Dewasa ini jarang saya menemukan iklan televisi tentang
demokrasi. Padahal dulu iklan ini kan sangat Greget. Masih teringat olehku
ketika calon pasangan SBY dan Hatta menyiarkan diberbagi televisi, kalian
mungkin juga masih mengingatnya saat bocah loro (dua) kui bilang “Dari rakyat.
Oleh rakyat dan untuk rakyat.” Ya toh, ya toh, kalian masih mengingatnya.
Masih? Kalu tidak ingat mungkin kalian bukan anak jamanku, padahal kan enak
jamanku. Kalau kembali pada tema pembicaraan dari mereka tadi merujuk pada Demokrasi.
Memang kita tahunya kalau Indonesia itu menerapkan demokrasi. Bukan Tirani
ataupun Monarki untuk saat ini. Ya, walaupun Indonesia pernah menerapkapkan
sistem itu saat masih menjadi nusantara. Namun untuk saat ini dirasa (siapa
yang merasa?) kalau Demokrasi adalah yang paling pas kalau diterapkan di
Indonesia. Kalau tidak pas, kenapa bisa bertahan sampai saat ini. Yang jelas
pas lah. Pas ya? Pas saja.
Akibat ulah SBY dan Hatta itu melekat sampai saat ini pada
diri saya. Kalau dirimu? Peduli amat. Emangnya kamu siapa? Hehe gausah diambil
hati bro, bohong kok. Tapi temenan.
Ya, kembali ke dua anak tadi. Jadi dampaknya seperti ini.
Jadi gimana ya, susah mau dijelasinya. Langsung saja pada cerita dampaknya.
Alkisah beberapa minggu yang lalu masih ada Emak-emak yang
mengeluh, perihal harga Cabai seperti harga permen. Seribu dapat dua. Busyet
itu cabe beneran apa nano-nano ganti bentuk. Tapi kayaknya itu bukan nano-nano,
itu beneran Cabai. Kalian juga nggak mungkin ketinggalan mengenai berita itu.
Kalau nggak ngikuti berita mungkin langsung merasakan hambarnya makanan
dirumah. Udah deh ngaku saja! Saya juga merasakanya kok. Santai saja kita
seatap Indonesia. Sebenarnya apa penyebab harga Cabai mahal? Kenapa kenaikan
harga Cabai itu pasti terjadi setiap tahunya? Ah, ini pertanyaan yang bagus.
Siapa tadi yang nanya? Biar saya ajak ngopi.
He tong, saya kasih tahu ya, kalau kamu nanya ke saya, terus saya nanya ke
siapa? Pemerintah? Ah paling-paling mereka menyalahkan alam. Padahal nih ya
kalau mereka menyalahkan alam sama saja dengan menyalahkan tuhan yang maha Esa.
Hii serem.
Padahal nih ya kalau kita mencari diberbagai sumber, kalau
kenaikan harga Cabai itu sudah diatur. Jangan tanya pasal berapa, soalnya tidak
diatur dalam Undang-Undang. Memang pernah terjadi gagal panen sekitar 1 hektare
disalah satu daerah. Namun sebenarnya itu tidak mempengaruhi harga cabai bisa
melonjak sampai paling mahal 160.000.00. padahal biasanya ditempat saya
sekilonya hanya 30-40 ribu saja. Kalau udah segitu naik berapa persen? Hitung
aja sendiri. Intinya harga Cabai itu telah dimonopoli oleh berbagai oknum.
Seperti pengepul dan lain sebagainya.. Pertanyaanya kenapa kenaikan seperti ini
terus saja terjadi? Lantas buat apa dibuat lembaga pengawas inflasi kalau tidak
bisa memberikan solusi? Buat apa hayoo.
Nggak hanya Cabai saja yang mengalami kenaikan. Contoh
lainya adalah Padi. Kita sering melihat pada sekeliling kita, pada sekitar desa
kita dan pada sekitar Indonesia pasti ada tanaman padi. Ya kan? Bahkan menjadi
salah satu musim tanam yang ada di Indonesia. Ya toh? InsyaAllah. Tapi mengapa
masih banyak petani yang memilih Padi yang mereka tanam untuk mereka makan
sendiri? Mereka tidak menjualnya kepada masyarakat luas, tapi memilih untuk
menikmati hasilnya sendiri. Dan masyarakat yang tidak menanam Padi malah
menikmati Padi hasil import. Lah lah
kok kayak gini sih? Mana yang katanya asas gotong royongnya sangat melekat pada
setiap individu yang ada di Indonesia. Apa jangan-jangan penanam padi itu
menanamkan sifat Demokrasi pada diri mereka. Padi darinya, olehnya dan
untuknya. Kalau sudah seperti ini siapa yang mau disalahkan? Masih saja mau
bergantung dengan barang import
padahal kita memilikinya.? Kalau saya mau kalau saya punya banyak uang. Kalu
elu tong, berapa uangmu?
Seperti halnya yang terjadi di tempat saya saat ini.
Ceritanya saya adalah anak perantuan. Bukan antar provinsi atau negara. Cuma
antar kota saja. Kota yang saya tempati saat ini terkenal akan garamnya.
Madura. Kalian juga sering mendengarnya, jadi tak perlu saya menjabarkan
terlalu jauh mengenai Madura. Hanya saja produksi garam di Madura mencapai
sembilan ratus ribu sekian Ton pada 2016. Angka yang luar biasa memang. Tapi
ada yang lebih luar biasa yaitu Indonesia masih import garam woy. Lalu garam yang di Madura tidak dijadikan garam
konsumsi gitu. Karena tidak beryodium terus ditelantarkan gitu. Salah siapa
juga yang memiliki kewengangan namun tidak memperhatikan garam yang ada di
Madura. MasyaAllah nyebut tong. Sebenarnya masalah seperti ini menteri kita
Susi pernah menyingungnya. Kenapa setiap petani garam panen diadakan import? “Saya juga merasa kalau dibalik
semua ini ada kepentingan para seglintir importir.”
Tambahnya. Benar tuh bu!
Tenggelamkan saja. Kan kasihan juga para petani garam. Padahal sudah jelas
dalam Undang Undang nomor 7 tahun 2016 soal perlindungan dan pemberdayaan
Nelayan, Pembudidaya ikan dan Petambak garam. Bisa dipidanakan tuh yang import sembarangan.
Apa jangan-jangan
para petani garam juga menanamkan nilai Demokrasi pada diri mereka masing-masing.
Kalau memang benar, bisa jadi mereka menerapkan sistem DEMOKRASI IKAN. Garam dari laut yang banyak dihuni oleh ikan dan pada akhirnya, karena
garam tidak dikonsumsi garamnya untuk
mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan. Wah wah banyak ya dampak dari
demokrasi. Kalau sudah bengini sejenak luangkan waktu untuk mendegar musik dari
JHF yang judulnya Cicak Nguntal Boyo.
Langkah kecil telah dimulai.
Dari bayi bernama Demokrasi.
Keadilan tak bisa ditawar lagi.
Kepastian hukum adalah harga
mati.
Mungkin kita capek Revolusi.
Mungkin kita bosan demonstrasi.
Tapi jangan pernah berhenti.
Paling tidak tunjukan rasa
peduli.
Untuk Indonesia yang kita cintai.
Wkwkwkwk.. Lumayan lucu. Tapi dilihat dulu, banyak typo, tong.
BalasHapusjahat lu tong. typo cantum na komen kan apik :D
HapusBagus. Gk monoton kata"nya sip 👌
BalasHapusmakasih dek. saran untuk kedepanya kalo bisa :)
HapusSipp ja warai aku
BalasHapusBerani gak buat disetting komentar anonim boleh komen? Hahahaha
BalasHapus