Sabtu, 04 Maret 2017

DEMOKRASI IKAN.

Dewasa ini jarang saya menemukan iklan televisi tentang demokrasi. Padahal dulu iklan ini kan sangat Greget. Masih teringat olehku ketika calon pasangan SBY dan Hatta menyiarkan diberbagi televisi, kalian mungkin juga masih mengingatnya saat bocah loro (dua) kui bilang “Dari rakyat. Oleh rakyat dan untuk rakyat.” Ya toh, ya toh, kalian masih mengingatnya. Masih? Kalu tidak ingat mungkin kalian bukan anak jamanku, padahal kan enak jamanku. Kalau kembali pada tema pembicaraan dari mereka tadi merujuk pada Demokrasi. Memang kita tahunya kalau Indonesia itu menerapkan demokrasi. Bukan Tirani ataupun Monarki untuk saat ini. Ya, walaupun Indonesia pernah menerapkapkan sistem itu saat masih menjadi nusantara. Namun untuk saat ini dirasa (siapa yang merasa?) kalau Demokrasi adalah yang paling pas kalau diterapkan di Indonesia. Kalau tidak pas, kenapa bisa bertahan sampai saat ini. Yang jelas pas lah. Pas ya? Pas saja.

Akibat ulah SBY dan Hatta itu melekat sampai saat ini pada diri saya. Kalau dirimu? Peduli amat. Emangnya kamu siapa? Hehe gausah diambil hati bro, bohong kok. Tapi temenan.

Ya, kembali ke dua anak tadi. Jadi dampaknya seperti ini. Jadi gimana ya, susah mau dijelasinya. Langsung saja pada cerita dampaknya.
Alkisah beberapa minggu yang lalu masih ada Emak-emak yang mengeluh, perihal harga Cabai seperti harga permen. Seribu dapat dua. Busyet itu cabe beneran apa nano-nano ganti bentuk. Tapi kayaknya itu bukan nano-nano, itu beneran Cabai. Kalian juga nggak mungkin ketinggalan mengenai berita itu. Kalau nggak ngikuti berita mungkin langsung merasakan hambarnya makanan dirumah. Udah deh ngaku saja! Saya juga merasakanya kok. Santai saja kita seatap Indonesia. Sebenarnya apa penyebab harga Cabai mahal? Kenapa kenaikan harga Cabai itu pasti terjadi setiap tahunya? Ah, ini pertanyaan yang bagus. Siapa tadi yang nanya? Biar saya ajak ngopi. He tong, saya kasih tahu ya, kalau kamu nanya ke saya, terus saya nanya ke siapa? Pemerintah? Ah paling-paling mereka menyalahkan alam. Padahal nih ya kalau mereka menyalahkan alam sama saja dengan menyalahkan tuhan yang maha Esa. Hii serem.

Padahal nih ya kalau kita mencari diberbagai sumber, kalau kenaikan harga Cabai itu sudah diatur. Jangan tanya pasal berapa, soalnya tidak diatur dalam Undang-Undang. Memang pernah terjadi gagal panen sekitar 1 hektare disalah satu daerah. Namun sebenarnya itu tidak mempengaruhi harga cabai bisa melonjak sampai paling mahal 160.000.00. padahal biasanya ditempat saya sekilonya hanya 30-40 ribu saja. Kalau udah segitu naik berapa persen? Hitung aja sendiri. Intinya harga Cabai itu telah dimonopoli oleh berbagai oknum. Seperti pengepul dan lain sebagainya.. Pertanyaanya kenapa kenaikan seperti ini terus saja terjadi? Lantas buat apa dibuat lembaga pengawas inflasi kalau tidak bisa memberikan solusi? Buat apa hayoo.

Nggak hanya Cabai saja yang mengalami kenaikan. Contoh lainya adalah Padi. Kita sering melihat pada sekeliling kita, pada sekitar desa kita dan pada sekitar Indonesia pasti ada tanaman padi. Ya kan? Bahkan menjadi salah satu musim tanam yang ada di Indonesia. Ya toh? InsyaAllah. Tapi mengapa masih banyak petani yang memilih Padi yang mereka tanam untuk mereka makan sendiri? Mereka tidak menjualnya kepada masyarakat luas, tapi memilih untuk menikmati hasilnya sendiri. Dan masyarakat yang tidak menanam Padi malah menikmati Padi hasil import. Lah lah kok kayak gini sih? Mana yang katanya asas gotong royongnya sangat melekat pada setiap individu yang ada di Indonesia. Apa jangan-jangan penanam padi itu menanamkan sifat Demokrasi pada diri mereka. Padi darinya, olehnya dan untuknya. Kalau sudah seperti ini siapa yang mau disalahkan? Masih saja mau bergantung dengan barang import padahal kita memilikinya.? Kalau saya mau kalau saya punya banyak uang. Kalu elu tong, berapa uangmu?

Seperti halnya yang terjadi di tempat saya saat ini. Ceritanya saya adalah anak perantuan. Bukan antar provinsi atau negara. Cuma antar kota saja. Kota yang saya tempati saat ini terkenal akan garamnya. Madura. Kalian juga sering mendengarnya, jadi tak perlu saya menjabarkan terlalu jauh mengenai Madura. Hanya saja produksi garam di Madura mencapai sembilan ratus ribu sekian Ton pada 2016. Angka yang luar biasa memang. Tapi ada yang lebih luar biasa yaitu Indonesia masih import garam woy. Lalu garam yang di Madura tidak dijadikan garam konsumsi gitu. Karena tidak beryodium terus ditelantarkan gitu. Salah siapa juga yang memiliki kewengangan namun tidak memperhatikan garam yang ada di Madura. MasyaAllah nyebut tong. Sebenarnya masalah seperti ini menteri kita Susi pernah menyingungnya. Kenapa setiap petani garam panen diadakan import? “Saya juga merasa kalau dibalik semua ini ada kepentingan para seglintir importir.” Tambahnya. Benar tuh bu! Tenggelamkan saja. Kan kasihan juga para petani garam. Padahal sudah jelas dalam Undang Undang nomor 7 tahun 2016 soal perlindungan dan pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya ikan dan Petambak garam. Bisa dipidanakan tuh yang import sembarangan.

 Apa jangan-jangan para petani garam juga menanamkan nilai Demokrasi pada diri mereka masing-masing. Kalau memang benar, bisa jadi mereka menerapkan sistem DEMOKRASI IKAN. Garam dari laut yang banyak dihuni oleh ikan dan pada akhirnya, karena garam tidak dikonsumsi garamnya untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan. Wah wah banyak ya dampak dari demokrasi. Kalau sudah bengini sejenak luangkan waktu untuk mendegar musik dari JHF yang judulnya Cicak Nguntal Boyo.
Langkah kecil telah dimulai.
Dari bayi bernama Demokrasi.
Keadilan tak bisa ditawar lagi.
Kepastian hukum adalah harga mati.
Mungkin kita capek Revolusi.
Mungkin kita bosan demonstrasi.
Tapi jangan pernah berhenti.
Paling tidak tunjukan rasa peduli.
Untuk Indonesia yang kita cintai.

6 komentar:

  1. Wkwkwkwk.. Lumayan lucu. Tapi dilihat dulu, banyak typo, tong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jahat lu tong. typo cantum na komen kan apik :D

      Hapus
  2. Bagus. Gk monoton kata"nya sip 👌

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dek. saran untuk kedepanya kalo bisa :)

      Hapus
  3. Berani gak buat disetting komentar anonim boleh komen? Hahahaha

    BalasHapus