”Panggil
saja Shopia,” tutur perempuan di bibir pantai.
Alkisah,
sore datang menghantarkan langkah kaki untuk mencium dan menjamah aroma
atmosfer laut. Pantai Cemara Sewu menjadi rujukan bagi saya selain dekat dengan
rumah, pantai ini cukup bisa mengikis penat dan menetralisir pikiran kotor. Selain
berniat mencari senang, sedari awal juga berniat mencari objek untuk difoto.
Di lokasi
saya banyak menjumpai beragam aktivitas yang dilakukan baik nelayan ataupun
pengunjung. Dan diantara banyaknya pengunjung saya melihat perempuan yang menyendiri di
bibir pantai. Saya semakin dengan tertarik dengannya ketika lebih mendekat. Alhasil
saya nimbrung dan bertukar cerita dengannya. Dan pada akhirnya saya mengetahui
dia adalah sosok yang mencintai iklim laut.
Panggil saja
Shopia, kalimat yang ragu diucapnya sebelum kami berpisah. Perempuan asli Medan
yang sudah dua minggu berlibur di Tuban ketika saya temui. Liburan yang
sekaligus menyambangi putranya yang bekerja di kota kelahiran saya. Hal itu
adalah rutinitasnya ketika di tempat asalnya sedang tidak ada kerjaan. Dan Biasanya
butuh sampai 2 minggu untuk kembali lagi ke tempat asalnya.
Perempuan berusia
75 tahun dengan kemargaan Purba ini terbiasa di laut. Seperti ketika saya
menemuinya dengan setelan kebaya bermotif batik, penutup kepala dengan hiasan
bros, anting, gelang di tangan kanan, dan tanpa alas kaki dia menikmati sore
sembari mencari kerang. Sambil mengunyah sirih dia memasukan satu persatu
kerang yang didapatnya. Saya banyak berbagi cerita dengannya sambil menikmati
sore pada waktu itu. Dan setelah saya rasa akrab dan bisa mengambil hatinya,
saya izin untuk mengambil fotonya.
Tidak banyak
saya menjumpai sosok sepertinya. Walaupun umur sudah tua tapi untuk stamina
menghianati rapunya umur. Terkahir menjumpai seperti Shopia sudah menutup
umurnya di 103 tahun, dan dia adalah buyut saya. Dan rata-rata orang-orang
semacam Shopia umurnya panjang karena pertama menjaga apa yang mereka makan. Seperti
Shopia yang biasa makan apa-apa dari laut, entah itu ikan atau lainnya. Sedang buyut saya terbiasa dengan sayuran dan
mengurangi daging. Hal seperti ini seperti yang terjadi kepada kebanyakan orang
di Jepang, umur mereka panjang-panjang karena mengurangi konsumsi makanan
berbahan kimia.
Saya pribadi
juga menyukai makanan yang berbau alam, khususnya dari laut. Saya lebih
menyukai ikan daripada daging. Alasannya sederhana, daging entah ayam atau sapi
adalah hasil yang mendapat campur tangan dari manusia. Baik dari makanan atau
minumnya mendapat campur tangan dari manusia, dan kita sama-sama tahu apa-apa
yang dipegang manusia tidak sepenuhnya baik misalnya, oksigen yang dari sang
pencipta adalah gratis, sedang oksigen yang bertabung berbayar. Dan ikan yang
dari laut tidak diberi makan atau minum lewat tangan manusia. Selain itu dari
segi kandungan juga lebih baik ikan daripada daging. Mungkin ini bisa menjadi
jawaban kenapa menteri kalautan kita menggemborkan untuk makan ikan, sedang
menteri peternakan kita tidak mengkampanyekan makan makanan dari ternak.

0 komentar:
Posting Komentar