika kita berjalan bersama di desanya, dan dia selalu saling lempar senyum dengan warga sekitar. Hal itu juga menyurutkan bahkan menguras niatan orang untuk bertanya kepadanya apakah dia jago matematika ataupun fisika, apalagi argumentasi dan logika, mana mungkin!

***
Mahfud gagal menjadi calon presiden beberapa jam sebelum pengumuman pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019 mendatang. Padahal pihak istana sudah mengkonfirmasi Mahfud untuk mengukur baju. Namun, ternyata Ma'ruf yang resmi jadi dan membatalkan Mahfud. Dan ternyata, salah satunya, ada beberapa polemik dengan pihak Nahdlatul Ulama kata Mahfud.

Kisah serupa pernah saya jumpai di Universitas Trunojoyo Madura. Jadi, saya tidak kaget. Ceritanya seperti ini. Pertama kisah dibalik sebut saja Sokran batal menjadi calon presiden mahasiswa karena jika dia jadi maka akan membubarkan badan kelengkapan mahasiswa. Akhirnya, pihak rayon mengganti Sokran dengan yang menjadi presiden mahasiswa pada masanya.

Kisah lain yaitu terjadi di Fakultas Hukum universitas yang sama. Ceritanya ada pertarungan figur antara HMI dan PMII. Kedua kubu telah menyebar poster calon yang mereka usung untuk menjadi gubernur. Namun, ternyata, calon yang disebar PMII lewat story di media sosial adalah bayangan. Dan pada hari terakhir baru diumumkan pasangan calon resminya. Hemat saya, ini bukan tanpa sebab karena gerak tipu untuk mengelabui rival semacam ini masih lumrah. Dan pastinya pihak HMI kalang kabut menyusun strategi baru, yang pada akhirnya mereka gagal menduduki kursi gubernur.

Kisah terbaru yang terjadi di Fakultas Ilmu pendidikan di universitas yang sama. Alkisah pihak partai yang mendominasi di fakultas tersebut sudah menyiapkan siapa yang akan menjadi ketua dewan perwakilan mahasiswa fakultas, sebut saja aunty. Kabar dan isu sudah beredar, namun, bukan aunty yang mereka inginkan sebenarnya. Tapi, ada pihak lain yang akan menduduki kursi DPM nantinya.

Tiga kisah diatas hanya cuilan peristiwa yang kemungkinan besar terjadi di berbagai elemen. Entah itu di institusi pendidikan maupun sampai tingkat nasional. Coba kita tanya pada gombong.

***
Menguji netralitas komisi pemilihan umum menjadi tema pernah menjadi pembahasan di Indonesia Lawyer Club. Petahana kekeh dengan KPU sudah netral, independen, dan profesional. Sedang pihak oposisi meragukan delih petahana. Waktu itu tim oposisi berasumsi KPU adalah wasit yang berpihak. Mahfud memberikan closing statement dengan memberi dukungan kepada KPU agar kuat dengan kritikan pasti yang akan menimpa mereka. Selain itu soal kecurangan Mahfud juga menceritakan kasus-kasus yang terjadi ketika dia menjadi hakim. Lalu?

Soal kecurangan, KPUM yang tidak independen, wa akhwatuha. Seperti sengketa yang pernah ramai diperbincangkan di universitas yang sama. Alkisah gara-gara ada indikasi kecurangan dan angota KPUM yang tergabung dalam grup tim sukses salah satu paslon. Di universitas tersebut (UTM) pembentukan KPUM adalah kewenangan dari DPM, dan yang sering terjadi bahwa angota KPUM adalah dari golongan yang sama, yaitu dari salah satu bendera. Tidak mengherankan dengan demikian. Bagaimana caranya untuk berkuasa pasti dilakukan.

***

Saya, Udin, dan Ardi hendak sholat Ashar berjamaah. Alkisah tidak ada yang mau jadi Imam, mungkin lantaran sungkan. Namun, tiba-tiba dari belakang berjalan seorang menuju barisan kami. Dan betapa kagetnya saya ketika orang tersebut sudah di posisi Imam. Bukan karena dia mengambil alih, tapi orang tersebut adalah Gombong.

Pada rakaat kedua, kami bertiga hampir dibuat batal olehnya karena surat Al-khafirun yang dia baca tidak selesai-selesai. Karena sadar sudah lama terus berputar dengan ayat yang sama, akhirnya dia mengganti surat lain, yaitu Ar-rahman ayat pertama. Iya, satu ayat saja. Yah, gombong-gombong.

Tiba-tiba Gombong hilang saat kami hendak keluar dari masjid untuk melangsungkan pergantian ketua organisasi. Namun hal itu tidak terlalu menjadi beban pikiran saya. Sejujurnya kami bertiga lebih memikirkan siapa yang akan menjadi ketua organisasi kami kedepannya. Walaupun, sejujurnya, diantara kami bertiga tidak ada yang ingin dan terkesan menolak menjadi ketua.

Menurut kami, menjadi pimpinan tanggung jawabnya berlipat ganda, dan paling penting adalah tanggungan moral. Walaupun angota dari organisasi kami tidak sampai 20 orang. Alasan lain, mungkin, kami terbiasa dengan doktrin tidak gila jabatan. Dan kita tidak tahu mekanisme bisnis saat menjadi pimpinan organisasi. Dari sini, saya bingung alasan apa yang membuat petahana dan oposisi sampai mengupayakan berbagai cara agar menjadi menang di pemilu akbar april mendatang.

Mungkin, sederhananya yang ingin dicapai adalah perubahan oleh kedua kubu untuk Indonesia. Untuk hal ini sempat saya membuat riset kecil-kecilan, dari 32 orang yang mengisi form riset apakah harus menunggu menjadi presiden untuk membawa perubahan, 31 orang (97%) orang menjawab tidak, sedangkan 1 orang (3%) menjawab ya. Selain itu 26 orang (81%) berasumsi nasib mereka dan negaranya tidak bergantung pada presiden, sedangkan 6 orang (19%) nasibnya masih bergantung pada presiden.

Sejujurnya, tidak perlu jauh ke presiden. Untuk berbuat baik 81% orang sepakat tidak hanya manusia yang boleh berbuat baik, sisanya (19%) sepakat hanya manusia yang boleh berbuat baik. Jika persoalan harus tegas ataupun ulama juga tidak terlalu masalah. Berdasarkan data dari riset saya 84% persen beranggapan tidak harus kiai atau ulama yang menjadi presiden. Dan 69% beranggapan bahwa ketegasan juga tidak menjadi jaminan. Sampai sini, mungkin kita pernah mendengar statement seperti ini, "Jika kamu berbuat baik, orang tidak akan bertanya apa agamamu," Emha Ainun Najib.

***
Di luar ruangan Gombong kembali terlihat. Saat ini dia berulah dengan mengejek musyawarah anggota organisasi kami. Kami menolak bagaimana voting langsung dijadikan jalannya musyawarah untuk mufakat dalam demokrasi kami. Kami meyakini, sebelum bualan orang barat menggurui negara kami tentang demokrasi, Kalijogo sudah mengajarkannya. Sayangnya, nilai yang diajarkan Kalijogo termakan oleh bualan teori yang berdalih riset.

Jika kita mengamini dengan baik bagaimana asas yang hanya tertulis, luberjurdil, sudah tidak berlaku. Sekarang asas tersebut sudah memamerkan alat kelaminnya. Semua saling menunjukan alat kelaminnya di muka umum. Sial. Di tengah kebingungan kami, gombong juga memamerkan kelaminnya juga sambil diurut keatas kebawah. Mbong, mbong!

***
Setelah ngaji diniyah, Gombong pergi ke masjid untuk yasinan bersama santri lain sembari menunggu maghrib datang. Perut gombong memberontak karena lapar yang akhirnya mengganggu sistem kerja tubuhnya. Telinga, hidung, mata, dan syarafnya tidak stabil. Pikirannya juga kacau yang membuahkan pikiran-pikiran buruk. Terus saja dia menahan lapar dan dahaganya sampai yasinan selesai dan adzan maghrib berkumandang. Dia lebih tenang karena dia tahu habis maghrib akan datang. Sampai pada puncaknya dia berkata, "Indonesia menunggu maghrib, setelah ini kita bisa makan dengan tenang, tunggu saja," ucapnya yang membuat muadzin keselek dan hampir membuat adzannya terputus.

***
Tulisan ini terinspirasi dari sosok Gombong, banyak namun tak ada isi. Terimakasih, saya gombong gerung.

Btw, sebenarnya Gombong ini yang mana dan siapa, sih?










0 komentar:

Posting Komentar