Kamis, 11 Oktober 2018

Panggil Saja Shopia

”Panggil saja Shopia,” tutur perempuan di bibir pantai.

Alkisah, sore datang menghantarkan langkah kaki untuk mencium dan menjamah aroma atmosfer laut. Pantai Cemara Sewu menjadi rujukan bagi saya selain dekat dengan rumah, pantai ini cukup bisa mengikis penat dan menetralisir pikiran kotor. Selain berniat mencari senang, sedari awal juga berniat mencari objek untuk difoto.

Di lokasi saya banyak menjumpai beragam aktivitas yang dilakukan baik nelayan ataupun pengunjung. Dan diantara banyaknya pengunjung  saya melihat perempuan yang menyendiri di bibir pantai. Saya semakin dengan tertarik dengannya ketika lebih mendekat. Alhasil saya nimbrung dan bertukar cerita dengannya. Dan pada akhirnya saya mengetahui dia adalah sosok yang mencintai iklim laut.

Panggil saja Shopia, kalimat yang ragu diucapnya sebelum kami berpisah. Perempuan asli Medan yang sudah dua minggu berlibur di Tuban ketika saya temui. Liburan yang sekaligus menyambangi putranya yang bekerja di kota kelahiran saya. Hal itu adalah rutinitasnya ketika di tempat asalnya sedang tidak ada kerjaan. Dan Biasanya butuh sampai 2 minggu untuk kembali lagi ke tempat asalnya.

Perempuan berusia 75 tahun dengan kemargaan Purba ini terbiasa di laut. Seperti ketika saya menemuinya dengan setelan kebaya bermotif batik, penutup kepala dengan hiasan bros, anting, gelang di tangan kanan, dan tanpa alas kaki dia menikmati sore sembari mencari kerang. Sambil mengunyah sirih dia memasukan satu persatu kerang yang didapatnya. Saya banyak berbagi cerita dengannya sambil menikmati sore pada waktu itu. Dan setelah saya rasa akrab dan bisa mengambil hatinya, saya izin untuk mengambil fotonya.

Tidak banyak saya menjumpai sosok sepertinya. Walaupun umur sudah tua tapi untuk stamina menghianati rapunya umur. Terkahir menjumpai seperti Shopia sudah menutup umurnya di 103 tahun, dan dia adalah buyut saya. Dan rata-rata orang-orang semacam Shopia umurnya panjang karena pertama menjaga apa yang mereka makan. Seperti Shopia yang biasa makan apa-apa dari laut, entah itu ikan atau lainnya. Sedang  buyut saya terbiasa dengan sayuran dan mengurangi daging. Hal seperti ini seperti yang terjadi kepada kebanyakan orang di Jepang, umur mereka panjang-panjang karena mengurangi konsumsi makanan berbahan kimia.


Saya pribadi juga menyukai makanan yang berbau alam, khususnya dari laut. Saya lebih menyukai ikan daripada daging. Alasannya sederhana, daging entah ayam atau sapi adalah hasil yang mendapat campur tangan dari manusia. Baik dari makanan atau minumnya mendapat campur tangan dari manusia, dan kita sama-sama tahu apa-apa yang dipegang manusia tidak sepenuhnya baik misalnya, oksigen yang dari sang pencipta adalah gratis, sedang oksigen yang bertabung berbayar. Dan ikan yang dari laut tidak diberi makan atau minum lewat tangan manusia. Selain itu dari segi kandungan juga lebih baik ikan daripada daging. Mungkin ini bisa menjadi jawaban kenapa menteri kalautan kita menggemborkan untuk makan ikan, sedang menteri peternakan kita tidak mengkampanyekan makan makanan dari ternak. 

0 komentar:

Posting Komentar