Senin, 10 Desember 2018

Jokowi - Prabowo dengan Piton - Kobra

 Isu dan topik pembicaraan apa yang paling asik diperbincangkan dan bertahan lama di Indonesia kalau tidak pertarungan politik Jokowi dengan Prabowo beserta kampret dan cebong yang menyertai mereka. Isu selain yang tidak berkutat pada mereka sangat banyak, toh isu belum selesai kadang sudah muncul pengalihan isu. Namun, tidak akan bertahan lama di kalangan masyarakat. Dan kadang ada isu lain pun bermuara kepada entah Prabowo atau Jokowi, misalnya, islamphobia versi Fadli Zon saat Bahar bin Smith ditetapkan sebagai tersangka, reuni 212 yang bernuansa #2019gantipresiden, Prabowo yang bekrjasama dengan pihak asing, dan masih banyak lagi. Isu lain? Ra mashok!

Bahkan, saking antuasianya masyarakat berkat media, hal receh berupa salah ucap dari Jokowi dan Prabowo bisa berbuah fatal yang bisa mengantarkan pada asumsi-asumsi aneh, seperti perkara yang menimpanya pada awal oktober di Medan, soal Al-fatihah menjadi Al-fatehah. Sederhana namun fatal. Sedangkan yang terjadi pada Prabowo ketika berpidato di reuni 212, ketika ia salah ucap Sallaallahu hulaihi wassalam yang seharusnya Sallaahu Alaihi Wassalam. Pernah ramai juga pada masanya istilah Sontoloyo dan Genderuwo. Naas!

Dan gara-gara mereka berdua saya teringat dengan kisah persahabatan Owo dengan Owi Kobra dengan Piton. Kisah persahabatan yang hanya bisa terjadi didalam cerita tersebut saya rasa banyak pesan yang dapat diambil hikmahnya.

###

Alkisah, pada zaman dahulu (biar kayak dongeng-dongeng, getoh!) hiduplah dua penyendiri, Piton dan Kobra. Pada suatu hari, tanpa disengaja,  ditengah alas Purwo Piton dan Kobra bertemu. Kala itu mereka sama-sama habis mencari makan, diketahui Piton habis makan sepasang kelinci yang sedang bersemesraan, sedangkan Kobra makan Katak sambil membawa korek menuju pom bensin. Awal pertemua mereka mendatangkan mendung dengan sedikit pentir. Mereka saling tatap satu sama lain cukup lama sampai mereka ketiduran salah satu dari mereka memulai angkat bicara.

”Siapa kamu?” tanya Piton mengawali pembicaraan.

”Saya Kobra, pemilik racun kelas menengah disini. Kamu?” tanya balik Kobra.

”Saya Piton, kemampuanku melilit dikelas tengah,” jawab Piton.

”Jangan-jangan keahlianmu kalah dengan santet disini?” tabak Kobra.

”Kok tahu?” heran Piton.

”Iya. Karena racunku juga kalah dengan santet disini,” ujar Kobra sambil meneteskan air mata.

Dari kesedihan se-frekuensi itulah mereka semakin akrab, sampai resmi menjadi sahabat pada tanggal 19 April. Peresmian persabahabatan mereka ditandai dengan saling tukar hasil tangkapan pada hari itu untuk dimakan bersama sambil berbincang-bincang. Dan tradisi 19 April menjadi acara rutinan mereka untuk bertemu.

Pada bulan ketiga, mereka kembali bertemu. Tema pembicaraan waktu itu adalah cara mereka melumpuhkan mangsanya.

”Btw, bagaimana kamu melumpuhkan Rusa ini,” tanya Kobra sambil memakan daging Rusa balado yang dibawa Piton.

”Tidak terlalu sulit, setelah berhasil mengigit salah satu bagian tubuhnya, aku lilitkan tubuhku ke seluruh tubuhnya sampai tidak bisa bergerak. Setelah dia semakin lemas baru saya telan, dan selanjutnya saya serahkan kepada sistem pencernaan tubuhku,” jawab Piton dengan bangga.

”Kau memang ahli dalam itu, tapi saya yakin kamu tak akan bisa melilit Cacing ataupun Laron,” celetuk Kobra.

”Berantem saja yuk!” ajak Piton yang membuat Kobra harus terpaksa tertawa untuk meredakan suasana.

”Seharusnya kau bertanya balik bagaimana caraku melumpuhkan mangsa,” jengkel Kobra setelah beberapa jam mereka terdiam.

”Oh, iya. aku lupa naskahnya. Lalu, bagaimana denganmu melumpuhkan lawan?” tanya Kobra setelah bingung mau ngomong apa.

”Kalau aku lebih keren darimu. Setelah saya mematuk mangsaku sambil menyemprotkan racun yang kumiliki, saya ngrokok dulu sambil menunggu mangsaku mati. Setelah mati baru saya makan,” pamer Kobra.

”Kau memang juaranya. Tapi aku yakin kamu tidak akan bisa meracuni Megalodon,” celetuk Piton yang membuat Kobra tertawa karena di comeback olehnya. Dan setelah itu mereka tertawa bersama.

Namun, pada bulan ke delapan mereka dilanda kebosanan saat melakukan pertemuan. Sampai terjadi kesepakatan diantara mereka berdua.

”Eh, aku bosan melilit terus,” ucap Kobra.

”Sama, saya bosan menjadi pemburu professional,” timpal Kobra sombong.

”Bagaimana kalau kita bertukar cara melumpuhkan musuh?” Tambah Kobra.

”Sepertinya menarik,” respon Piton dengan antusias.

Akhirnya mereka menyepakati aturan baru selama sebulan mendatang. Dan esoknya aturan itu mulai berlaku.

Hari yang dinantikan tiba. Di belahan tempat berbeda, mereka semangat memulai harinya dengan mencari sarapan. Di ketahui bahwa Kobra membuka hari dengan melilit cebong, namun gagal. Mungkin masih pertama pikirnya sehingga kurang ampuh. Sedangkan Piton membuka hari dengan mematuk kampret, namun setelah dipatuk dan ngerokok sebatang, kampretnya masih terbang bebas. Mungkin masih awal, pikirnya.

Menjelang sore mereka masih tidak membuahkan hasil. 
Dan perburuan dilanjutkan esok harinya, namun masih sama seperti kemarin. Terpaksa mereka berdua hanya minum air di hari kedua tanpa makan. Terus saja seperti itu. Sempat ada keingingan untuk saling bertemu dengan menceritakan tidaknya efisien peraturan yang dibuat, namun mereka terkenal dengan gensi yang tinggi. Akhirnya tidak jadi.

Sampailah pada hari ke delapan, mereka ditemukan mati. Dan mereka sama-sama tidak tahu jika sudah mati. Pertemuan bulanan pun tidak akan pernah terjadi lagi. Tamat!


0 komentar:

Posting Komentar