Isu dan topik
pembicaraan apa yang paling asik diperbincangkan dan bertahan lama di Indonesia
kalau tidak pertarungan politik Jokowi dengan Prabowo beserta kampret dan
cebong yang menyertai mereka. Isu selain yang tidak berkutat pada mereka sangat
banyak, toh isu belum selesai kadang
sudah muncul pengalihan isu. Namun, tidak akan bertahan lama di kalangan
masyarakat. Dan kadang ada isu lain pun bermuara kepada entah Prabowo atau
Jokowi, misalnya, islamphobia versi Fadli Zon saat Bahar bin Smith ditetapkan
sebagai tersangka, reuni 212 yang bernuansa #2019gantipresiden, Prabowo yang
bekrjasama dengan pihak asing, dan masih banyak lagi. Isu lain? Ra mashok!
Bahkan,
saking antuasianya masyarakat berkat media, hal receh berupa salah ucap dari
Jokowi dan Prabowo bisa berbuah fatal yang bisa mengantarkan pada asumsi-asumsi
aneh, seperti perkara yang menimpanya pada awal oktober di Medan, soal
Al-fatihah menjadi Al-fatehah. Sederhana namun fatal. Sedangkan yang terjadi
pada Prabowo ketika berpidato di reuni 212, ketika ia salah ucap Sallaallahu hulaihi wassalam yang
seharusnya Sallaahu Alaihi Wassalam. Pernah
ramai juga pada masanya istilah Sontoloyo
dan Genderuwo. Naas!
Dan gara-gara
mereka berdua saya teringat dengan kisah persahabatan Owo dengan Owi Kobra dengan Piton. Kisah persahabatan yang
hanya bisa terjadi didalam cerita tersebut saya rasa banyak pesan yang dapat
diambil hikmahnya.
###
Alkisah,
pada zaman dahulu (biar kayak dongeng-dongeng, getoh!) hiduplah dua penyendiri,
Piton dan Kobra. Pada suatu hari, tanpa disengaja, ditengah alas
Purwo Piton dan Kobra bertemu. Kala itu mereka sama-sama habis mencari
makan, diketahui Piton habis makan sepasang kelinci yang sedang bersemesraan,
sedangkan Kobra makan Katak sambil membawa korek menuju pom bensin. Awal pertemua
mereka mendatangkan mendung dengan sedikit pentir. Mereka saling tatap satu sama
lain cukup lama sampai mereka ketiduran salah satu dari mereka memulai angkat bicara.
”Siapa
kamu?” tanya Piton mengawali pembicaraan.
”Saya
Kobra, pemilik racun kelas menengah disini. Kamu?” tanya balik Kobra.
”Saya
Piton, kemampuanku melilit dikelas tengah,” jawab Piton.
”Jangan-jangan
keahlianmu kalah dengan santet disini?” tabak Kobra.
”Kok tahu?”
heran Piton.
”Iya. Karena
racunku juga kalah dengan santet disini,” ujar Kobra sambil meneteskan air
mata.
Dari kesedihan
se-frekuensi itulah mereka semakin akrab, sampai resmi menjadi sahabat pada
tanggal 19 April. Peresmian persabahabatan mereka ditandai dengan saling tukar
hasil tangkapan pada hari itu untuk dimakan bersama sambil berbincang-bincang. Dan
tradisi 19 April menjadi acara rutinan mereka untuk bertemu.
Pada bulan
ketiga, mereka kembali bertemu. Tema pembicaraan waktu itu adalah cara mereka
melumpuhkan mangsanya.
”Btw,
bagaimana kamu melumpuhkan Rusa ini,” tanya Kobra sambil memakan daging Rusa
balado yang dibawa Piton.
”Tidak
terlalu sulit, setelah berhasil mengigit salah satu bagian tubuhnya, aku
lilitkan tubuhku ke seluruh tubuhnya sampai tidak bisa bergerak. Setelah dia
semakin lemas baru saya telan, dan selanjutnya saya serahkan kepada sistem
pencernaan tubuhku,” jawab Piton dengan bangga.
”Kau memang
ahli dalam itu, tapi saya yakin kamu tak akan bisa melilit Cacing ataupun
Laron,” celetuk Kobra.
”Berantem
saja yuk!” ajak Piton yang membuat Kobra harus terpaksa tertawa untuk meredakan
suasana.
”Seharusnya
kau bertanya balik bagaimana caraku melumpuhkan mangsa,” jengkel Kobra setelah
beberapa jam mereka terdiam.
”Oh, iya. aku
lupa naskahnya. Lalu, bagaimana denganmu melumpuhkan lawan?” tanya Kobra
setelah bingung mau ngomong apa.
”Kalau aku
lebih keren darimu. Setelah saya mematuk mangsaku sambil menyemprotkan racun
yang kumiliki, saya ngrokok dulu sambil menunggu mangsaku mati. Setelah mati
baru saya makan,” pamer Kobra.
”Kau memang
juaranya. Tapi aku yakin kamu tidak akan bisa meracuni Megalodon,” celetuk
Piton yang membuat Kobra tertawa karena di comeback
olehnya. Dan setelah itu mereka tertawa bersama.
Namun, pada
bulan ke delapan mereka dilanda kebosanan saat melakukan pertemuan. Sampai
terjadi kesepakatan diantara mereka berdua.
”Eh, aku
bosan melilit terus,” ucap Kobra.
”Sama, saya
bosan menjadi pemburu professional,” timpal Kobra sombong.
”Bagaimana
kalau kita bertukar cara melumpuhkan musuh?” Tambah Kobra.
”Sepertinya
menarik,” respon Piton dengan antusias.
Akhirnya mereka
menyepakati aturan baru selama sebulan mendatang. Dan esoknya aturan itu mulai
berlaku.
Hari yang
dinantikan tiba. Di belahan tempat berbeda, mereka semangat memulai harinya
dengan mencari sarapan. Di ketahui bahwa Kobra membuka hari dengan melilit
cebong, namun gagal. Mungkin masih pertama pikirnya sehingga kurang ampuh. Sedangkan
Piton membuka hari dengan mematuk kampret, namun setelah dipatuk dan ngerokok
sebatang, kampretnya masih terbang bebas. Mungkin masih awal, pikirnya.
Menjelang
sore mereka masih tidak membuahkan hasil.
Dan perburuan dilanjutkan esok
harinya, namun masih sama seperti kemarin. Terpaksa mereka berdua hanya minum
air di hari kedua tanpa makan. Terus saja seperti itu. Sempat ada keingingan
untuk saling bertemu dengan menceritakan tidaknya efisien peraturan yang
dibuat, namun mereka terkenal dengan gensi yang tinggi. Akhirnya tidak jadi.
Sampailah pada
hari ke delapan, mereka ditemukan mati. Dan mereka sama-sama tidak tahu jika
sudah mati. Pertemuan bulanan pun tidak akan pernah terjadi lagi. Tamat!

0 komentar:
Posting Komentar